Donatus Sembor Ajak Masyarakat Hayati Pancasila dan Pahami Sejarah Papua
NABIRE, Putrabhayangkara.id – Kepala Suku Moor, Donatus Sembor, mengajak masyarakat di Papua Tengah untuk menghayati nilai-nilai Pancasila, menjaga persatuan, serta memahami sejarah bangsa, termasuk perjalanan sejarah Papua. Ajakan tersebut disampaikan dalam kegiatan bertema Kesaktian Pancasila dan Kilas Balik Sejarah Papua di Nabire, Jumat (9/10/2026).
Donatus menegaskan, Pancasila bukan sekadar dasar negara yang dihafalkan atau diperingati setiap tahun, melainkan pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam sikap dan tindakan sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai Pancasila menjadi landasan penting dalam menjaga kerukunan dan memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat.
“Pancasila adalah nadi bangsa Indonesia. Kita harus menjaga, menghayati, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari,” ujar Donatus dalam sambutannya.
Ia mengatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila setiap 1 Oktober harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen kebangsaan sekaligus mengingat kembali berbagai peristiwa penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, termasuk peristiwa 30 September 1965.
Donatus juga menekankan pentingnya peran generasi muda dalam mempelajari sejarah. Menurutnya, pemahaman terhadap masa lalu diperlukan agar masyarakat dapat mengambil pelajaran, menghargai perjuangan para pendahulu, serta membangun masa depan dengan semangat persatuan.
Dalam kesempatan tersebut, Donatus turut menyoroti pentingnya memahami sejarah Papua secara menyeluruh, termasuk berbagai peristiwa yang berkaitan dengan perubahan nama Irian Barat dan perjalanan sejarah wilayah Papua.
Ia menanggapi perbedaan pandangan mengenai peristiwa 1 Mei dalam sejarah Papua. Menurutnya, pembahasan sejarah perlu didasarkan pada sumber dan kesaksian yang dapat dipertanggungjawabkan sehingga masyarakat memperoleh pemahaman yang lebih utuh.
Donatus juga membagikan kisah yang pernah didengarnya dari seorang tokoh bernama Yusuf Senandi mengenai pengalaman perjuangan di Laut Arafura. Kisah tersebut, menurutnya, menjadi bagian dari ingatan sejarah yang perlu dicermati dan dipelajari oleh generasi penerus.
Ia menilai, penghormatan terhadap para pendahulu harus diwujudkan melalui upaya menjaga warisan sejarah dan budaya, memperkuat persaudaraan, serta menghindari perpecahan di tengah masyarakat.
Donatus berharap kegiatan tersebut tidak hanya menjadi forum mengenang sejarah, tetapi juga ruang edukasi untuk memperkuat wawasan kebangsaan dan mempererat persatuan masyarakat Papua Tengah.
Ia menegaskan, pengamalan Pancasila harus tercermin melalui sikap saling menghormati, menjaga kedamaian, dan membangun kehidupan bermasyarakat yang harmonis.
“Bagi orang Indonesia yang melupakan Pancasila, berarti melupakan jati dirinya sendiri,” demikian pesan Donatus.
Melalui kegiatan tersebut, masyarakat diharapkan semakin memahami pentingnya nilai-nilai Pancasila sekaligus menyikapi sejarah Papua secara bijak, berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, demi menjaga kerukunan dan perdamaian berkelanjutan.
MPB ABIRAYANTI
