September 25, 2026

Kasus Bundir di Lombok Utara (KLU) Meningkat, Apa Peran Pemda?

Putrabhayangkara NTB 25/04/25 – Kasus bunuh diri (Bundir) meningkat di Kabupaten Lombok Utara (KLU), Nusa Tenggara Barat (NTB), dalam kurun waktu kurang dari satu tahun, pihak kepolisian mencatat ada 10 kasus yang dipublikasikan dari periode Mei 2024 hingga April 2025, dan beberapa kasus yang tidak di publikasi atas permintaan pihak keluarga.

Kasus Bundir terakhir terjadi pada Kamis 24 April 2025, yang dilakukan oleh seorang pria berinisial J (45) warga Desa Sigar Penjalin, Kecamatan Tanjung, KLU.

Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri mencatat, sepanjang Januari hingga Agustus 2024, terjadi 849 kasus bunuh diri di Indonesia.

Plt. Kepala Dinas Kesehatan Lombok Utara, H. L. Bahrudin mengatakan bahwa pihaknya sudah rutin melakukan program kesehatan mental/jiwa bagi masyarakat KLU.

“Kesehatan mental / jiwa salah satu program yang di laksanakan di puskesmas, dan rutin di laksanakan” Ujar Bahrudin saat dihubungi via WhatsApp Jumat 25/04/25.

Ia menambahkan bahwa program sosialisasi ada di semua puskesmas.

“Ada Bang, kegiatan nya ada di puskesmas semua” Tambah Bahrudin

Aktivis sosial sekaligus Ketua LSM NCW NTB, Fathurrahman Lord mengatakan bahwa pihaknya prihatin atas banyaknya kasus Bundir di KLU, Lord menduga pihak Dikes KLU tidak serius melakukan pencegahan, dan pengendalian kasus Bundir.

“Masyarakat tidak merasakan adanya peran terkait, kasus yang bermunculan malah meningkat, saya menduga Dikes KLU tidak serius dalam melakukan pencegahan dan pengendalian” Ujar lord

Menurut Lord, Dikes KLU harusnya melakukan penelitian, observasi, membuat jasa konsultasi dan call center yang dipublikasikan, sehingga masyarakat bisa mudah mendapat konseling dan penanganan mental, Lord menduga pihak Dikes tidak punya data khusus kasus bunuh diri.

“Kasusnya bermunculan hampir setiap bulan, mungkin Dikes tidak memiliki data kasus bunuh diri, sehingga
terjadilah keburaman dan peningkatan kasus, saran saya kepada Kadikes agar bisa memanfaatkan perpanjangan tangannya
yaitu puskesmas dengan sebaik mungkin. Lalu, menganggarkan dana untuk melaksanakan sosialisasi
terkait pencegahan dan pengendalian kasus bunuh diri ke kelurahan/desa-desa
turun bersama program posyandu” Tutup lord

Sementara tokoh masyarakat Tanjung Syaikh Batarfi meminta Dikes KLU melakukan kerjasama dengan para tokoh agama dan masyarakat di desa-desa.

“Bundir bukan hanya masalah psikis saja, tapi juga kurangnya pemahaman atas agama” Ujar syaikh batarfi

Syaikh menambahkan penguatan spritual kepada masyarakat sangat penting dilakukan agar masyarakat bisa menerima cobaan hidup dengan syukur dan sabar.

“Tokoh agama mempunyai otoritas tinggi di masyarakat, menjadi sangat penting melibatkan para tokoh agar masyarakat mudah disentuh” Tutupnya (AMI)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *