September 25, 2026

Klaim 200 Warga, Hadir 15 Orang: Aksi Zeki Munthe di PT. BEL Dipertanyakan

Humbang Hasundutan | Sabtu, 02 Agustus 2025

Sebuah aksi unjuk rasa yang diklaim mewakili ratusan warga terdampak aktivitas PLTMH PT. Bakara Energi Lestari (BEL) di Baktiraja, berlangsung dengan partisipasi yang justru memantik tanda tanya. Aksi yang dipimpin oleh Zeki Munthe, warga asal Sirisirisi yang kini berdomisili di Jakarta, hanya dihadiri oleh sekitar 15 orang.

Padahal dalam surat pemberitahuan aksi yang dikirim ke pihak berwenang, disebutkan bahwa massa aksi mencapai 200 orang warga terdampak.

Minim Partisipasi, Minim Representasi

Pantauan langsung di lokasi aksi, tepatnya di depan kantor PLTMH PT. BEL di Desa Marbun Tonga Dolok, Kecamatan Baktiraja, menunjukkan suasana yang jauh dari semangat demonstrasi massa. Tidak tampak spanduk tuntutan, atribut aksi, ataupun orasi kolektif. Peserta aksi berdiri terpencar, sebagian duduk santai, bahkan beberapa di antaranya merokok sembari mengamati situasi tanpa ekspresi serius.

> “Klaim 200 warga itu tidak terlihat. Kami hanya temukan sekitar 15 orang di lapangan, dan sebagian besar bukan warga yang terdampak langsung proyek,” ujar Kasi Humas Polres Humbang Hasundutan, Aiptu Delmar Sitompul.

Orasi Sepi, Aspirasi Sendiri?

Dalam dokumentasi visual yang diterima redaksi, tampak Zeki Munthe menyampaikan orasi menggunakan mikrofon portabel, dengan latar para peserta aksi yang tampak lebih sibuk berbincang santai dibanding mendengar. Suasana lebih menyerupai pertemuan informal ketimbang aksi massa yang terorganisir.

Aksi ini juga tidak disertai surat kuasa atau dukungan resmi dari kepala desa setempat. Sejumlah tokoh masyarakat justru mengaku tidak tahu-menahu soal aksi tersebut.

> “Kami di desa tidak pernah diajak bicara. Kalau ada aspirasi warga, biasanya disampaikan melalui kepala dusun atau rapat resmi. Ini tiba-tiba ada yang datang bawa-bawa nama warga,” ungkap salah satu tokoh Desa Marbun Tonga Dolok yang enggan disebutkan namanya.

Tuntutan Tanpa Dasar Formal

Aksi yang diklaim membawa aspirasi masyarakat itu menyampaikan empat tuntutan:

1. Pembukaan gerbang kantor untuk dialog langsung.

2. Penagihan janji pembangunan jalan dan lampu sejak 2017.

3. Permintaan perbaikan irigasi.

4. Penolakan pembangunan PLTMH baru di wilayah Baktiraja.

Namun berdasarkan investigasi redaksi, tidak ditemukan dokumen resmi, MoU, atau perjanjian antara PT. BEL dan warga terkait pembangunan infrastruktur jalan maupun lampu jalan. Sementara keluhan irigasi sudah ditanggapi oleh pihak perusahaan, yang menyatakan komitmen untuk turun langsung meninjau lokasi pada Sabtu (2/8).

Ada Apa di Balik Penolakan Proyek Baru?

Yang menarik, aksi ini juga menyuarakan penolakan terhadap pembangunan PLTMH baru di wilayah Baktiraja—proyek yang menurut sumber internal pemerintah daerah sudah melalui tahapan AMDAL dan konsultasi publik.

Seorang pejabat di lingkungan Pemkab Humbahas menyebut adanya kemungkinan kepentingan luar yang menunggangi isu ini:

> “Dalam proyek energi, pasti ada tarik-menarik kepentingan. Ada kemungkinan pemain lain tidak ingin proyek ini berjalan mulus, dan aksi semacam ini bisa jadi bagian dari strategi itu,” ujar sumber tersebut.

PT. BEL Tetap Kooperatif, Polisi Fasilitasi Dialog

Meski aksi minim partisipasi, PT. BEL tetap bersikap terbuka. Manajemen perusahaan bersedia berdialog langsung dan menyatakan akan segera melakukan verifikasi lapangan terkait saluran irigasi yang dikeluhkan.

Sementara itu, pihak kepolisian turut hadir untuk mengamankan situasi dan memfasilitasi proses dialog.

Kesimpulan Redaksi: Aksi yang Gagal Menyakinkan

Berdasarkan hasil investigasi Media Putra Bhayangkara, aksi yang digelar oleh Zeki Munthe ini lebih banyak mengundang keraguan daripada simpati. Ketidakhadiran warga terdampak, tidak adanya mandat formal, minimnya bukti administratif, dan ketidaksiapan massa membuat gerakan ini terkesan berbunyi nyaring namun kosong isi.

Fakta Lapangan:

> Gambar dokumentasi menunjukkan suasana aksi: minim massa, minim atribut, dan ekspresi pasif peserta. Salah satu peserta terlihat merokok santai, menambah kesan bahwa unjuk rasa ini kehilangan momentum bahkan sebelum dimulai.

Reporter: Frish H. Silaban
Media Putra Bhayangkara | Edisi Investigatif

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *