Pemkab Humbahas Tanggap: Gotong Royong Perbaiki Gorong-Gorong dan Longsor di Pancur Batu
Humbang Hasundutan, Selasa 19 Agustus 2025
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Pemkab Humbahas) melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama pemerintah desa dan masyarakat bergerak cepat menangani kerusakan jalan usaha tani akibat longsor di Desa Pancur Batu, Kecamatan Pollung. Aksi gotong royong perbaikan gorong-gorong dan penanganan longsor ini dilakukan pada awal pekan sebagai upaya memastikan akses warga kembali normal.
Jalan usaha tani tersebut merupakan urat nadi perekonomian bagi masyarakat Desa Pancur Batu dan sekitarnya. Hampir sebagian besar warga di kawasan itu menggantungkan hidup dari hasil pertanian seperti padi, jagung, kopi, dan hortikultura. Akses jalan yang tertutup material longsor membuat mobilitas warga tersendat. Pengangkutan hasil panen menjadi sulit, bahkan beberapa warga harus menempuh jalur alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu dua kali lipat.
Dampak Langsung Bagi Warga
Menurut keterangan perangkat desa, jalan usaha tani ini setiap hari dilalui puluhan petani yang membawa hasil panen menggunakan kendaraan roda dua maupun angkutan ringan. Kerusakan gorong-gorong dan timbunan material longsor membuat jalur sempat terputus. Bila dibiarkan terlalu lama, kondisi ini bisa mengganggu distribusi hasil panen ke pasar kecamatan hingga pusat kabupaten.
“Kalau jalan usaha tani ini tertutup, kami sangat kesulitan. Misalnya jagung yang sudah dipanen tidak bisa cepat dibawa ke pasar. Lama-lama bisa busuk. Jadi sangat penting jalan ini cepat diperbaiki,” ujar Josen, seorang petani jagung di Pancur Batu, kepada wartawan.
Ungkapan serupa juga disampaikan oleh Mardiana, ibu rumah tangga yang setiap minggu mengangkut hasil kopi ke pasar. Menurutnya, gotong royong ini sangat membantu warga. “Kami merasa diperhatikan, apalagi perbaikan dilakukan tidak menunggu lama. Jadi kami sangat berterima kasih,” ucapnya.
Aksi Gotong Royong Bersama
Plt. Kalak BPBD Humbang Hasundutan, Sabar Purba, menjelaskan bahwa penanganan dilakukan secara gotong royong melibatkan unsur pemerintah desa, masyarakat, serta perangkat daerah terkait. “Kerja sama dan partisipasi aktif masyarakat sangat membantu percepatan penanganan. Kita berharap akses jalan usaha tani ini kembali normal dan dapat digunakan dengan baik oleh warga,” ungkapnya.
Dalam kegiatan itu, petugas BPBD bersama masyarakat membersihkan material longsor, memperkuat badan jalan, serta memperbaiki gorong-gorong yang sebelumnya tersumbat. Dengan alat sederhana seperti cangkul, sekop, hingga mesin pemotong beton, pekerjaan dilakukan secara bertahap.
“Walaupun ini sifatnya darurat, tetapi kita pastikan jalur tidak lagi terhambat. Selanjutnya akan kita koordinasikan dengan dinas teknis agar ada perbaikan permanen,” tambah Sabar Purba.
Komitmen Pemkab Humbahas
Melalui aksi ini, Pemkab Humbahas menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pembangunan infrastruktur desa, terutama yang bersentuhan langsung dengan kepentingan petani. Pj Bupati Humbahas sebelumnya juga menekankan bahwa infrastruktur pertanian tidak boleh diabaikan karena sektor ini menjadi tulang punggung ekonomi daerah.
“Petani adalah ujung tombak perekonomian Humbahas. Maka akses jalan usaha tani harus selalu mendapat perhatian. Pemerintah akan terus mencari solusi, baik melalui anggaran daerah maupun kerja sama lintas sektor,” ujar salah seorang pejabat Pemkab dalam kesempatan terpisah.
Catatan Kritis
Meski demikian, perbaikan ini baru bersifat darurat. Sejumlah pihak menilai perlu ada langkah lebih strategis agar kerusakan serupa tidak terus berulang. Apalagi wilayah Kecamatan Pollung dikenal rawan longsor saat musim hujan karena kontur tanah yang labil.
Pengamat pembangunan daerah menilai pemerintah semestinya sudah memiliki peta kerentanan longsor di tiap kecamatan, sehingga anggaran infrastruktur bisa diarahkan untuk perbaikan permanen. “Kalau hanya gotong royong setiap kali ada longsor, itu sifatnya tambal sulam. Jalan pertanian yang vital perlu dibangun lebih kokoh dengan saluran drainase yang baik,” ungkap seorang tokoh masyarakat setempat.
Masyarakat berharap ke depan ada program jangka panjang yang menyentuh pembangunan jalan usaha tani, bukan sekadar penanganan darurat. “Gotong royong memang bagus, tapi tidak cukup. Kami ingin jalan ini diperbaiki permanen supaya tidak bolak-balik rusak,” tutur seorang warga lainnya.
Gotong Royong sebagai Modal Sosial
Terlepas dari itu, kegiatan perbaikan gorong-gorong dan penanganan longsor di Pancur Batu menunjukkan kuatnya tradisi gotong royong di tengah masyarakat Humbang Hasundutan. Tradisi ini menjadi modal sosial penting dalam menghadapi berbagai persoalan, termasuk bencana alam.
Dengan keterlibatan langsung masyarakat, penanganan longsor yang biasanya memakan waktu berhari-hari dapat diselesaikan lebih cepat. Selain itu, rasa kebersamaan antarwarga semakin terbangun, memperkuat hubungan antara pemerintah dan rakyat.
Kasus longsor di Desa Pancur Batu, Pollung, hanyalah satu contoh kecil dari tantangan infrastruktur pedesaan di Humbang Hasundutan. Namun dari kejadian ini, tampak jelas bahwa sinergi antara pemerintah dan masyarakat menjadi kunci utama. Pemerintah hadir dengan koordinasi dan dukungan teknis, sementara warga menunjukkan partisipasi aktif menjaga akses jalan pertanian.
Pemkab Humbahas melalui BPBD menegaskan akan terus memantau kondisi jalan tersebut dan melanjutkan koordinasi untuk perbaikan permanen. Harapannya, akses usaha tani di Pancur Batu kembali lancar, petani bisa tersenyum lega, dan roda ekonomi desa terus berputar.
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Frish. H. Silaban
