Dari Balik Tembok Rutan, Lahir Karya untuk Masyarakat: Paving Block Warga Binaan Disiapkan untuk Bakti Sosial
HUMBAHAS – Pembinaan warga binaan bukan sekadar aktivitas di balik tembok Rumah Tahanan Negara (Rutan). Ketika keterampilan yang diperoleh mampu menghasilkan karya dan karya tersebut kembali dimanfaatkan masyarakat, di situlah proses pemasyarakatan menunjukkan dampaknya secara nyata.
Pesan tersebut tergambar dalam persiapan kegiatan bakti sosial yang dilakukan Rutan Kelas IIB Humbang Hasundutan di Gereja GBI Sitinggir-Tinggir.
Jajaran Rutan Humbang Hasundutan melakukan peninjauan langsung ke lokasi sebagai bagian dari persiapan pelaksanaan bakti sosial. Peninjauan dilakukan Kepala Kesatuan Pengamanan Rutan (Ka.KPR) bersama Kepala Sub Seksi Pengelolaan (Kasubsi Pengelolaan).
Selain melihat kondisi lokasi, peninjauan tersebut juga dilakukan untuk memastikan kesiapan pelaksanaan kegiatan serta pemanfaatan bantuan yang akan disalurkan.
Yang menarik, bantuan tersebut bukan semata-mata berasal dari pengadaan biasa. Rutan Humbang Hasundutan akan menyerahkan paving block hasil program pembinaan kemandirian warga binaan untuk dimanfaatkan dalam mendukung penataan dan pembangunan fasilitas di lingkungan Gereja GBI Sitinggir-Tinggir.
Bukan Sekadar Paving Block
Secara fisik, paving block mungkin hanya dipandang sebagai material untuk penataan halaman atau fasilitas lingkungan.
Namun dalam konteks pembinaan pemasyarakatan, hasil karya tersebut memiliki makna yang lebih besar.
Paving block merupakan bukti bahwa warga binaan diberikan ruang untuk belajar, bekerja, mengembangkan keterampilan dan menghasilkan sesuatu yang memiliki nilai guna.
Ketika hasil tersebut kemudian dimanfaatkan untuk kepentingan masyarakat, proses pembinaan mendapatkan dimensi sosial yang lebih luas.
Dari warga binaan, lahir sebuah karya. Dari karya tersebut, masyarakat menerima manfaat.
Inilah salah satu pesan penting yang dapat dibangun melalui program pembinaan kemandirian.
Pembinaan yang Berorientasi pada Kemandirian
Pembinaan kemandirian memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan warga binaan menghadapi kehidupan setelah menyelesaikan masa pidana.
Keterampilan yang diperoleh selama menjalani pembinaan diharapkan dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke tengah masyarakat.
Karena itu, kegiatan produktif seperti pembuatan paving block tidak hanya memiliki nilai ekonomi dan keterampilan, tetapi juga dapat menumbuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, kerja sama serta rasa percaya diri.
Lebih jauh, pemanfaatan hasil karya untuk kegiatan sosial memberikan ruang bagi warga binaan untuk merasakan bahwa keterampilan yang mereka miliki dapat memberikan manfaat bagi orang lain.
Membangun Perspektif Baru tentang Pemasyarakatan.
Bakti sosial di Gereja GBI Sitinggir-Tinggir juga membuka ruang bagi masyarakat untuk melihat pemasyarakatan dari perspektif yang lebih konstruktif.
Warga binaan bukan hanya identik dengan persoalan masa lalu. Di dalam proses pembinaan, terdapat upaya untuk membangun kemampuan dan mempersiapkan mereka agar dapat kembali menjalani kehidupan secara lebih baik.
Dukungan masyarakat menjadi bagian penting dalam proses tersebut.
Sebab, keberhasilan pembinaan pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh lembaga pemasyarakatan, tetapi juga oleh kesiapan lingkungan sosial untuk menerima kembali warga binaan sebagai bagian dari masyarakat.
Karena itu, kegiatan sosial yang melibatkan hasil karya warga binaan dapat menjadi jembatan antara proses pembinaan di dalam Rutan dengan kehidupan sosial di luar Rutan.
Rutan PASTI Berdampak.
Langkah Rutan Kelas IIB Humbang Hasundutan tersebut sekaligus memperkuat komitmen menghadirkan pemasyarakatan yang memberikan manfaat nyata.
Melalui pembinaan kemandirian, warga binaan tidak hanya diarahkan memiliki keterampilan, tetapi juga didorong agar hasil pembinaan tersebut mempunyai nilai manfaat bagi lingkungan.
Semangat “Pemasyarakatan PASTI Berdampak” pada akhirnya bukan hanya slogan, melainkan perlu diwujudkan melalui program yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Bakti sosial di Gereja GBI Sitinggir-Tinggir menjadi salah satu gambaran bahwa proses pembinaan dapat menghasilkan karya yang kemudian kembali kepada masyarakat.
Dari balik tembok Rutan, sebuah karya lahir. Dari karya itu, manfaat mengalir ke masyarakat. Di situlah makna pemasyarakatan menemukan bentuknya: membina, memberdayakan, dan mempersiapkan manusia untuk kembali memberi manfaat.
Media Putra Bhayangkara
Oleh: Jonaer Silaban S.Pd.
