September 25, 2026

Panen Jagung BUMDes di Paranginan Dorong PADes, Pemkab Humbahas Klaim Perkuat Ekonomi Desa

IMG-20260428-WA0026

 

Dolok sanggul, Selasa 28 April 2026. Putrabhayangkara.id

Panen jagung yang dilakukan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sinar Muda di Kecamatan Paranginan, Kabupaten Humbang Hasundutan, mulai diarahkan menjadi sumber nyata Pendapatan Asli Desa (PADes). Pemerintah Kabupaten Humbahas menilai kegiatan ini bukan sekadar panen rutin, tetapi bagian dari strategi memperkuat kemandirian ekonomi desa di tengah ketergantungan pada transfer anggaran pusat.

Bupati Humbahas Dr Oloan P Nababan yang diwakili Staf Ahli Bupati Bidang Pemerintahan, Hukum dan Politik, Eliapzan Sihotang, menghadiri panen jagung bersama pengurus BUMDes dan masyarakat di Desa Pearung Silali, Selasa (28/4). Kegiatan itu juga diikuti sejumlah pejabat daerah, mulai dari Asisten Pemerintahan dan Kesra, pimpinan organisasi perangkat daerah, hingga unsur TNI-Polri.

Eliapzan menegaskan, budidaya jagung yang dijalankan BUMDes Sinar Muda merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah desa dan masyarakat, yang diarahkan untuk memperkuat basis ekonomi lokal. Namun di balik pernyataan tersebut, muncul pertanyaan penting: sejauh mana kegiatan ini benar-benar mampu meningkatkan pendapatan desa secara berkelanjutan.

“BUMDes tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Eliapzan dalam sambutannya.

Klaim tersebut menempatkan BUMDes sebagai instrumen utama pembangunan ekonomi desa. Namun hingga saat ini, belum dipaparkan secara rinci besaran produksi jagung, nilai penjualan, maupun kontribusi langsung terhadap PADes dari kegiatan tersebut.

Secara konsep, model usaha seperti ini memang relevan dengan arah kebijakan nasional yang mendorong desa menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis potensi lokal. Jagung, sebagai komoditas pangan strategis, memiliki pasar yang relatif stabil. Akan tetapi, keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh produksi, melainkan juga akses pasar, harga jual, serta efisiensi distribusi.

Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Humbahas, Tukka Siahaan, yang turut hadir dalam kegiatan itu, belum merinci capaian produksi maupun target pengembangan ke depan. Padahal, data tersebut menjadi indikator utama untuk menilai apakah program ini sekadar simbolik atau benar-benar berdampak ekonomi.

Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Humbahas menyatakan akan terus mendorong penguatan BUMDes melalui pembinaan dan pendampingan lintas sektor. Langkah ini dinilai penting, mengingat tidak sedikit BUMDes di berbagai daerah yang gagal berkembang akibat lemahnya manajemen, minimnya inovasi, serta ketergantungan pada bantuan pemerintah.

Dalam konteks ini, panen jagung di Paranginan bisa menjadi titik awal, namun belum cukup untuk dijadikan tolok ukur keberhasilan tanpa dukungan sistem bisnis yang jelas. Ketiadaan informasi mengenai rantai distribusi—apakah hasil panen sudah terhubung dengan offtaker atau masih bergantung pada pasar lokal—menjadi celah yang perlu dijawab.

Lebih jauh, kontribusi terhadap PADes menjadi isu krusial. Secara regulasi, PADes bersumber dari hasil usaha desa, termasuk BUMDes. Namun dalam praktiknya, tidak semua unit usaha mampu memberikan pemasukan signifikan karena skala usaha yang kecil atau pengelolaan yang belum profesional.

Eliapzan menyebut, hasil panen jagung diharapkan dapat memperkuat kapasitas fiskal desa dan mengurangi ketergantungan pada dana transfer. Pernyataan ini sejalan dengan kebutuhan jangka panjang desa untuk mandiri secara keuangan. Meski demikian, tanpa transparansi angka dan mekanisme distribusi keuntungan, klaim tersebut sulit diverifikasi.

Di tingkat lapangan, keberhasilan program seperti ini juga sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat. Kepala Desa Lobutolong Habinsaran, Suparna Gianto Sianturi, bersama kelompok tani menjadi aktor utama dalam menjalankan usaha budidaya jagung. Sinergi antara pemerintah desa dan warga menjadi faktor kunci, terutama dalam menjaga keberlanjutan produksi.

Namun tantangan ke depan tidak ringan. Fluktuasi harga jagung, risiko gagal panen akibat cuaca, serta keterbatasan akses modal dan teknologi dapat menjadi penghambat. Tanpa mitigasi yang jelas, keberhasilan panen saat ini berpotensi tidak berlanjut dalam jangka panjang.

Pengamat ekonomi pedesaan menilai, BUMDes akan efektif jika dikelola dengan pendekatan bisnis, bukan sekadar program administratif. Artinya, harus ada perencanaan produksi, analisis pasar, hingga strategi pemasaran yang terukur. Jika tidak, BUMDes berisiko menjadi proyek jangka pendek tanpa dampak signifikan.

Panen jagung di Paranginan menunjukkan adanya upaya konkret menggerakkan ekonomi desa. Namun, untuk benar-benar menjadi pilar kemandirian, diperlukan lebih dari sekadar seremoni panen. Transparansi data, penguatan manajemen, dan kepastian pasar menjadi faktor penentu apakah inisiatif ini mampu bertahan dan berkembang.

Dengan demikian, keberhasilan BUMDes Sinar Muda masih perlu diuji dalam jangka waktu lebih panjang. Panen hari ini bisa menjadi sinyal positif, tetapi keberlanjutan dan kontribusi nyata terhadap PADes akan menjadi ukuran sesungguhnya dari efektivitas program tersebut.

Diterbitkan Media Putra Bhayangkara ID
( Frish )

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *