FERT Tolikara 2026 Ditutup Meriah, Parade Budaya Pelajar Jadi Simbol Generasi Penerus Lestarikan Budaya
Tolikara (Karubaga), Papua Pegunungan, MPB – Festival Etnik Religi Tolikara (FERT) Ke-I Tahun 2026 resmi berakhir setelah berlangsung selama dua hari, 12–13 Agustus 2026. Penutupan festival berlangsung meriah di Lapangan Merah Putih, Kota Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua Pegunungan, Kamis (13/08/2026).
Mengusung tema “Merawat Budaya – Menguatkan Iman – Membangun Tolikara”, hari kedua FERT menjadi momentum penting dalam memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus menanamkan nilai-nilai keimanan, persatuan, dan kebersamaan.
Kegiatan dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., Wakil Bupati Tolikara Yotam Wandik, S.H., M.Si., Dandim 1716/Tolikara Letkol Inf. Derek S. Rumbino, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., Sekda Kabupaten Tolikara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., MA, Wakapolres Tolikara AKP Budiharjo Kadir, Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian RI Luksen Jems Mayor, S.Sos., M.A.P., Kepala Kementerian Agama Kabupaten Tolikara Mikhel Dandirwalu, S.Th., M.M., para pimpinan OPD, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, serta sekitar 500 masyarakat.
Salah satu momen yang paling menarik perhatian dalam rangkaian penutupan adalah Parade Budaya yang melibatkan peserta didik dari enam satuan pendidikan di Kota Karubaga, yaitu SD Lentera Harapan Karubaga, SD Negeri Karubaga, SD YPPGI Karubaga, SMP Negeri Karubaga, SMP YPPGI Karubaga, dan SMA Negeri Karubaga.
Parade tersebut menempuh rute mulai dari Jalan Pemuda, Bandar Udara Karubaga, Jalan Ampera Atas, Jalan Ampera Bawah, hingga berakhir di Lapangan Merah Putih Karubaga.
Uniknya, parade tidak hanya diikuti oleh para pelajar. Bupati dan Wakil Bupati Tolikara bersama jajaran Forkopimda turut berjalan bersama para peserta didik hingga tiba di lokasi finish. Kebersamaan tersebut menjadi gambaran nyata sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dunia pendidikan, dan masyarakat dalam menjaga serta melestarikan budaya daerah.
Setibanya di Lapangan Merah Putih, suasana semakin semarak dengan penampilan musik gitar ukulele yang dibawakan oleh 150 pelajar SD, SMP, dan SMA/SMK di Kota Karubaga yang berkolaborasi dengan Frans Rumbino/Frans Sisir.
Pemerintah Kabupaten Tolikara kemudian memberikan uang pembinaan kepada sekolah yang siswa-siswinya mengikuti tim musik gitar ukulele dan Parade Budaya sebagai bentuk apresiasi terhadap kreativitas serta partisipasi generasi muda.
Dalam sambutannya, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., menyampaikan bahwa FERT bukan sekadar kegiatan hiburan atau seremoni, tetapi menjadi ruang untuk memperkuat jati diri masyarakat Tolikara melalui perpaduan nilai agama dan budaya.
“Festival Etnik Religi yang kita selenggarakan selama dua hari ini bukan sekadar panggung hiburan atau seremoni. Festival ini adalah media refleksi bersama untuk menegaskan kembali jati diri kita sebagai masyarakat Tolikara, masyarakat yang takut akan Tuhan dan bangga akan warisan leluhurnya.”
Bupati juga memberikan apresiasi khusus kepada para pelajar yang telah mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Menurutnya, generasi muda merupakan wajah masa depan Kabupaten Tolikara yang harus dipersiapkan tidak hanya secara akademis, tetapi juga memiliki iman yang kuat dan rasa bangga terhadap budaya daerah.
“Kalian adalah wajah masa depan Kabupaten Tolikara. Lewat kegiatan ini, kita sedang menanamkan investasi karakter yang sangat berharga. Saya berharap generasi muda Tolikara tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, beriman teguh, takut akan Tuhan, serta memiliki rasa bangga terhadap kearifan lokal daerahnya sendiri,” ujar Willem Wandik.
Bupati juga menyampaikan terima kasih kepada panitia penyelenggara, Forkopimda, aparat TNI-Polri, tokoh agama, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, tokoh perempuan, para guru serta seluruh masyarakat yang telah berperan dalam menyukseskan kegiatan.
Menurutnya, keberhasilan pelaksanaan FERT selama dua hari tidak hanya terlihat dari kemeriahan acara, tetapi juga dari terciptanya suasana aman, tertib, damai, dan penuh kekeluargaan.
Bupati kemudian secara resmi menyatakan seluruh rangkaian Festival Etnik Religi Kabupaten Tolikara Ke-I Tahun 2026 ditutup. Doa penutup kegiatan disampaikan oleh Direktur Urusan Agama Kristen Kementerian RI Luksen Jems Mayor.
Kemeriahan penutupan semakin lengkap dengan atraksi paralayang dari Cendrawasi Flying Club. Selain itu, FERT Ke-I Tahun 2026 turut dimeriahkan dengan 18 stan pameran yang didirikan Pemerintah Kabupaten Tolikara.
Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., melalui kehadiran personel Polres Tolikara dalam rangkaian pengamanan kegiatan, turut memastikan seluruh kegiatan masyarakat selama festival dapat berlangsung dengan aman dan kondusif.
“Polres Tolikara berkomitmen mendukung setiap kegiatan positif masyarakat yang dapat mempererat persaudaraan, menjaga kedamaian, serta membangun kebersamaan. Festival seperti ini menjadi ruang yang baik untuk memperkenalkan budaya kepada generasi muda sekaligus memperkuat persatuan di Kabupaten Tolikara,” ujar Kapolres.
Seluruh rangkaian kegiatan hari kedua FERT Ke-I Tahun 2026 berakhir pada pukul 14.00 WIT. Kegiatan berjalan aman, tertib, lancar, dan kondusif.
FERT Tolikara 2026 boleh berakhir secara seremonial, namun semangat yang dibawanya diharapkan terus hidup: budaya tetap terjaga, iman semakin kuat, persaudaraan semakin erat, dan generasi muda semakin bangga menjadi bagian dari Tanah Tolikara.
Penulis : Gunz
