Konseling Psikologi di Polres Humbahas: Menjaga Rumah Tangga, Menopang Kinerja
Doloksanggul – Selasa 26 Agustus 2026
Polres Humbang Hasundutan (Humbahas) menunjukkan wajah humanisnya. Melalui Bagian Sumber Daya Manusia (SDM), kepolisian daerah ini melaksanakan kegiatan konseling psikologi bagi personel yang akan mengikuti Sidang BP4-R (Badan Pembantu Penasehat Perkawinan, Perceraian dan Rujuk). Kegiatan berlangsung pada Selasa, 26 Agustus 2025, di ruang Kabag SDM Polres Humbahas.
Langkah ini bukan sekadar rutinitas, melainkan upaya strategis: memastikan personel Polri benar-benar siap secara mental membina rumah tangga, sehingga stabilitas kehidupan pribadi berbanding lurus dengan profesionalitas kerja.
Apa Itu Sidang BP4-R?
Bagi publik, istilah BP4-R mungkin masih asing. Lembaga internal Polri ini bertugas memberi pertimbangan dan nasihat terkait perkawinan, perceraian, hingga rujuk, khususnya bagi anggota kepolisian. Di bawah kendali Bag SDM, BP4-R berperan sebagai “filter” sebelum pernikahan, serta wadah mediasi saat konflik rumah tangga muncul.
Artinya, Polres Humbahas tak hanya bicara soal patroli dan penegakan hukum, tetapi juga ikut campur dalam urusan personal anggotanya: memastikan ikatan rumah tangga mereka tidak retak di tengah kerasnya tuntutan profesi.
Jalannya Konseling: Dari Psikologi ke Realita
Kegiatan konseling dipimpin Kabag SDM AKP Antonius Pasta Sitepu bersama konselor internal Polres, Brigpol Sri Oktoria Purba. Suasananya berlangsung akrab, lebih mirip obrolan keluarga daripada forum resmi.
Hadir dalam sesi ini, dua pasangan yang tengah atau baru saja mengikat janji suci:
Briptu Arnold Sihotang bersama calon istrinya Wanny Lonika Simbolon, yang akan segera menikah.
Brigadir Dame Sihombing beserta istrinya yang baru beberapa waktu lalu resmi menjadi pasangan sah.
Keduanya mengaku terbantu dengan adanya bimbingan tersebut. Mereka bahkan menyampaikan terima kasih kepada Kabag SDM dan konselor, karena perhatian Polres ikut membuat prosesi pernikahan mereka berjalan lancar.
Dalam sesi konseling, Brigpol Sri Oktoria Purba menyampaikan pesan sederhana tapi vital:
1. Kesiapan mental menjadi fondasi rumah tangga, apalagi ketika suami berprofesi sebagai polisi dengan jadwal tak menentu.
2. Adaptasi calon istri dengan lingkungan baru perlu dijalani dengan sabar, termasuk menghadapi tekanan sosial sebagai pasangan seorang aparat.
3. Manajemen keuangan rumah tangga wajib diperhatikan. Tidak sedikit konflik rumah tangga pecah karena masalah finansial.
Pesan ini terkesan klasik, namun bagi anggota Polri, hal-hal sepele seperti itu bisa menentukan stabilitas kerja di lapangan.
Pesan Kapolres: Rumah Tangga = Kinerja
Kapolres Humbang Hasundutan AKBP Arthur Sameapputty, S.I.K menegaskan, membina rumah tangga di lingkungan Polri tidaklah sama dengan masyarakat sipil. Beban kerja, risiko tugas, hingga tekanan publik kerap kali mengguncang ketahanan keluarga.
> “Rumah tangga yang harmonis akan sangat berpengaruh terhadap kinerja personel. Oleh karena itu, setiap anggota Polri harus benar-benar siap secara mental sebelum memasuki bahtera rumah tangga,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa Bagian SDM adalah jantung organisasi Polri. Dari sini semua proses bermula: rekrutmen, pendidikan, pembinaan karier, konseling, hingga masa purnabakti. Jika fungsi SDM lemah, seluruh sistem kepolisian bisa goyah.
Pernyataan ini menegaskan arah kebijakan Polres Humbahas: memperkuat manusia di balik seragam lebih dulu, baru bicara soal performa institusi.
Perspektif Kritis
Ada hal menarik yang patut dicermati. Publik selama ini lebih mengenal Polri lewat citra keras: patroli, penangkapan, atau penindakan hukum. Kegiatan konseling ini justru membuka sisi lain: polisi sebagai manusia biasa yang juga menghadapi persoalan rumah tangga.
Namun, muncul pertanyaan:
Apakah konseling ini akan berlanjut rutin atau hanya seremonial jelang sidang BP4-R?
Apakah keberadaan konselor internal sudah cukup netral, atau sebaiknya melibatkan psikolog eksternal agar lebih objektif?
Apakah Polres juga memiliki mekanisme monitoring pasca pernikahan, mengingat banyak konflik rumah tangga muncul bukan di awal, melainkan setelah tahun-tahun berjalan?
Pertanyaan-pertanyaan ini penting, karena jika konseling hanya berhenti di ruang SDM, dampaknya akan terbatas. Tetapi jika berkelanjutan, Polres Humbahas bisa jadi model pembinaan personel yang patut ditiru daerah lain.
Mengapa Penting?
Data nasional menunjukkan, tidak sedikit kasus perceraian di kalangan aparat keamanan. Penyebabnya bervariasi: beban tugas, jam kerja tak menentu, hingga tekanan psikologis. Konflik rumah tangga kerap menurunkan semangat kerja, bahkan berujung pada pelanggaran disiplin.
Kegiatan konseling seperti yang digelar Polres Humbahas adalah bentuk early warning system untuk meminimalisir potensi tersebut. Jika rumah tangga personel stabil, tugas di lapangan pun lebih terjaga.
Harapan ke Depan
Melalui kegiatan ini, Polres Humbang Hasundutan berharap personelnya mampu membangun keluarga yang harmonis, yang pada akhirnya berdampak positif pada pelayanan publik.
Konseling psikologi bukan sekadar rutinitas internal, melainkan investasi jangka panjang: mencetak anggota Polri yang kuat, seimbang secara mental, dan profesional dalam bertugas.
> Sederhananya, jika rumah tangga aman, maka Polri pun lebih siap menjaga keamanan masyarakat.
Kegiatan konseling psikologi di Polres Humbahas menjelang Sidang BP4-R bukan hanya urusan internal. Ia menyimpan pesan strategis: Polri modern harus merawat manusianya lebih dulu.
Di balik seragam dan pangkat, polisi tetaplah manusia yang punya rumah tangga, persoalan pribadi, dan kebutuhan untuk didengar. Dengan menjaga keseimbangan itu, Polres Humbahas menegaskan bahwa keamanan masyarakat dimulai dari keamanan keluarga polisi itu sendiri.
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Oleh: Frish. H. Silaban
