September 25, 2026

Dari Balik Tembok ke Tengah Masyarakat: Saat Pemasyarakatan Tak Lagi Jauh dari Publik

Balige – Kamis 31 Juli 2025

Tak banyak yang membayangkan, bahwa di balik jeruji dan dinding beton, ada semangat hijau yang diam-diam tumbuh. Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Balige membuktikan, bahwa pembinaan warga binaan bukan hanya soal disiplin dan tata tertib, tetapi juga soal nilai hidup, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Kamis, 31 Juli 2025, deru langkah para petugas dan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) menggema menyusuri tepian Sungai Aek Simate-Mate. Dengan seragam kerja dan semangat gotong royong, mereka bahu membahu membersihkan sungai yang tak hanya menjadi nadi lingkungan, tapi juga wajah kota Balige menjelang gelaran event internasional F1H2O.

Di tengah isu-isu klasik tentang overkapasitas lapas, minimnya sarana pembinaan, dan stigma terhadap eks napi, aksi Rutan Balige ini tampil sebagai anomali yang membanggakan. Tidak lagi eksklusif di dalam pagar kawat berduri, tapi aktif menjalin simpul kerja sosial dengan kelurahan dan warga.

> “Kami tidak hanya bicara pembinaan di balik tembok, tetapi juga kontribusi nyata di ruang publik,” tegas Kepala Rutan Balige, David Nicolas.

Pernyataan ini tak bisa dianggap biasa. Ia adalah penegasan bahwa lembaga pemasyarakatan bukan hanya tempat menjalani hukuman, tetapi juga ruang perubahan dan integrasi sosial yang aktif. Rutan Balige tak sedang membina narapidana semata, mereka sedang merajut kepercayaan masyarakat.

Kegiatan ini bukan yang pertama. Tapi di momen menjelang F1H2O, dunia seolah sedang menoleh ke Danau Toba, dan pada saat yang sama, ke para WBP yang memungut plastik dari sungai, mencabut rumput liar, dan memperbaiki citra yang selama ini terlanjur miring.

Lurah Pardede Onan, Erika Siringoingo, memberi apresiasi yang kuat terhadap kontribusi ini. Warga pun mulai melihat bahwa jeruji tak selalu identik dengan masalah, tapi juga bisa jadi cermin perubahan. Satu langkah kecil di sungai bisa jadi satu lompatan besar dalam membangun kembali kepercayaan publik.

Rutan Balige sedang menulis ulang narasi pemasyarakatan. Dari tempat hukuman menjadi ruang edukasi. Dari institusi tertutup menjadi mitra lingkungan. Dari stigma menjadi sinergi.

Dan siapa sangka, bahwa pahlawan lingkungan di pinggiran Danau Toba hari itu, datang dari balik tembok tinggi?

#RubageKeras.
Responsif. Edukatif. Amanah. Kolaboratif. Sinergis.
Bukan sekadar slogan, tapi aksi.

Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *