Agustus 14, 2026

Festival Etnik Religi Tolikara 2026 Resmi Dibuka, Satukan Budaya, Iman, dan Semangat Membangun Tolikara

IMG-20260812-WA0047

Tolikara (Karubaga), Papua Pegunungan, MPB – Semangat melestarikan budaya, memperkuat iman, dan membangun daerah terasa begitu kuat di Kabupaten Tolikara. Festival Etnik Religi Tolikara (FERT) Ke-I Tahun 2026 resmi dibuka pada Rabu (12/08/2026) di Lapangan Merah Putih, Kota Karubaga, Distrik Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan.

Mengusung tema “Merawat Budaya, Menguatkan Iman, Membangun Tolikara”, kegiatan perdana ini menjadi momentum penting untuk mempertemukan nilai-nilai religi, kekayaan budaya, kreativitas generasi muda, serta potensi pariwisata dan ekonomi masyarakat Tolikara.

Pembukaan FERT berlangsung mulai pukul 12.04 hingga 16.00 WIT dan dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., Wakil Bupati Tolikara Yotam Wonda, S.H., M.Si., Pangkoops TNI Habema Mayjen TNI Yudha Airlangga, Danrem 172/PWY Brigjen TNI Robby Suryadi, S.Sos., M.M., Dandim 1716/Tolikara Letkol Inf. Derek S. Rumbino, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., Sekda Tolikara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., MA., Presiden GIDI Pdt. Usman Kobak, S.Th., M.A., Ketua GIDI Wilayah Tolikara Pdt. Jeremias Wandik, S.Th., serta unsur Kementerian Agama, pimpinan OPD, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda dan sekitar 500 masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan ibadah syukur, doa, puji-pujian, doa syafaat, serta refleksi Firman Tuhan. Suasana kemudian dilanjutkan dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan laporan Ketua Panitia FERT Tahun 2026 Herbeth Sonny Imbiri, S.AP.

Dalam laporannya, Ketua Panitia menyampaikan bahwa FERT diselenggarakan sebagai bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama masyarakat untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan religi, memperkenalkan kekayaan seni budaya daerah, sekaligus mendorong pengembangan pariwisata dan ekonomi kreatif.

Festival yang berlangsung pada 12–13 Agustus 2026 tersebut menghadirkan berbagai kegiatan, di antaranya pertunjukan seni budaya daerah, kegiatan bernuansa religi, pertunjukan tradisi masyarakat Tolikara, pameran produk ekonomi kreatif dan UMKM, serta penampilan musik ukulele yang melibatkan 150 pelajar tingkat SD, SMP, dan SMA se-Karubaga.

Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian Agama RI Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.A.P., dalam sambutannya memberikan apresiasi atas terselenggaranya FERT sebagai ruang untuk memperkuat persaudaraan, kerukunan dan persatuan di tengah keberagaman.

Ia mengajak seluruh masyarakat menjadikan festival tersebut sebagai momentum untuk menampilkan wajah Tolikara yang ramah, aman, damai dan sejahtera.

«“Festival ini bukan sekadar perayaan, melainkan sarana mempererat persaudaraan, memperkuat kerukunan, dan meneguhkan persatuan di tengah keberagaman yang kita miliki.”»

Sementara itu, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., dalam sambutannya menegaskan bahwa FERT bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat identitas masyarakat Tolikara melalui perpaduan iman dan budaya.

Menurutnya, iman memberikan arah sementara budaya memberikan akar. Keduanya harus berjalan bersama untuk membangun masyarakat yang memiliki identitas kuat, berkarakter, ramah dan mampu menghadapi masa depan.

Bupati juga menekankan pentingnya menjadikan Tolikara sebagai Tanah Injil yang ramah dan Tanah Damai, dengan menunjukkan nilai kasih, persaudaraan, penghormatan terhadap sesama serta keramahan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat.

Ia mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan festival sebagai ruang pendidikan, panggung kebudayaan, sekolah perdamaian, jendela pariwisata dan penggerak ekonomi masyarakat.

“Budaya kita adalah jati diri kita, iman kita adalah kekuatan kita, keramahan kita adalah wajah kita, anak-anak kita adalah masa depan kita, alam kita adalah rumah kehidupan kita, dan persatuan adalah jalan kemajuan kita,” tegas Bupati Tolikara.

Bupati juga memberikan perhatian khusus terhadap generasi muda agar seni, musik, budaya dan kegiatan positif dapat menjadi sarana pembinaan sekaligus menjauhkan anak-anak dari minuman keras, narkoba, perjudian, kekerasan maupun penyalahgunaan media sosial.

Selain itu, masyarakat diajak menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan selama festival berlangsung. Menurutnya, pembangunan dan kegiatan budaya harus tetap berjalan seiring dengan kepedulian terhadap hutan, mata air, sungai dan lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang.

Dari sisi ekonomi, FERT diharapkan mampu memberikan manfaat langsung kepada masyarakat. Mama-mama, pemuda, petani, peternak, pengrajin, seniman, pelaku kuliner, pengelola penginapan, pengemudi hingga pelaku ekonomi kreatif didorong menjadi bagian penting dalam perputaran ekonomi festival.

Puncak pembukaan ditandai dengan pelepasan balon ke udara pada pukul 14.11 WIT sebagai simbol resmi dibukanya Festival Etnik Religi Tolikara Ke-I Tahun 2026.

Suasana semakin meriah dengan persembahan lagu Tolikara oleh Hosana Singer, lagu Tanah Papua, persembahan lagu pujian, serta penampilan musik gitar ukulele oleh 150 pelajar SD, SMP dan SMA di Kota Karubaga.

Tak hanya menampilkan seni musik, festival juga menghadirkan pentas sejarah masuknya Injil di Lembah Toli yang diperankan oleh pemuda-pemudi GIDI. Pertunjukan tersebut menjadi salah satu upaya memperkenalkan sejarah dan nilai-nilai religi kepada generasi muda melalui seni pertunjukan.

Festival juga semakin semarak dengan kehadiran 18 stan pameran yang didirikan Pemerintah Daerah Kabupaten Tolikara sebagai ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai potensi daerah, produk ekonomi kreatif dan UMKM.

Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H. turut hadir dalam kegiatan tersebut bersama unsur TNI, pemerintah daerah, tokoh agama, tokoh adat dan masyarakat.

Kehadiran unsur keamanan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari sinergi bersama untuk memastikan seluruh rangkaian Festival Etnik Religi Tolikara berjalan aman, tertib dan kondusif.

Kapolres Tolikara menegaskan bahwa Polri bersama seluruh unsur terkait akan terus mendukung kegiatan masyarakat yang memiliki nilai positif, khususnya kegiatan yang memperkuat persatuan, kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya lokal.

“Kami dari Polres Tolikara mendukung penuh kegiatan Festival Etnik Religi ini. Budaya, agama dan kebersamaan merupakan kekuatan yang harus terus kita rawat bersama. Mari kita jadikan festival ini sebagai momentum untuk mempererat persaudaraan dan menjaga Tolikara tetap aman, damai dan kondusif,” ujar Kapolres jhx.

Kegiatan pembukaan FERT Ke-I Tahun 2026 berakhir pada pukul 16.00 WIT. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan aman, tertib dan kondusif.

Festival Etnik Religi Tolikara diharapkan tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi berkembang menjadi ruang bersama untuk menjaga warisan budaya, memperkuat nilai-nilai keagamaan, mengembangkan kreativitas generasi muda, mempromosikan pariwisata serta meningkatkan perekonomian masyarakat.

Dari Lembah Toli, Tolikara menyampaikan pesan kepada Papua, Indonesia dan dunia: budaya adalah jati diri, iman adalah kekuatan, keramahan adalah wajah, dan persatuan adalah jalan menuju masa depan.

Penulis : Gunz

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *