Sosok Polisi Inspiratif Berhati Malaikat, IPDA Bon Ali
putrabhayangkara.id 29/01/25 – IPDA Nur Ali Suwandhi, sosok polisi inspiratif Polda DIY yang dikenal dengan nama Bon Ali telah menyediakan 8 rumah singgah untuk anak yatim, telantar, hingga anak dari napiter dan eks napiter.
Dari 8 rumah singgah yang dibangun, 3 di antaranya sudah berstatus hak milik yayasan yang ia dirikan, Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang berada di Kotagede, Yogya. Sedangkan 5 rumah lain masih berstatus kontrak.
Tak hanya menyediakan tempat tinggal untuk anak yatim dan telantar, melalui dengan bantuan donatur dari berbagai pihak Bon Ali dan Yayasannya juga telah membangun 19 masjid.
Masjid-masjid ini mayoritas berada di wilayah-wilayah terpencil di pegunungan, mulai dari Gunungkidul, Kulon Progo, Sleman, hingga Jawa Timur.
“Terakhir kami membangun masjid Ka’bah, bentuknya seperti Ka’bah, berada di pucuk gunung yang sangat tinggi di Mertelu, Gedangsari, Gunungkidul,” ujar Bon Ali.
Bon Ali sampai kini belum punya rumah pribadi, ia mengaku masih ikut istri dan menumpang di rumah mertua.
“Sampai saat ini saya terus terang belum punya rumah, makanya masih ikut istri, numpang” Ujarnya sambil tertawa
Kini, ada sekitar 110 anak yatim, telantar, anak napiter yang tinggal di Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai. Anak-anak itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti DIY, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jakarta, hingga Sumatra.
IPDA Bon Ali mengaku selama 12 tahun, Ia tidak mengambil gajinya, semuanya Ia infaqkan untuk kemanusiaan. Sedangkan untuk mencukupi kebutuhan pribadi sehari-hari, Bon Ali memiliki usaha sampingan bersama istrinya, yakni jualan batik dan warmindo.
“Saya juga anggota polisi, selain itu saya juga nyambi-nyambi, saya dibantu oleh istri saya jualan batik, terus saya kalau malam juga jualan warmindo dengan hasil sedikit demi sedikit kita kumpulkan untuk melengkapi atau mencukupi kebutuhan anak-anak sehari-hari,” tambahnya.
Anak-anak yang ia asuh tetap mengikuti sekolah formal. Banyak dari mereka yang kini juga menjadi penghafal Al-Qur’an.
Nama Bon Ali sendiri adalah sebutan saat dirinya masih berada di Ponpes Jombang. Kala itu, Ali kecil yang masih lugu kerap berhutang di koperasi.
“Nama Ali kan banyak di pondok itu. Karena saya sering berhutang dan agar tidak salah menyebut Ali yang mana, akhirnya saya dipanggil Bon Ali,” ujar dia sambil tertawa kecil mengingat masa lalunya.
Diketahui, Bon Ali sejak usia lima tahun itu sudah mondok di Jombang. Hampir selama 17 tahun ia belajar dan ikut KH Djamaluddin Ahmad.
“Dari pengalaman dan hasil pendidikan guru saya itu, saya berkeinginan mengabdi kepada bangsa” Ujarnya
Atas ketulusannya untuk kemanusian dan sosial, Bon Ali pernah mendapat penghargaan Pin Emas dari Kapolri, Kick Andy Award dan Penghargaan dari Permaisuri Keraton Jogja, GKR Hemas.
