Pecah Kongsi Walikota dan Wakilnya, Terendus Pinjaman Rp20 Miliar untuk Kampanye
Cirebon, PutraBhayangkara.id – Hubungan Walikota Cirebon, Efendi Edo, dengan Wakil Walikota, Farida, dikabarkan retak. Pecah kongsi ini mencuat setelah muncul isu pinjaman dana sebesar Rp20 miliar yang diduga digunakan untuk kebutuhan kampanye serta tim sukses pada masa pencalonan lalu.
Menurut informasi yang beredar, Walikota Efendi Edo membantah menerima utuh dana sebesar itu. “Saya hanya menerima sekitar Rp7 miliar, sisanya urusan tim sukses. Silakan tagih saja ke mereka,” ujar Walikota seperti disampaikan dalam sejumlah informasi yang beredar.
Dampak dari persoalan dana ini disebut berimbas pada kurang harmonisnya kinerja Pemerintah Kota Cirebon. Pengamat politik lokal, Siswandi, menilai fenomena ini sudah lazim terjadi. “Menjadi kepala daerah memang membutuhkan biaya besar untuk bisa menang dalam kontestasi politik. Namun persoalannya, bagaimana membangun kota jika sejak awal sudah terbebani utang politik?” tegasnya.
Kasus ini semakin memanas setelah seorang pengusaha bernama Haji Handoyo, yang disebut sebagai pemberi pinjaman Rp20 miliar tersebut, melaporkannya ke Polda Jabar. Laporan yang dilayangkan mencakup dugaan penipuan dan penggelapan dengan terlapor Walikota Efendi Edo.
Siswandi menambahkan, kasus ini harus diungkap secara terang benderang agar Cirebon bersih dari praktik korupsi dan nepotisme. “Jangan sampai proyek-proyek daerah hanya menjadi bancakan antara Walikota dan Wakilnya. Audit investigasi seluruh proyek yang sudah diketok pemerintah kota perlu dilakukan,” ujarnya.
Publik berharap Kota Cirebon, yang dikenal sebagai “Kota Udang”, tidak ternoda oleh adanya “udang di balik batu” dalam penyelenggaraan pemerintahan.
(Red. MPB)
