September 25, 2026

Jelang 2026, Priyono Ingatkan Bahaya Bangsa Kehilangan Arah: Jika Budaya Ditinggalkan, Indonesia Tinggal Nama

Opini Nasional Media Putra Bhayangkara, Menjelang tahun 2026, Priyono, A.Md, SH, S.Sos, Pemimpin Umum Media Group Putra Bhayangkara, Detektif, Radar Energi, dan Radio Putra Bhayangkara, melontarkan peringatan keras kepada seluruh elemen bangsa: Indonesia sedang berada di titik rawan kehilangan jati diri jika budaya dan nilai luhur terus dikorbankan oleh kepentingan sesaat dan euforia kekuasaan.
Menurut Priyono, konflik sosial, polarisasi politik, serta degradasi etika di ruang publik bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Semua itu adalah gejala dari tergerusnya nilai budaya, adat istiadat, dan budi pekerti luhur yang selama ini menjadi fondasi kebangsaan.
“Ketika budaya tidak lagi dijadikan rujukan, hukum kehilangan wibawa, politik kehilangan etika, dan kekuasaan kehilangan nurani. Saat itulah bangsa ini hanya tinggal nama besar tanpa isi,” tegasnya.
Ia menilai bahwa Pancasila dan Lambang Garuda semakin sering dipajang sebagai simbol, namun semakin jarang dijalankan sebagai pedoman. Dalam praktik bernegara, nilai persatuan kerap dikalahkan oleh kepentingan elektoral, transaksi kekuasaan, dan narasi adu domba yang dibiarkan tumbuh subur.
“Garuda Pancasila bukan alat legitimasi kekuasaan, melainkan kompas moral. Jika kompas ini diabaikan, arah bangsa akan dikendalikan oleh kepentingan sempit,” ujar Priyono.
Priyono juga menyoroti ruang digital dan media sosial yang seharusnya menjadi sarana edukasi publik, namun justru sering berubah menjadi arena pembelahan sosial. Ia menilai lemahnya keteladanan elit dan pembiaran terhadap narasi provokatif membuat masyarakat terjebak dalam konflik horizontal yang berulang.
“Bangsa yang besar tidak membiarkan rakyatnya saling mencaci demi kepentingan politik jangka pendek. Elite wajib memberi contoh, bukan menyalakan api,” katanya.
Dalam konteks kebhinekaan, Priyono mengingatkan bahwa Bhinneka Tunggal Ika sedang diuji secara nyata. Perbedaan suku, agama, dan budaya kerap diperalat sebagai senjata politik, bukan dirawat sebagai kekuatan nasional.
Ia menyerukan agar menjelang 2026, negara dan masyarakat melakukan koreksi arah secara serius—mengembalikan budaya dan adat istiadat sebagai landasan kebijakan publik, pendidikan, serta komunikasi politik.
“Indonesia tidak akan menjadi Macan Asia karena gaduh dan gaduh. Indonesia akan disegani karena karakter bangsanya kuat, budayanya hidup, dan rakyatnya beradab,” tegasnya.
Priyono menutup opininya dengan seruan tegas kepada seluruh lapisan masyarakat agar tidak menjadi penonton dari kemerosotan nilai, tetapi menjadi penjaga akal sehat bangsa.
“Jika 2026 masih diisi dengan politik adu domba dan budaya saling merendahkan, maka kita sedang menyiapkan krisis yang lebih besar.
Saatnya kembali ke jati diri, atau kita akan kehilangan Indonesia itu sendiri.”
(redaksi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *