September 25, 2026

GAMKI Nabire Gelar Seminar Wawasan Kebangsaan, Perkuat Persatuan Papua Tengah dalam Bingkai NKRI

IMG-20260703-WA0004

NABIRE – DPC Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kabupaten Nabire menggelar Seminar Wawasan Kebangsaan bertema “1 Juli dalam Perspektif Sejarah dan Kebangsaan, Memperkuat Persatuan, Menjaga Papua Tengah Damai dan Membangun Masa Depan dalam Bingkai NKRI” di Aula RRI Nabire, Jumat (3/7/2026). Kegiatan yang dihadiri sekitar 170 peserta dari kalangan mahasiswa, pemuda gereja, akademisi, pemerintah daerah, TNI-Polri, dan tokoh masyarakat itu menjadi forum dialog untuk memperkuat pemahaman sejarah, nasionalisme, serta komitmen menjaga stabilitas keamanan dan persatuan di Papua Tengah.

Seminar dibuka oleh Bupati Nabire yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Umum Kabupaten Nabire, Benony Ayorbaba, serta dihadiri Danlanal Nabire Letkol Laut (P) Mario Marco Wainarisi, Kepala Kesbangpol Nabire Akon Ferry Yawan, Kasat Binmas Polres Nabire Iptu A.Y. Mainery, Wadan Denpom XVII/1 Nabire Mayor Cpm Agustinus Ramba, Pasi Intel Kodim 1705/Nabire Lettu Inf Usman, Ketua DPD GAMKI Papua Tengah Anis Labene, bersama para akademisi dan tokoh pemuda.

Ketua Karateker DPC GAMKI Nabire, Yusuf Simbiak, mengatakan seminar digelar sebagai ruang akademik untuk membangun pemahaman sejarah secara objektif sekaligus memperkuat semangat kebangsaan. Menurutnya, perbedaan pandangan terhadap sejarah harus disikapi melalui dialog ilmiah dan semangat persaudaraan, bukan dengan provokasi maupun tindakan yang dapat mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat. Ia juga mengajak generasi muda menjadi agen perdamaian dengan meningkatkan literasi sejarah, menjaga toleransi, dan berkontribusi dalam pembangunan Papua Tengah.

Ketua DPD GAMKI Provinsi Papua Tengah, Anis Labene, menegaskan generasi muda memiliki peran strategis sebagai motor pembangunan sekaligus penjaga persatuan di Tanah Papua. Ia menilai tantangan pembangunan, persoalan sosial, hingga dinamika keamanan hanya dapat dihadapi melalui kolaborasi seluruh elemen masyarakat. Sementara itu, sambutan Bupati Nabire yang dibacakan Benony Ayorbaba mengajak masyarakat memahami sejarah secara objektif, menjaga keberagaman sebagai kekuatan bangsa, serta bijak menggunakan media sosial agar tidak mudah terprovokasi informasi yang belum terverifikasi.

Dalam sesi pemaparan materi, Guru Besar Hukum Universitas Cenderawasih, Prof. Dr. Melkias Hetharia, menjelaskan bahwa berbagai peristiwa sejarah Papua, termasuk dinamika yang terjadi pada 1 Juli, harus dipahami secara utuh berdasarkan perspektif sejarah, konstitusi, dan semangat kebangsaan. Ia menegaskan pembangunan Papua perlu mengedepankan dialog, penghormatan terhadap hak masyarakat adat, pemerataan pembangunan, serta pelibatan seluruh elemen masyarakat demi terciptanya Papua yang damai dan sejahtera dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Diskusi yang menghadirkan Johanis M. Ramandey, Akon Ferry Yawan, dan Gian Mario Kapissa berlangsung interaktif. Para narasumber menekankan pentingnya memperkuat karakter kebangsaan, meningkatkan literasi digital, menyaring informasi sebelum disebarluaskan, serta mendorong generasi muda aktif dalam organisasi sebagai sarana membangun kepemimpinan, toleransi, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Papua.

Seminar ditutup dengan sesi tanya jawab, pembagian doorprize, menyanyikan lagu Tanah Papua, dan doa bersama. Kegiatan ini mendapat apresiasi peserta sebagai wadah edukasi kebangsaan yang memperkuat pemahaman sejarah, nasionalisme, serta komitmen menjaga Papua Tengah tetap aman, damai, dan kondusif. Seminar tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kondusivitas wilayah melalui pendekatan dialog, edukasi, dan pelibatan generasi muda dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

MPB ABIRAYANTI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *