September 25, 2026

Kapolres Tolikara Pimpin Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Hidrometerologi Kabupaten Tolikara Tahun 2025

Karubaga, Tolikara, MPB — Dalam rangka mengantisipasi serta menghadapi terjadinya bencana alam di wilayah Kabupaten Tolikara, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H.,M.H Pimpin langsung pelaksanaan Apel Gelar Pasukan Kesiapsiagaan. Rabu, (5/11/2025).

Hadir dalam pelaksanaan kegiatan apel gelar pasukan tersebut diantaranya Para PJU dan Personel Polres Tolikara, Personel Brimob BKO, Personel Kodim 1716/Tolikara, Personel Satgas 511/Pamtas, Satuan Polisi Pamong Praja Kabupaten Tolikara, Dinas Perhubungan Udara (Bandara Karubaga).

Pada pelaksanaan kegiatan tersebut Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H.,M.H membacakan Amanat langsung Bapak Kapolri Jenderal Polisi Drs. Listyo Sigit Prabowo, M.Si menyatakan Salam sejahtera bagi kita sekalian Syalom, Om Swastiastu nama budaya salam kebajikan

yang saya hormati Segenap Unsur Pimpinan Daerah, Para Pejabat TNI, Polri dan Instansi Lainnya, Para Tokoh agama, Pemuda, dan masyarakat serta para tamu undangan dan peserta apel gelar pasukan yang saya banggakan.

Puji syukur kehadiran Tuhan Yang Maha Kuasa dengan atas limpahan rahmat dan karunianya hari ini kita masih diberikan kesehatan untuk melaksanakan apel kesiapan dalam rangka tanggap darurat bencana yang diselenggarakan secara serentak di seluruh Indonesia.

Kegiatan ini merupakan bentuk pengecekan terhadap kesiapan personil maupun sarpras dalam pencegahan dan penanggulangan bencana alam sehingga diharapkan seluruh personil dan stakeholder yang terlibat dapat bersinergi secara sigap, cepat dan tepat dalam menghadapi berbagai potensi bencana ke depan demi menjamin terlindunginya keamanan dan keselamatan masyarakat.

Peserta apel, hadirin yang saya hormati, sebagaimana kita ketahui bersama bencana alam merupakan salah satu tantangan Global yang dihadapi oleh seluruh negara di dunia berdasarkan laporan UNDRR tahun 2025 terdapat lebih dari 124 juta jiwa yang berdampak bencana alam setiap tahunnya .

Demikian juga dengan Indonesia yang secara geografis terletak di kawasan Ring of fire atau cincin api dunia. Kondisi tersebut menjadi Indonesia seperti salah satu negara dengan tingkat kerawanan bencana tertinggi di dunia. Hal tersebut sejalan dengan hasil survei World Risk Index tahun 2025, yang menempatkan Indonesia pada peringkat ketiga negara dengan potensi bencana alam, serta memiliki karakter resiko kompleks dan tingkat kerentanan yang relatif tinggi.

Berdasarkan data BNPB sampai dengan tanggal 19 Oktober 2025, telah terjadi 2.606 bencana alam diantaranya 1.289 banjir, 544 cuaca ekstrem, 511 karhutlah, 189 tanah longsor, 22 gempa bumi, 4 erupsi gunung berapi serta Beberapa bencana alam lainnya. Berbagai bencana tersebut tingkat telah mengakibatkan 361 orang meninggal dunia, 37 orang hilang, 615 orang luka – luka, 5,2 juta orang mengungsi, 31.496 rumah rusak serta 887 fasilitas umum dan perkantoran rusak.

Dampak bencana alam tersebut tidak hanya menimbulkan korban jiwa dan kerugian ekonomi. Tetapi juga meninggalkan trauma psikologis serta mengganggu keberlangsungan kehidupan sosial masyarakat, untuk itu dibutuhkan langkah strategis yang komprehensif, responsif dan berkesinambungan dalam rangka mencegah serta menanggulangi berbagai potensi bencana tersebut.

Terlebih lagi berdasarkan data BMKG saat ini 43,8% wilayah Indonesia telah memasuki musim hujan, di mana puncaknya diperkirakan akan terjadi secara bertahap dari bulan November 2025 hingga Januari 2026. Meningkatnya curah hujan tersebut berpotensi mengakibatkan bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung, hingga gelombang tinggi, khususnya pada beberapa wilayah seperti Aceh, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Pulau Jawa, Bali, NTT, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua.

Selain itu BMKG juga mendeteksi bahwa bulan November 2005 akan mulai terjadi fenomena La Nina, yang diperkirakan berlangsung hingga Februari 2026. Meskipun La Nina di prediksi dalam kategori lemah, namun tetap harus di waspadai, karena juga akan berpengaruh terhadap meningkatnya kerawanan bencana yang berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan di atas normal.

Dalam menghadapi tantangan tersebut, kecepatan dan ketepatan respon menjadi salah satu faktor utama keberhasilan penanganan bencana. Oleh karena itu diperlukan kesiapan yang optimal dari seluruh elemen bangsa baik dari TNI – Polri, Pemerintah Pusat hingga Daerah, BNPB, BASARNAS, PMI, BMKG, Kementerian/Lembaga dan stakeholder terkait beserta seluruh masyarakat guna menjamin terlaksananya Quick Response terhadap setiap situasi bencana.

Sebagaimana disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia Bapak Prabowo Subianto dalam sidang kabinet paripurna tanggal 20 Oktober 2025 bahwa kita diberi kekuasaan oleh rakyat untuk melindungi rakyat dari semua bahaya termasuk bahaya ancaman dari badai dan dari bencana.

Hal ini merupakan amanah yang harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Kita harus mampu menunjukkan bahwa negara selalu hadir untuk melindungi setiap rakyat Indonesia dalam setiap situasi, trauma dan menghadapi masa-masa sulit. Di sisi lain amanah ini bukan sekedar tanggungjawab atas pelaksanaan tugas, melainkan juga sebuah panggilan moral dan wujud pengabdian tulus terhadap kemanusiaan.

Penulis : Ardi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *