Kemarau Hampir Dua Bulan, Polsek Jongkat Salurkan Air Bersih untuk Warga Terdampak
MEMPAWAH – Kemarau panjang yang terjadi hampir dua bulan di wilayah Kecamatan Jongkat, Kabupaten Mempawah, Kalimantan Barat, tidak hanya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu krisis air bersih bagi masyarakat.
Kapolsek Jongkat Polres Mempawah, Ipda Dwi F. Andika, mengatakan kondisi cuaca saat ini cukup memprihatinkan. Minimnya hujan membuat sejumlah sumber air masyarakat mengalami penurunan debit, bahkan air yang tersedia di beberapa wilayah terasa asin meski dalam kondisi pasang.
“Memang kita ketahui hujan ini hampir tidak ada dalam kurun waktu hampir dua bulan. Selain kebakaran hutan dan lahan yang masih kita tangani, sekarang muncul masalah baru, yaitu krisis air bersih yang berdampak kepada masyarakat,” ujar Dwi F. Andika kepada awak media, Jumat (11/9/2026).
Menurutnya, kondisi lahan gambut yang mudah terbakar membuat masyarakat juga diimbau untuk lebih berhati-hati dan mengurangi aktivitas yang tidak diperlukan di tengah kondisi kabut asap.
“Apalagi kita berada di wilayah lahan gambut. Cuacanya sangat buruk. Untuk hal-hal yang tidak perlu, kalau bisa jangan keluar dulu,” katanya.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat terdampak, Polsek Jongkat bersama sejumlah pihak turun langsung menyalurkan air bersih kepada warga.
Kegiatan tersebut melibatkan berbagai unsur, termasuk masyarakat, BPBD serta sejumlah tokoh masyarakat. Penyaluran air dilakukan secara bertahap dengan mengutamakan warga yang paling membutuhkan.
“Alhamdulillah, bantuan air bersih ini disambut antusias oleh warga. Mereka sangat senang dan bahagia mendapatkan air bersih,” ungkapnya.
Distribusi air bersih telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Desa Wajok Hilir, Desa Jungkat, Desa Sungai Nipah dan Desa Sungai Peniti.
Namun, pendistribusian air bersih masih menghadapi kendala karena debit air di sejumlah sumber mulai berkurang. Kondisi tersebut membuat masyarakat harus mengantre untuk mendapatkan pasokan air.
“Kita bersyukur bisa memaksimalkan distribusi untuk keluarga kita yang sangat membutuhkan dengan skala prioritas,” jelasnya.
Dwi menambahkan, dampak kemarau panjang dan kabut asap tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, tetapi juga mulai memengaruhi kesehatan, perekonomian, hingga aktivitas pendidikan masyarakat.
“Banyak sekali dampaknya, terkait kesehatan dan perekonomian juga sangat berdampak. Anak-anak sekolah juga harus diliburkan dan melaksanakan pembelajaran dari rumah,” ujarnya.
Sementara itu, terkait potensi karhutla, terdapat sejumlah titik yang selama ini menjadi lokasi rawan kebakaran. Di antaranya kawasan Mambo, Desa Wajok Hulu, Teluk Dalam di Wajok Hilir, serta Dusun Nanas.
Meski demikian, dalam dua pekan terakhir kondisi hotspot di wilayah tersebut disebut mengalami perkembangan yang cukup positif.
“Alhamdulillah, dua minggu terakhir ini kondisinya cukup baik. Untuk hotspot di kecamatan memang masih ada, karena hujan belum turun,” katanya.
Terkait dugaan kesengajaan dalam pembakaran lahan, pihak kepolisian masih melakukan pemantauan dan penyelidikan. Hingga saat ini, menurut Dwi, belum ditemukan bukti yang mengarah pada adanya pembakaran lahan secara sengaja.
“Untuk sementara belum kita temukan yang sengaja dibakar. Namun kita belum tahu seperti apa nanti hasil pengembangan penyelidikan,” pungkasnya.
Di tengah kondisi tersebut, Kapolsek Jongkat juga mengajak seluruh masyarakat untuk bersama-sama menjaga lingkungan dan mencegah terjadinya karhutla.
Ia berharap hujan segera turun dengan intensitas yang cukup sehingga bencana kabut asap dan kekeringan dapat segera berakhir.
“Semoga hujan yang lebat dan berkah segera diturunkan agar musibah ini segera berlalu dan aktivitas masyarakat bisa kembali normal,” harapnya.(Sabirin)
