September 25, 2026

Kembali ke Marwah Jurnalistik: Menulis dengan Akal Sehat, Bukan Akal-Akalan

Oleh: Priyono, A.Md, SH, S.Sos
Pemimpin Umum Media Group ; Putra Bhayangkara, Detektif, Radar Energi, Radio Putra Bhayangkara

Di tengah derasnya arus informasi digital, dunia jurnalistik menghadapi ujian serius. Kecepatan kini sering mengalahkan ketepatan, dan kuantitas kerap menyingkirkan kualitas. Fenomena ini menimbulkan keprihatinan mendalam: semakin maraknya praktik copy-paste, mencomot karya media lain tanpa etika, bahkan menyerahkan sepenuhnya proses penulisan berita kepada aplikasi kecerdasan buatan (AI) tanpa kontrol nurani dan tanggung jawab jurnalistik.
Wartawan sejatinya adalah pekerja akal dan pikiran, bukan sekadar operator teknologi. Jurnalisme lahir dari proses liputan, verifikasi, keberanian bertanya, dan kejujuran dalam menyampaikan fakta. Ketika berita hanya diproduksi dari hasil menyalin atau perintah singkat kepada mesin, maka ruh jurnalistik perlahan mati.
Teknologi, termasuk AI, bukan musuh pers. Ia dapat menjadi alat bantu mempercepat riset, merapikan data, atau membantu penyusunan struktur tulisan. Namun ketika AI dijadikan “penulis utama” tanpa proses liputan, klarifikasi, dan tanggung jawab redaksi, di situlah masalah besar bermula. Berita kehilangan konteks, empati, dan akurasi. Lebih berbahaya lagi, publik disuguhi informasi yang tampak rapi namun kosong nilai kebenaran.
Praktik menumpang “jaring media” lain, mencatut berita tanpa izin atau atribusi yang layak, adalah pengkhianatan terhadap etika profesi. Ini bukan sekadar pelanggaran teknis, melainkan krisis integritas. Wartawan bukan pemburu klik, melainkan penjaga nurani publik.
Saatnya seluruh insan pers, editor, hingga pemimpin redaksi kembali ke marwahnya. Menulis dengan akal sehat, bukan akal-akalan. Mengutamakan verifikasi, bukan sensasi. Menghormati karya sesama, bukan menjadikannya komoditas instan.
Pers yang kuat lahir dari wartawan yang berani turun ke lapangan, tekun membaca realitas, dan jujur menyusun kata. Di sanalah kepercayaan publik dibangun. Dan hanya dengan menjaga marwah itulah pers tetap menjadi pilar demokrasi, bukan sekadar pabrik konten.
Mari menulis kembali sebagai wartawan. (Priyono)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *