Kredit HP Dinilai Merugikan Konsumen, Depresiasi Harga Jadi Faktor Utama
Pontianak — Praktik kredit telepon genggam (HP) kembali menjadi sorotan setelah banyak konsumen mengeluhkan kerugian finansial akibat tingginya nilai depresiasi perangkat elektronik tersebut. Meski menawarkan kemudahan memiliki HP tanpa harus membayar penuh di awal, skema kredit justru dinilai membebani masyarakat, terutama ketika harga ponsel menurun drastis dalam waktu singkat.selasa,(24/3)
Sejumlah analis keuangan menjelaskan bahwa HP merupakan barang konsumtif yang mengalami penurunan nilai sangat cepat, bahkan bisa mencapai 50–60 persen dalam kurun 1 hingga 2 tahun. Kondisi ini membuat konsumen tetap harus membayar cicilan berdasarkan harga awal yang tinggi, ditambah bunga dan biaya administrasi, sementara nilai perangkat sudah jauh merosot.
“Ketika seseorang mengambil kredit HP selama 12 hingga 24 bulan, sering kali saat cicilan lunas, nilai jual kembalinya sudah sangat rendah. Total pembayaran justru jauh melebihi harga pasaran HP tersebut,” ujar seorang pengamat finansial.
Selain depresiasi, kredit HP juga dibebani biaya tambahan, seperti bunga, biaya administrasi, serta asuransi, sehingga total pembayaran bisa jauh lebih mahal ketimbang pembelian tunai. Risiko lain yang kerap dialami konsumen adalah denda keterlambatan, yang menambah beban cicilan.
Tak sedikit pula kasus di mana penyedia kredit mengunci perangkat dari jarak jauh atau memblokir IMEI jika konsumen gagal membayar cicilan. Akibatnya, HP tidak dapat digunakan sama sekali, sementara kewajiban pembayaran tetap berjalan.
Meski demikian, kredit HP dianggap masih relevan jika digunakan untuk kebutuhan produktif, seperti menunjang pekerjaan atau usaha. Kredit baru dinilai menguntungkan jika konsumen memperoleh promosi cicilan 0 persen tanpa biaya tersembunyi dan memiliki kemampuan finansial yang stabil.
Namun secara umum, para ahli mengimbau masyarakat untuk lebih bijak. “Kredit HP untuk sekadar memenuhi gaya hidup adalah keputusan finansial yang kurang sehat. Sebaiknya konsumen mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan membayar, dan penurunan nilai barang sebelum mengambil keputusan,” tambahnya.
Tren kredit HP diprediksi masih akan berlanjut, namun edukasi finansial dinilai menjadi kunci untuk mencegah masyarakat terjebak dalam utang konsumtif jangka panjang.(Sabirin)
