Cegah Kanker Serviks, Seluruh Puskesmas di Humbahas Siap Lakukan Skrining HPV
Doloksanggul – Selasa 19 Agustus 2025
Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) melalui Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana menegaskan komitmennya dalam menurunkan angka kematian perempuan akibat kanker leher rahim. Saat ini, seluruh Puskesmas di Humbahas sudah memiliki tenaga kesehatan terlatih untuk melakukan pengambilan sampel cairan serviks sebagai upaya deteksi dini kanker serviks yang dikenal sebagai salah satu penyakit mematikan bagi kaum perempuan.
Kanker leher rahim masih menjadi ancaman besar di Indonesia. Data GLOBOCAN tahun 2020 mencatat, terdapat 36.633 perempuan terdiagnosis kanker serviks dan lebih dari 21.003 meninggal dunia akibat penyakit tersebut. Kondisi ini menempatkan kanker serviks sebagai penyebab kematian tertinggi kedua pada perempuan setelah kanker payudara.
Tingginya angka kematian ini dipicu oleh fakta bahwa 70 persen pasien kanker serviks baru terdeteksi ketika sudah memasuki stadium lanjut. Padahal, jika ditemukan sejak dini, kanker serviks sangat mungkin dikendalikan bahkan disembuhkan.
Faktor Risiko dan Peran HPV
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menegaskan, sekitar 43 persen kematian akibat kanker sebenarnya bisa dicegah dengan menghindari faktor risiko dan melakukan deteksi dini. Kanker serviks hampir seluruhnya berkaitan dengan infeksi Human Papilloma Virus (HPV), yaitu salah satu infeksi menular seksual yang paling sering terjadi di dunia.
Masalahnya, infeksi HPV kerap tidak menimbulkan gejala. Pada sebagian perempuan, virus ini bisa hilang seiring daya tahan tubuh yang kuat. Namun, bila infeksi bertahan lama (persisten), HPV dapat mengubah sel-sel sehat menjadi lesi pra-kanker hingga berkembang menjadi kanker invasif.
“Kanker serviks bukan penyakit yang muncul mendadak. Ada proses panjang yang bisa dicegah. Dan pencegahan terbaik adalah melalui skrining dan vaksinasi HPV,” kata salah satu tenaga medis Puskesmas di Doloksanggul.
Strategi Pemerintah: Skrining HPV DNA
Pemerintah Indonesia kini mendorong skrining kanker serviks dengan metode HPV DNA bagi perempuan usia 30 hingga 69 tahun. Metode ini dianggap lebih akurat dibandingkan dengan pap smear konvensional atau tes IVA (Inspeksi Visual Asam Asetat).
Skrining dilakukan dengan mengambil sampel cairan serviks yang kemudian diperiksa menggunakan mesin PCR (Polymerase Chain Reaction) di laboratorium. Pemeriksaan ini mampu mendeteksi keberadaan DNA HPV yang menjadi penyebab utama kanker serviks.
Berita baiknya, seluruh Puskesmas di Humbahas sudah memiliki tenaga kesehatan terlatih untuk melakukan pengambilan sampel. Setelah itu, sampel dikirim ke RSUD Doloksanggul untuk dianalisis lebih lanjut oleh tenaga laboratorium dan dokter spesialis.
“Kita sudah siap. Semua Puskesmas bisa melayani pengambilan sampel skrining HPV. Hasilnya kemudian ditindaklanjuti di RSUD Doloksanggul. Dengan sistem ini, akses masyarakat lebih mudah dan cepat,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Humbahas.
Peran Daerah dalam Penyelamatan Perempuan
Kehadiran fasilitas ini menjadi langkah strategis Pemkab Humbahas dalam menekan angka kematian akibat kanker serviks. Sebab, keterbatasan akses pelayanan kesehatan selama ini sering menjadi kendala utama perempuan di daerah pedesaan.
Namun, kesiapan fasilitas medis saja tidak cukup. Tantangan terbesar ada pada kesadaran masyarakat perempuan untuk mau memeriksakan diri. Banyak perempuan masih merasa takut, malu, atau menunda pemeriksaan karena minimnya informasi.
Untuk itu, Dinas Kesehatan Humbahas menekankan pentingnya edukasi dan sosialisasi massif di seluruh kecamatan. Program jemput bola melalui penyuluhan di desa-desa juga akan terus digencarkan. Selain itu, pemerintah daerah mendorong program vaksinasi HPV bagi remaja putri agar perlindungan dimulai sejak dini.
“Kalau skrining dan vaksinasi bisa berjalan beriringan, maka kita bisa menurunkan angka kasus baru kanker serviks secara signifikan,” tambahnya.
Harapan ke Depan
Dengan semua fasilitas yang tersedia, Humbang Hasundutan kini termasuk kabupaten yang siap mendukung target nasional eliminasi kanker serviks. WHO sendiri menargetkan, pada tahun 2030 setiap negara harus mampu mengurangi angka kasus kanker serviks melalui tiga strategi utama: vaksinasi HPV, skrining massal, dan pengobatan efektif.
Masyarakat Humbahas kini memiliki kesempatan lebih besar untuk mencegah kanker serviks sejak dini. Pemeriksaan sederhana yang hanya membutuhkan waktu singkat bisa menyelamatkan nyawa dan masa depan ribuan perempuan.
“Lebih baik deteksi sekarang, daripada menyesal kemudian. Jangan tunggu sakit dulu baru periksa. Ingat, kanker serviks bisa dicegah dan bisa disembuhkan bila ditemukan lebih awal,” pesan seorang dokter spesialis kandungan RSUD Doloksanggul.
Langkah nyata Pemkab Humbahas ini bukan hanya sekadar program kesehatan, melainkan investasi jangka panjang untuk menyelamatkan generasi perempuan. Dengan sinergi antara fasilitas kesehatan, tenaga medis, dan kesadaran masyarakat, kanker serviks bukan lagi vonis mati, melainkan penyakit yang bisa dicegah dan dikendalikan.
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Frish. H. Silaban
