Pekanbaru dari kota bertuah menjadi kota sampah
Pekanbaru putra bhayangkara – Pekanbaru sebagai ibukota Provinsi Riau yang dulu dikenal sebagai kota bertuah, saat ini tengah menghadapi ancaman serius terhadap citranya, keadaan ini karena dampak dari sampah yang menumpuk di jalan jalan, di pasar dan kawasan pemukiman, dan ditambah dengan saluran drainase yang tidak berfungsi dengan baik, keadaan ini membuat sebagian masyarakat menjuluki kota ini sebagai kota sampah, penumpukan sampah bisa kita lihat dijalan Khaharudin Nasution, dijalan Arifin Ahmad, dan hampir semua jalan di setiap sudut kota,
Masalah sampah tidak lagi sekedar masalah kecil, melainkan sudah menjadi krisis lingkungan yang mencoreng wajah kota, penumpukan sampah hampir ada disetiap penjuru kota, mulai dari kawasan padat penduduk hingga ke pusat perbelanjaan, warga mengeluhkan bau busuk, pemandangan yang tidak sedap dan resiko timbulnya penyakit akibat buruknya pengelolaan sampah.
Oleh sebagian masyarakat, pemerintah kota dinilai gagal mengelola, karena ketidak mampuan dalam mengelola sampah menjadi sorotan utama, belum lagi armada pengangkut sampah yang tidak memadai, Tempat Pembuangan Akhir ( TPA) penuh, hingga minimnya inovasi dalam pengelolaan limbah sampah, menjadi penyebab utama krisis ini, disisi lain yang juga menjadi perhatian warga, adalah anggaran yang dianggap tidak digunakan secara efektif,
Selain ketidak siapnya pengelolaan sampah oleh Pemerintah, tidak juga bisa dipungkiri faktor kesadaran masyarakat juga menjadi bagian dari persoalan, kebiasaan buruk masyarakat membuang sampah di sembarang tempat, dan minimnya upaya memilah milah sampah ditingkat rumah tangga, bisa semangkin memperparah situasi. Namun sejauh ini banyak masyarakat merasakan kurangnya perhatian Pemerintah dalam memberikan edukasi, atau fasilitas yang memadai, seperti mendukung masyarakat dalam pengelolaan sampah berbasis komunitas, seperti pendirian Bank Sampah di tiap Kelurahan, dan pengadaan atau penyediaan tong sampah di areal pemukiman, dan ditempat umum,
Masyarakat kota Pekanbaru, mengharapkan kepada Walikota yang baru bekerjasama dengan melibatkan Perguruan Tinggi , bisa memberikan solusi berupa memberikan pelatihan cara pengelolaan sampah berbasis teknologi, dan selain itu Pemerintah Kota diharapkan adanya penambahan anggaran, penambahan armada, peningkatan Sumber Daya Manusia nya, dan peningkatan kesehatan, peningkatan tingkat kesejahteraan petugas kebersihan,
Jika nantinya tidak ada tindakan nyata dan tegas dari semua pihak, kota Pekanbaru beresiko menjadi kota yang identik dengan kota sampah, tidak ada lagi yang bisa dibanggakan masyarakatnya, dan pada intinya masyarakat kota Pekanbaru berharap Wali Kota yang baru bisa bertindak cepat, sebelum kondisi ini semakin parah, karena krisis sampah bukan hanya masalah estetika, tetapi juga bisa menjadi ancaman kesehatan, ekonomi dan masa depan kota.
teguh mpb riau
