Ironi Mahasiswa Akper Taput Terjerumus Narkoba, Masa Depan Hancur di Balik Jeruji
Tapanuli Utara – Sabtu 22 Maret 2025
Dunia pendidikan kembali tercoreng dengan tertangkapnya lima mahasiswa Akademi Keperawatan (Akper) Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara akibat penyalahgunaan narkoba jenis ganja. Ironisnya, sebagai calon tenaga kesehatan, mereka justru terjerumus dalam pergaulan yang berlawanan dengan profesi yang mereka cita-citakan.
Satuan Reserse Narkotika Polres Tapanuli Utara bergerak cepat setelah mendapatkan informasi dari masyarakat mengenai aktivitas mencurigakan di lingkungan kampus Akper Taput. Pada Rabu malam, tim opsnal yang telah melakukan pemantauan berhasil menangkap WSM (18), salah satu mahasiswa Akper, di Jalan Raya Balige. Saat dihentikan, WSM sempat membuang ganja kering seberat 20,24 gram ke semak-semak, namun aksinya diketahui oleh petugas.
Hasil interogasi mengungkap bahwa ganja tersebut diperoleh dari RNAS (21), yang juga mahasiswa Akper. Petugas pun segera menyisir asrama dan menemukan RNAS tengah bersembunyi di semak-semak belakang kampus bersama tiga temannya, yakni JGD (20), RS (18), dan FVBS (21). Mereka tertangkap basah sedang asyik mengonsumsi ganja dengan sisa barang bukti seberat 1,97 gram.
Dari keterangan yang diperoleh, RNAS mengakui bahwa ganja yang mereka konsumsi berasal dari seorang warga bernama Elkandi Judika Simanjuntak (21), yang kemudian berhasil ditangkap pada pukul 23.30 WIB di Jalan Raya Tarutung saat mengendarai sepeda motor.
Kini, keenam tersangka telah diamankan di Polres Tapanuli Utara untuk pemeriksaan lebih lanjut guna mengungkap jaringan peredaran narkoba yang lebih luas.
Mahasiswa Kesehatan yang Lupa Akan Tanggung Jawabnya
Kasus ini menjadi pukulan telak bagi dunia pendidikan, terutama institusi kesehatan yang bertujuan mencetak tenaga medis profesional. Seharusnya, mahasiswa keperawatan memiliki kesadaran lebih tinggi akan bahaya narkoba, mengingat mereka telah mempelajari dampaknya terhadap kesehatan. Namun, realitas yang terjadi justru sebaliknya.
Lima mahasiswa ini, yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan praktik medis, malah mengisi hari-hari mereka dengan mengonsumsi barang haram. Tindakan mereka bukan hanya menghancurkan masa depan pribadi, tetapi juga mencoreng nama baik kampus dan profesi keperawatan secara umum.
Lemahnya Pengawasan dan Bahaya Pergaulan Bebas
Peredaran narkoba yang merambah ke lingkungan akademik menandakan adanya celah dalam sistem pengawasan kampus. Apakah pihak institusi benar-benar memberikan perhatian terhadap kehidupan mahasiswanya? Apakah ada bimbingan dan pengawasan ketat di asrama?
Kasus ini juga menunjukkan betapa besar pengaruh lingkungan dan pergaulan dalam membentuk kebiasaan seseorang. Jika mahasiswa lebih memilih untuk bergabung dengan kelompok yang salah, maka konsekuensi berat seperti ini pun tak terhindarkan.
Dampak Hukum dan Harapan ke Depan
Kini, kelima mahasiswa tersebut harus menghadapi konsekuensi hukum yang berat. Selain berurusan dengan pihak kepolisian, mereka juga terancam kehilangan masa depan akademik dan karier di bidang kesehatan.
Kejadian ini harus menjadi peringatan keras bagi mahasiswa lain agar lebih selektif dalam memilih pergaulan. Sementara itu, pihak kampus juga harus mengambil langkah tegas dengan meningkatkan pengawasan dan memberikan edukasi tentang bahaya narkoba.
Polres Tapanuli Utara telah menegaskan komitmennya dalam memberantas peredaran narkotika di wilayahnya. Namun, tugas menjaga generasi muda dari bahaya narkoba bukan hanya tanggung jawab aparat hukum, tetapi juga keluarga, institusi pendidikan, dan masyarakat secara keseluruhan.
Jangan sampai masa depan yang seharusnya cerah justru hancur karena keputusan yang salah.
Diterbitkan Oleh Media Putra Bhayangkara 22 Maret 2025
Frish. H. Silaban
