September 25, 2026

Fenomena Upwelling Diduga Kuat Sebabkan Air Danau Toba Keruh dan Ikan Mati: Tim Peneliti USU Lakukan Investigasi Ilmiah

Pangururan, Kamis 31 Juli 2025

Fenomena kematian massal ikan dan kekeruhan air di Danau Toba yang terjadi dalam sepekan terakhir mulai terkuak penyebabnya. Tim peneliti dari Universitas Sumatera Utara (USU), yang dipimpin oleh ahli limnologi Prof. Dr. Ternala Alexander Barus, menyatakan bahwa indikasi kuat mengarah pada fenomena upwelling sebagai penyebab utama.

Upwelling adalah proses pergerakan vertikal air dari dasar danau ke permukaan, yang umumnya terjadi akibat hembusan angin kencang dalam periode tertentu. Proses ini mengangkat endapan sedimen dan senyawa toksik hasil pembusukan dari dasar danau ke permukaan, sehingga mengganggu ekosistem dan menyebabkan kematian ikan secara cepat.

> “Di dasar Danau Toba telah terjadi pembusukan bahan organik yang menghasilkan zat berbahaya seperti amoniak (NH₃), hidrogen sulfida (H₂S), dan senyawa belerang lainnya. Ketika zat ini naik ke permukaan, mereka menurunkan kandungan oksigen terlarut di air menjadi di bawah 2 mg/L — jauh di bawah ambang aman bagi ikan, yang seharusnya di atas 4 mg/L,” terang Prof. Ternala.

Tim USU telah melakukan pengambilan sampel air di kawasan Water Front Pangururan dan akan melanjutkan pengujian di wilayah perairan Sibeabea. Kajian laboratorium tengah berjalan untuk memastikan seberapa parah degradasi kualitas air yang terjadi.

Peran Aktivitas Manusia dan Ancaman Jangka Panjang

Peneliti juga menyoroti bahwa fenomena ini tidak terjadi secara alami semata. Faktor aktivitas manusia turut memperparah kondisi dasar danau, khususnya melalui limbah rumah tangga, pertanian, serta keramba jaring apung (KJA) yang menyumbangkan beban organik berlebih ke ekosistem danau.

“Jika sedimentasi organik di dasar danau terus menumpuk tanpa kontrol, maka setiap kejadian upwelling akan membawa potensi bencana ekologis,” tegas Prof. Ternala.

Sebagai danau meromiktik, Danau Toba secara alami jarang mengalami percampuran vertikal air, sehingga gas-gas beracun dan sedimen organik bisa tertahan lama di lapisan bawah. Begitu terganggu, efeknya bisa langsung mematikan bagi biota di permukaan.

Langkah Selanjutnya dan Imbauan Ilmiah

Tim USU akan menyusun laporan resmi setelah hasil laboratorium lengkap tersedia. Mereka juga mendorong perlunya:

Pemantauan kualitas air secara berkala,

Pengurangan limbah masuk ke danau,

Dan pengaturan kembali tata kelola keramba untuk mencegah eutrofikasi.

Masyarakat diminta tidak panik, namun tetap waspada. Pemerintah daerah dan instansi terkait didorong untuk menyiapkan protokol tanggap limnologi jika fenomena ini kembali terjadi.

Frish. H. Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *