September 25, 2026

TSTH2 Humbahas Dipuji Jadi Pusat Riset Herbal Nasional, Namun Partisipasi Rakyat Masih Dipertanyakan

Humbang Hasundutan – Jumat 11 Juli 2025

Pusat riset nasional bertajuk Taman Sains dan Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) di Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara, kembali menarik perhatian publik usai dipaparkan secara resmi oleh Direktur TSTH2, Prof. Sri Fatmawati, kepada sejumlah tokoh nasional pada Jumat, 11 Juli 2025.

Dalam kunjungan kerja tersebut, hadir Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Ni Luh Enik Ermawati, serta sejumlah pejabat tinggi daerah dan unsur TNI/Polri. Kegiatan berlangsung di lokasi TSTH2 di kawasan Pollung, disambut langsung oleh Wakil Gubernur Sumut H. Surya, Bupati Humbahas Dr. Oloan P. Nababan, Wakil Bupati Junita Rebeka Marbun, Danrem Kolonel Inf Jansen P. Nainggolan, dan pejabat daerah lainnya dari kabupaten tetangga.

Visi Riset Herbal Berdaya Saing Global

Dalam paparannya, Prof. Sri Fatmawati mengungkapkan bahwa TSTH2 memiliki visi besar menjadi pusat riset herbal dan hortikultura terdepan di Indonesia yang mampu menghasilkan inovasi dan teknologi berdaya saing global, berkelanjutan, serta berdampak sosial.

“TSTH2 bukan hanya laboratorium riset, tapi juga ekosistem inovasi yang akan memperkuat ketahanan pangan, mempercepat hilirisasi hasil pertanian, serta memberdayakan potensi herbal nusantara,” ungkap Prof. Fatmawati.

Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, lembaga riset, universitas, hingga pelaku industri swasta untuk mendorong kemandirian teknologi berbasis sumber daya lokal.

Proyek Strategis Nasional, Tapi Siapa yang Terlibat?

Namun di tengah semangat besar yang digaungkan, pertanyaan krusial pun muncul: sejauh mana masyarakat lokal, khususnya petani dan pelaku usaha kecil, telah dilibatkan secara aktif dalam proses pengembangan TSTH2?

Investigasi Media Putra Bhayangkara menemukan bahwa hingga saat ini, masih banyak warga dan petani di sekitar kawasan Pollung yang belum memahami peran serta mereka dalam proyek riset berskala nasional ini.

“Kami mendengar soal TSTH2 dari berita, tapi belum tahu bagaimana caranya terlibat. Apakah petani bisa ikut pelatihan atau akses ke bibit unggul dari sana, belum jelas,” ujar seorang petani cabai yang enggan disebutkan namanya saat ditemui di kawasan Dolok Sanggul.

Risiko Menjadi Proyek Elitis

Pakar pertanian dari Universitas Sumatera Utara yang diwawancarai secara terpisah menyebutkan bahwa salah satu tantangan terbesar proyek riset seperti TSTH2 adalah jurang antara retorika teknologi tinggi dan realita sosial di lapangan.

“TSTH2 bisa jadi terobosan besar jika digerakkan dengan prinsip partisipatif dan keadilan akses. Tapi jika hanya jadi proyek elitis yang berkutat di menara gading, maka ini hanya akan jadi monumen politik dan birokrasi,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan pengamat kebijakan publik dari LIPI yang menyoroti kurangnya transparansi dan mekanisme umpan balik dari masyarakat sekitar dalam proyek ini. Padahal, salah satu misi utama TSTH2 adalah memberikan dampak sosial dan kesejahteraan bagi komunitas lokal.

Tanggung Jawab Bersama, Harapan Terbuka

Kehadiran tokoh nasional seperti Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri Kesehatan dalam kegiatan ini sejatinya memberikan harapan bahwa TSTH2 akan memperoleh dukungan politik dan fiskal yang kuat dari pusat. Namun, tantangan sesungguhnya justru terletak pada bagaimana pemerintah daerah mengartikulasikan peran masyarakat secara konkret dan terukur.

Bupati Humbahas Dr. Oloan P. Nababan dalam keterangannya menyebut TSTH2 sebagai aset jangka panjang kabupaten yang diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja, memperluas akses pasar bagi petani, dan mendorong ekonomi berbasis pengetahuan.

Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada penjelasan resmi terkait jadwal pelibatan masyarakat secara langsung maupun mekanisme transfer teknologi dari TSTH2 ke petani lokal.

TSTH2 berdiri di atas tanah yang kaya sumber daya alam dan kultural. Jika dikembangkan dengan prinsip inklusif dan berbasis kebutuhan riil masyarakat, ia bisa menjadi episentrum kebangkitan sains lokal Indonesia.

Namun, jika arah kebijakan tetap tertutup dan dominan dari atas ke bawah, maka proyek ini berpotensi kehilangan ruh dasarnya: mengangkat harkat hidup rakyat melalui ilmu pengetahuan.

TSTH2 bisa jadi pusat inovasi herbal nasional yang membanggakan—atau hanya sekadar proyek mercusuar yang membebani anggaran tanpa hasil berarti. Publik menanti konsistensi dan komitmen nyata dari seluruh pemangku kepentingan.

Reporter: Frish. H. Silaban
Editor: Media Putra Bhayangkara (MPB)
Tanggal Publikasi: 11 Juli 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *