Oleh: H. Basrul Nurdin.
Dalam perjalanan hidup seorang hamba, ada satu jalan sunyi yang sering terlupakan, namun justru menjadi inti dari kedekatan dengan Sang Pencipta. Jalan itu adalah muhasabah (menghisab diri) dan murakabah (merasakan pengawasan Allah), yang pada akhirnya mengantarkan manusia menuju muhabbah Ilahi—kecintaan sejati kepada Allah SWT.
Muhasabah bukan sekadar menilai diri, melainkan menyelami hakikat batin, menelusuri celah-celah cahaya yang menembus inti tujuan hidup. Dari sanalah seorang hamba mulai memahami asal mula dirinya dan ke mana ia akan kembali.
Ketika nilai-nilai Ilahiyah mulai mengalir dalam diri, maka terasa adanya pertemuan antara cahaya dengan tujuan yang selama ini diidamkan. Di titik itu, ma’rifat bukan lagi sekadar konsep, tetapi menjadi nyata dalam hakikat, dan jelas dalam jalan (thariqat) yang dijalani.
Hubungan antara hamba dan Tuhannya pun menjadi tanpa hijab—penuh kedekatan, mesra dalam rasa yang tidak dapat diumpamakan dengan apapun. Seakan ada pandang-memandang yang tak terputus, antara cinta seorang hamba dengan Rabb-nya.
Dari sanalah lahir kecintaan yang dalam, yang terus mengikuti gerak cahaya Ilahi. Setiap lafaz yang terucap bukan lagi sekadar kata, tetapi mengandung makna yang mengarah kepada tujuan hakiki.
Tempat persinggahan ruhani itu adalah tempat di mana segala pengaruh hawa nafsu dunia dan godaan syaitan dileburkan. Di sanalah seorang hamba berlindung hanya kepada Allah SWT. Ketika itu terjadi, seorang mukmin kembali menjadi pribadi yang utuh, fokus, dan jernih.
Di titik inilah seorang hamba merasakan pegangan yang kokoh—“urwatul wutsqa”, tali yang kuat dan tidak akan pernah putus. Siapa yang telah terhubung dengannya, akan melekat erat dalam lindungan-Nya.
Sesungguhnya, Allah itu sangat dekat—bahkan lebih dekat dari urat leher. Namun kedekatan itu bukan sekadar untuk dirasakan, melainkan untuk diwujudkan dalam amal, munajat, dan ketundukan total, dengan kesadaran bahwa tiada daya dan upaya selain dari-Nya.
Di sanalah hadir ketenangan (sakinah), kasih sayang (mawaddah), dan rahmat (rahmah) yang tidak terlukiskan. Sebuah kondisi jiwa yang bersih dari kesyirikan, dalam lindungan wahdaniyah (keesaan Allah).
Hakikat tauhid pun tersingkap:
melihat yang banyak dalam Yang Satu, dan melihat Yang Satu dalam yang banyak.
Itulah puncak dari perjalanan seorang hamba—cinta kepada Allah semata.
Maka, wahai saudaraku…
tetapkan keyakinanmu, kuatkan perjuanganmu, dan perkuat tawakkalmu. Ikhlaskan setiap langkah, dan ridhakan setiap ketetapan-Nya.
Kelak engkau akan memahami bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana dalam setiap takdir yang diberikan.
Perbanyaklah munajat, mohon bimbingan hanya kepada-Nya. Awali setiap langkah dengan ketulusan dan keikhlasan. Jangan takut pada rintangan, karena itu hanyalah ujian dalam perjalanan menuju-Nya.
Sebagaimana ibadah puasa mengajarkan kita untuk menahan hawa nafsu, sesungguhnya di dalam diri manusia terdapat pergulatan antara ruh dan jasad. Tubuh berasal dari unsur-unsur duniawi yang cenderung lemah dan tergoda, sementara ruh adalah pembawa kebenaran dari Tuhan.
Dengan berlapar dan menahan diri, maka melemahlah dorongan jasad, dan menguatlah ruh untuk memimpin. Inilah rahasia puasa—menjadikan ruh berkuasa atas diri, dalam bimbingan Allah dan Rasul-Nya.
Perbanyak dzikir, tasbih, tahmid, dan tahlil.
Itulah tali pengikat yang menghubungkan kita dengan-Nya.
Akhirnya, marilah kita terus melangkah dalam jalan ini—jalan cinta Ilahi.
Semoga kita termasuk hamba yang diakui dan diterima di sisi-Nya.
Wallahu a’lam.
(Red.Priyono)

