September 25, 2026

Lapas Siborongborong Studi Tiru ke Lapas Tebing Tinggi: Menapak Jalan Menuju WBK

Siborongborong, Sabtu 30 Agustus 2025

Semangat menuju perubahan dan reformasi birokrasi tampak jelas dari langkah yang diambil Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Siborongborong. Tiga hari lalu, tepatnya pada Kamis (28/8/2025), tim Pembangunan Zona Integritas (ZI) Lapas Siborongborong melakukan kunjungan resmi ke Lapas Tebing Tinggi. Kunjungan ini bukan sekadar seremonial belaka, melainkan sebuah upaya sistematis untuk meniru keberhasilan Lapas Tebing Tinggi yang telah meraih predikat Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) pada tahun 2024.

Rilis resmi Humas Lapas Siborongborong melalui kanal Lasibor, Sabtu (30/8/2025), mengonfirmasi agenda penting tersebut. Tim ZI Lapas Siborongborong dipimpin langsung oleh Kalapas Herry Simatupang, didampingi Kepala Pengamanan Lapas (KPLP) Edison Tambunan, serta beberapa staf strategis lainnya. Kehadiran pimpinan inti dalam kunjungan ini menunjukkan betapa seriusnya Lapas Siborongborong dalam menapaki jalan menuju predikat WBK.

Mengapa Harus Studi Tiru?

Pertanyaan sederhana muncul: mengapa harus jauh-jauh ke Tebing Tinggi? Jawabannya justru ada pada fakta keberhasilan. Lapas Tebing Tinggi tahun lalu sukses mencetak sejarah dengan meraih predikat WBK, sebuah capaian yang tidak mudah diraih di lingkungan pemasyarakatan.

Predikat WBK bukan sekadar plakat penghargaan. Ia adalah pengakuan resmi dari pemerintah bahwa sebuah institusi telah menjalankan prinsip bebas dari korupsi, bersih dalam pelayanan, transparan dalam anggaran, dan inovatif dalam pelayanan publik. Tidak heran jika Lapas Siborongborong merasa perlu belajar langsung dari “kampus” nyata yang sudah membuktikan diri.

“Kalau ingin tahu resep masakan yang enak, tentu kita harus bertanya langsung pada kokinya,” begitu analogi sederhana yang bisa menggambarkan tujuan kunjungan ini.

Disambut Hangat oleh Tuan Rumah

Sesampainya di Tebing Tinggi, rombongan Lapas Siborongborong disambut langsung oleh Kalapas Tebing Tinggi beserta jajaran. Sambutan yang hangat ini mencairkan suasana formal menjadi ajang pertukaran pengalaman yang lebih humanis.

Kalapas Tebing Tinggi memberikan paparan komprehensif terkait langkah-langkah strategis yang ditempuh dalam meraih predikat WBK. Mulai dari penataan manajemen SDM, penguatan sistem pengawasan internal, peningkatan kualitas layanan, hingga inovasi berbasis teknologi informasi.

Pemaparan itu tidak berhenti pada teori semata. Tim ZI Lapas Siborongborong kemudian diajak berkeliling (tour) melihat langsung sarana dan prasarana pendukung yang ada di Lapas Tebing Tinggi. Dari sistem layanan kunjungan yang lebih tertata, transparansi dalam informasi publik, hingga inovasi pelayanan berbasis digital — semua diperlihatkan sebagai bukti nyata, bukan sekadar janji di atas kertas.

Apresiasi dari Kalapas Siborongborong

Kalapas Herry Simatupang dalam kesempatan itu menyampaikan apresiasinya terhadap sambutan serta keterbukaan informasi yang diberikan oleh Lapas Tebing Tinggi. “Kami sangat berterima kasih atas paparan dan sambutan hangat ini. Harapan kami, Lapas Siborongborong dapat menerapkan apa yang sudah terbukti berhasil di sini, sehingga tahun depan kami juga bisa meraih predikat WBK,” ujar Herry.

Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Lapas Siborongborong tidak ingin berhenti hanya pada slogan “menuju WBK”, tetapi benar-benar menyiapkan langkah konkret.

Menguji Keseriusan: Tantangan Nyata di Lapangan

Namun, pekerjaan rumah tentu tidak mudah. Lapas Siborongborong harus membuktikan keseriusannya dalam menerapkan standar-standar yang telah dipelajari.

Tantangan pertama adalah komitmen SDM. Setiap pegawai, mulai dari level pimpinan hingga staf, harus satu suara dalam menolak praktik-praktik koruptif. Tantangan kedua adalah keterbatasan sarana dan prasarana yang harus diimbangi dengan kreativitas dan inovasi. Dan tantangan ketiga, yang tidak kalah penting, adalah membangun kepercayaan masyarakat terhadap layanan Lapas.

Pengamat birokrasi menyebut, studi tiru memang menjadi pintu masuk, tapi keberhasilan sesungguhnya terletak pada konsistensi. “Yang sering terjadi, semangat di awal sangat tinggi, tapi ketika kembali ke institusi asal, pelan-pelan luntur. Nah, di sini ujian sebenarnya bagi Lapas Siborongborong,” ujar seorang analis kebijakan publik di Siborong-borong.

Mengapa WBK Penting?

Predikat WBK menjadi sangat penting karena menyangkut reputasi institusi dan kepercayaan publik. Lapas dengan predikat ini dianggap memiliki integritas tinggi, mampu melayani masyarakat dengan baik, serta bebas dari praktik pungli atau korupsi.

Bagi Lapas Siborongborong, predikat WBK bukan hanya sekadar gengsi, melainkan sebuah kebutuhan mendesak. Dalam era keterbukaan informasi dan sorotan publik yang semakin tajam, institusi pemasyarakatan dituntut untuk bekerja lebih transparan, akuntabel, dan inovatif.

Langkah ke Depan

Kunjungan ke Lapas Tebing Tinggi hanyalah permulaan. Setelah kembali ke Siborongborong, tugas besar menanti. Tim ZI yang dipimpin Kalapas Herry Simatupang dan KPLP Edison Tambunan harus segera menyusun rencana aksi konkret berdasarkan hasil studi tiru.

Mulai dari membentuk tim pengendali, menetapkan indikator kinerja, hingga menciptakan inovasi layanan yang sesuai dengan karakteristik Lapas Siborongborong. Semua itu harus dilakukan dengan satu tujuan: meraih predikat WBK di tahun mendatang.

Jalan Panjang Menuju Integritas

Studi tiru ke Lapas Tebing Tinggi bisa disebut sebagai “injeksi semangat” bagi Lapas Siborongborong. Namun, semangat saja tidak cukup tanpa eksekusi nyata. Jika seluruh unsur di Lapas Siborongborong mampu menjaga konsistensi dan komitmen, bukan mustahil predikat WBK akan diraih pada tahun depan.

Kini, bola ada di tangan Lapas Siborongborong. Apakah studi tiru ini akan menjadi catatan penting menuju reformasi nyata, atau sekadar catatan perjalanan dinas biasa? Waktu yang akan menjawabnya.

Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *