September 25, 2026

“Marganti Majo”: Slogan Kampanye atau Isapan Jempol?

 

Siborongborong, Jumat 30 Mei 2025

Pelantikan pejabat eselon di lingkungan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara terus berlanjut di bawah kepemimpinan Bupati Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat dan Wakil Bupati Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan. Dalam waktu enam bulan pasca pelantikan kepala daerah, dua gelombang rotasi jabatan telah dilakukan. Sebanyak 16 pejabat administrator dilantik pada 7 Mei 2025 oleh Bupati, disusul 7 pejabat lainnya oleh Wakil Bupati pada 28 Mei 2025.

Namun, proses pelantikan tersebut tidak sepenuhnya disambut antusias. Di tengah seremoni dan janji pembaruan birokrasi, muncul arus kritik dan kekecewaan dari masyarakat serta kalangan ASN. Perhatian publik bukan semata pada proses pelantikan, melainkan pada sosok-sosok yang diangkat ke posisi strategis.

Sorotan Publik: Siapa yang Dilantik?

Sejumlah kalangan menyoroti bahwa beberapa pejabat yang kini mendapat kepercayaan justru berasal dari kelompok yang selama masa kampanye Pemilukada dikenal sebagai pendukung pasangan 01. Bahkan, sebagian di antaranya pernah aktif menyerang pasangan 02—yang kini menjabat sebagai Bupati dan Wakil Bupati—melalui media sosial, termasuk menggunakan akun palsu. Salah satu yang kerap disebut publik adalah akun “Harimau Tidur”.

Tak sedikit warga yang menyebut bahwa fenomena ini bukan sekadar satu dua nama, melainkan cukup banyak. Untuk menjaga etika dan martabat pribadi, publik enggan menyebut nama secara terbuka, namun wacana tersebut kini ramai diperbincangkan di berbagai forum publik dan media sosial.

Dugaan Peran “Pembisik”

Situasi ini memunculkan dugaan lain yang tak kalah serius: bahwa proses penempatan pejabat tidak sepenuhnya berlandaskan pada prinsip meritokrasi dan loyalitas kepada kepala daerah terpilih. Justru, muncul spekulasi adanya “pembisik” atau pihak tertentu yang turut mengatur komposisi pengangkatan.

Jika benar, kondisi ini bertentangan dengan semangat perubahan dan profesionalisme birokrasi yang digaungkan saat masa kampanye. Alih-alih melakukan pembaruan, yang terjadi justru mengulang pola lama dengan wajah baru.

Loyalis Tersisih, Kekecewaan Menguat

Yang paling menuai kritik adalah kenyataan bahwa sejumlah ASN yang sejak awal menunjukkan loyalitas, kinerja, dan dedikasi terhadap pemerintahan saat ini justru terpinggirkan. Mereka merasa diabaikan dan dikesampingkan tanpa penilaian objektif. Akibatnya, muncul sindiran tajam yang menyebut slogan “Marganti Majo” hanya sekadar retorika kampanye tanpa makna nyata.

Refleksi Janji Politik

Janji perubahan yang dulu menjadi daya tarik pasangan Jonius-Deni kini mulai dipertanyakan. Jika penempatan jabatan lebih didasarkan pada hubungan pasca-kemenangan dibandingkan rekam jejak loyalitas dan kapabilitas, maka masyarakat patut merasa kecewa.

Perlu disadari, membangun kepercayaan publik jauh lebih sulit dibanding menggeser jabatan. Tanpa keadilan dalam sistem penempatan pejabat, krisis kepercayaan bisa tumbuh bahkan dari dalam tubuh birokrasi sendiri.

Masih Ada Waktu untuk Evaluasi

Kepemimpinan Jonius-Deni masih memiliki waktu dan ruang untuk melakukan evaluasi menyeluruh. Prinsip transparansi, objektivitas, dan profesionalisme harus dikedepankan agar reformasi birokrasi yang dijanjikan bukan sekadar slogan.

Sebab, pada akhirnya rakyat akan menilai bukan dari siapa yang dilantik, melainkan apa yang dilakukan demi kepentingan dan kemajuan daerah.

Catatan Redaksi:
Tulisan ini disusun berdasarkan pengamatan langsung serta dihimpun dari diskusi dan komentar warga di sejumlah grup Facebook seperti “MTU 1 News”, “Taput Hebat”, dan berbagai forum digital yang menjadi ruang aspirasi masyarakat Tapanuli Utara.

Diterbitkan Media Putra Bhayangkara.
Publikasi: 30 Mei 2025
Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *