Ming. Agu 2nd, 2026

Membincang Pancasila di Sawala Dasa Wacana #13

 

Bogor, Putra Bhayangkara id,
Selasa 9 Juni 2026
Pancasila sebagai Philosophische Grondslag (dasar filsafat negara) dan Weltanschauung (pandangan hidup bangsa) merupakan ideologi terbuka yang mampu mengakomodasi kemajemukan tanpa menghilangkan identitas kelompok.

Kelima silanya membentuk kesatuan yang utuh: Ketuhanan, Kemanusiaan, Persatuan, Kerakyatan, dan Keadilan Sosial.
Dalam era disrupsi, individualisme, polarisasi digital, dan ancaman radikalisme, Pancasila menjadi kompas moral dan etika bersama yang mendesak untuk diperkuat. Ia bukan sekadar dokumen historis, melainkan filsafat hidup yang menjamin keutuhan NKRI sebagai negara-bangsa yang ber-Bhinneka Tunggal Ika. Urgensi ini muncul karena tanpa landasan filosofis yang kuat, perbedaan berpotensi menjadi konflik disintegrasi.

Pancasila lahir pada 1 Juni 1945 melalui pidato Ir. Soekarno di Sidang BPUPKI sebagai respons terhadap tantangan kemajemukan bangsa saat menjelang kemerdekaan. Gagasan ini mengolah berbagai usulan tokoh (Yamin, Soepomo, dll.) menjadi dasar negara yang mampu menyatukan suku, agama, dan golongan.

Secara historis, Pancasila telah teruji menjaga keutuhan bangsa dari berbagai ancaman: kolonialisme, separatisme, hingga krisis nasional. Peringatan Hari Lahir Pancasila menjadi momentum merefleksikan perjalanan sejarah tersebut agar generasi kini tidak kehilangan akar persatuan.

Pancasila digali dari nilai-nilai luhur budaya Nusantara: gotong royong, musyawarah mufakat, toleransi, dan keadilan sosial yang sudah mengakar dalam adat istiadat berbagai suku di Indonesia. Di Bogor, sebagai kota yang kaya warisan sejarah Pajajaran dan multikultural, nilai-nilai ini semakin relevan.
Landasan budaya ini menjadikan Pancasila bukan ideologi impor, melainkan jati diri bangsa yang hidup dalam praktik keseharian masyarakat.

Reporter M, Rahmat media putra bhayangkara Bogor

Related Post