September 25, 2026

Surung Lumbantobing: Seumuran Republik, Simbol Hidup Semangat Kemerdekaan di Humbahas

 

Doloksanggul – Minggu 17 Agustus 2025

Di sebuah rumah sederhana di Desa Pasaribu, Kecamatan Doloksanggul, suasana berbeda terasa pada Minggu, 17 Agustus 2025. Di tengah hiruk-pikuk perayaan HUT ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, seorang warga berusia 80 tahun menerima kunjungan istimewa. Namanya Surung Lumbantobing, lahir tepat pada 17 Agustus 1945—hari yang sama ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan.

Tahun ini, saat bangsa Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan, Surung juga merayakan ulang tahunnya yang ke-80. Dua perjalanan hidup yang berjalan beriringan: Republik yang merdeka dan seorang anak yang lahir bersamaan dengan kelahiran bangsa.

Kunjungan Simbolik Bupati

Bupati Humbang Hasundutan, Dr. Oloan P. Nababan, SH, MH bersama Sekda Chiristison Rudianto Marbun, M.Pd, menyempatkan diri mengunjungi kediaman Surung. Dengan penuh hormat, Bupati menyampaikan ucapan selamat ulang tahun sekaligus selamat HUT ke-80 RI.

“Merdeka! Selamat HUT RI ke-80 dan selamat ulang tahun ke-80 untuk Bapak Surung Lumbantobing. Semoga Tuhan senantiasa memberkati dengan kesehatan dan panjang umur,” ucap Oloan dengan tulus.

Kunjungan tersebut bukan sekadar formalitas. Ada makna simbolik yang dalam: menghormati generasi tua yang menjadi saksi awal Republik ini berdiri. Surung Lumbantobing adalah pengingat nyata bahwa kemerdekaan bukan sekadar cerita dalam buku, melainkan perjalanan hidup yang dialami oleh manusia yang lahir bersamaan dengan bangsa.

Dari Desa Sileang untuk Merdeka

Usai kunjungan di Doloksanggul, Bupati melanjutkan perjalanan ke Desa Sileang. Di sana, suasana HUT RI dirayakan meriah dengan nuansa kekeluargaan. Warga menyambut Bupati dengan antusias. Sebagai tanda kehormatan, ulos disematkan ke pundaknya—simbol kasih, penghargaan, dan doa bagi seorang pemimpin.

“Warga kami sangat bangga atas kehadiran Bapak di tengah-tengah kami. Doa kami, semoga Bapak diberkati Tuhan dalam memimpin Humbahas,” ujar Biher Sihite mewakili masyarakat Desa Sileang.

Acara berlanjut dengan pemotongan kue ulang tahun HUT RI ke-80. Potongan pertama diberikan kepada Biher Sihite, disusul kepada anak rantau Desa Sileang, Ir. Erwin Princen Banggas Sihite. Potongan kue itu melambangkan rasa syukur dan kebersamaan, bahwa kemerdekaan adalah milik semua lapisan masyarakat.

Yang menarik, perayaan di Desa Sileang dihiasi penampilan drumband unik dari para pelajar SD. Dengan peralatan seadanya—jerigen dan kaleng kue—mereka memainkan ritme penuh semangat. Suara dentuman sederhana itu justru menghadirkan getaran kebanggaan.

“Kami ingin anak-anak belajar semangat kemerdekaan. Walau alatnya sederhana, semangatnya tetap besar,” ujar salah seorang panitia.

Merdeka di Lintongnihuta dan Paranginan

Rangkaian perjalanan Bupati berlanjut ke Kecamatan Lintongnihuta dan Paranginan. Di sana, pekikan lantang “Merdeka! Merdeka! Merdeka!” menggema bersama rakyat. Kehadiran Bupati disambut sebagai bukti bahwa pemerintah tidak hanya hadir di kantor, tetapi juga turun langsung bersama masyarakat.

Dalam setiap kunjungan, Bupati menyampaikan pesan yang sama: pembangunan Humbahas hanya bisa terwujud dengan persatuan. “Mari kita sama-sama membangun Humbahas. Semua lapisan masyarakat harus berperan aktif. Dengan bersatu, kita bisa mencapai kemajuan,” tegasnya.

Harmoni Pemimpin dan Rakyat

Perjalanan Bupati pada 17 Agustus 2025 itu lebih dari sekadar safari kunjungan. Ia menyinggahi rumah seorang warga yang lahir bersama bangsa, menerima ulos dari rakyat desa, menikmati kreativitas anak-anak dengan drumband sederhana, hingga menyapa warga di kecamatan lain. Semua itu memperlihatkan hubungan yang akrab antara pemimpin dan rakyat.

Momentum HUT RI ke-80 ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya dirayakan di ibu kota dengan parade megah, tetapi juga di desa-desa dengan cara yang sederhana, tulus, dan penuh semangat. Dari jerigen yang dipukul anak-anak hingga ulos yang disematkan warga, semuanya memiliki makna mendalam: kebersamaan, perjuangan, dan cinta tanah air.

Surung Lumbantobing: Wajah Hidup Perjalanan Bangsa

Di antara semua rangkaian itu, kisah Surung Lumbantobing tetap menjadi titik paling menyentuh. Lahir pada hari yang sama dengan lahirnya bangsa, ia seolah menjadi wajah hidup perjalanan Republik. Seperti Indonesia, ia menua, menghadapi tantangan, tetapi tetap berdiri tegak sebagai saksi sejarah.

Kunjungan Bupati ke rumahnya menjadi simbol penghormatan bukan hanya kepada Surung secara pribadi, tetapi kepada seluruh generasi tua yang telah mengisi perjalanan panjang bangsa ini. Generasi yang lahir di masa sulit, melewati berbagai perubahan zaman, dan kini menyaksikan cucu-cicitnya merayakan kemerdekaan dengan tawa riang.

Merayakan dengan Syukur

Seperti halnya Surung Lumbantobing yang kini menapaki usia senja dengan penuh syukur, demikian pula bangsa Indonesia. Di usia ke-80 tahun kemerdekaan, bangsa ini diajak untuk tetap bersatu, tidak mudah goyah, dan terus bekerja keras demi kesejahteraan bersama.

Di Doloksanggul, pesan itu bergema. Dari rumah sederhana Surung hingga lapangan-lapangan desa tempat rakyat berkumpul, semangat kemerdekaan berpadu dengan semangat kebersamaan. Surung adalah saksi, rakyat adalah pelaku, dan pemerintah adalah penggerak. Semuanya berjalan dalam harmoni: merdeka untuk membangun, merdeka untuk sejahtera.

Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *