Lomba Menulis Aksara Batak di Toba, Upaya Merawat Warisan Leluhur dan Membangkitkan Cinta Budaya Generasi Muda
TOBA – 31 Oktober 2026
putrabhayangkara.id.
Di tengah derasnya arus globalisasi dan pesatnya perkembangan teknologi digital, pelestarian budaya lokal menjadi tantangan tersendiri. Kemudahan mengakses berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia tidak boleh membuat generasi muda kehilangan jati diri serta melupakan warisan leluhur.
Salah satu kekayaan budaya yang perlu terus dijaga adalah Aksara Batak, sistem tulisan tradisional yang menjadi bagian penting dari identitas, sejarah, dan peradaban masyarakat Batak.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap keberlangsungan warisan budaya tersebut, Dewan Kesenian Daerah (DKD) Kabupaten Toba menggelar **Lomba Menulis Aksara Batak Tingkat SMP dan Pagelaran Budaya**, Sabtu (31/10/2026), bertempat di Kompleks Tugu D.I. Panjaitan, Balige, Kabupaten Toba.
Kegiatan ini tidak sekadar menjadi ajang perlombaan untuk memperebutkan gelar juara, tetapi juga menjadi ruang edukasi, pembinaan, sekaligus upaya membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap seni dan budaya Batak Toba.
Dalam laporan panitia yang disampaikan Ketua Panitia Pelaksana, Batara Tambunan, ditegaskan bahwa kegiatan tersebut memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar kompetisi.
Menurutnya, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya melestarikan seni dan budaya Batak Toba, melakukan pembinaan terhadap sanggar seni, grup vokal, serta para pelaku seni. Selain itu, kegiatan tersebut diharapkan mampu mengembangkan minat, bakat, dan kemampuan generasi muda dalam bidang kesenian.
“Termasuk mengembangkan minat dan bakat kemampuan para pelaku seni dan meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap budaya Batak,” ungkap Batara Tambunan.
**Aksara Batak, Identitas Budaya yang Harus Dipertahankan**
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Toba, Rikardo Hutajulu, yang hadir mewakili Bupati Toba, Effendi Sintong P. Napitupulu.
Dalam sambutannya, Rikardo menyampaikan apresiasi kepada DKD Kabupaten Toba beserta seluruh panitia atas terselenggaranya kegiatan yang dinilai turut membantu pemerintah daerah dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan.
Ia menegaskan bahwa warisan leluhur bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan kekayaan identitas yang harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
“Ini sangat membantu kami dalam mengembangkan dan melestarikan kebudayaan. Warisan leluhur harus kita lestarikan,” ujar Rikardo.
Menurutnya, Aksara Batak memiliki nilai luhur yang patut dibanggakan dan dipertahankan. Tidak semua suku bangsa memiliki sistem aksara tradisional sebagai bagian dari kekayaan peradabannya.
“Batak adalah salah satu suku yang mempunyai aksara dan bahasa, ini harus kita lestarikan. Di tengah kemajuan teknologi ini perlu kita tekankan pada anak-anak agar budaya kita tidak tergerus,” tegasnya.
Ia juga memberikan apresiasi terhadap pagelaran seni budaya yang menjadi bagian dari kegiatan tersebut. Pemerintah berharap DKD Kabupaten Toba terus mengambil peran strategis dalam meningkatkan minat dan kecintaan anak-anak terhadap seni serta kebudayaan daerah.
**Ketua DKD: Jangan Sampai Generasi Muda Melupakan Budaya Sendiri**
Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian Daerah Kabupaten Toba, Franshendrik Tambunan, yang juga menjabat sebagai Ketua DPRD Kabupaten Toba, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari perjuangan DKD dalam menjaga jati diri dan mempertahankan warisan leluhur.
Ia mengingatkan bahwa Aksara Batak tidak boleh hanya dipandang sebagai kumpulan simbol atau bentuk tulisan tradisional. Di dalamnya terkandung nilai pengetahuan, sejarah, serta identitas budaya yang perlu dipahami dan diwariskan.
“Kita harus menyadari bahwa aksara Batak bukan sekadar simbol, tetapi di dalamnya ada pengetahuan. Jangan sampai kita lebih mengenal budaya lain namun justru lupa dengan budaya kita sendiri,” ajaknya.
Franshendrik berharap momentum kegiatan tersebut dapat membangkitkan kembali semangat generasi muda untuk mengenal, mempelajari, mencintai, dan melestarikan kebudayaan daerah.
Ia juga menekankan pentingnya merawat serta mempromosikan kekayaan budaya Batak agar semakin dikenal luas, bahkan hingga ke tingkat internasional.
“Semua kekayaan ini harus kita rawat, kita jaga, kita promosikan hingga ke dunia internasional,” katanya sebelum secara resmi membuka kegiatan tersebut.
**51 Pelajar dari 26 SMP Ikuti Lomba Menulis Aksara Batak**
Antusiasme generasi muda dalam kegiatan ini terlihat dari jumlah peserta yang mencapai 51 pelajar, berasal dari 26 Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Toba.
Dalam pelaksanaannya, panitia menerapkan metode perlombaan yang menguji kemampuan peserta dalam membaca dan menuliskan kembali bahasa Batak menggunakan aksara tradisional.
Peserta diberikan sebuah cerita pendek (cerpen) berbahasa Batak yang sebelumnya ditulis menggunakan huruf Latin. Selanjutnya, mereka ditantang untuk menyalin dan mengalihkannya ke dalam Aksara Batak dengan batas waktu pengerjaan selama 30 menit.
Metode ini menjadi salah satu cara untuk mengukur pemahaman peserta terhadap bentuk, susunan, dan penggunaan Aksara Batak, sekaligus memperkenalkan penerapannya melalui tulisan yang memiliki konteks cerita.
Batara Tambunan menjelaskan bahwa naskah cerpen tersebut sengaja disusun dalam bahasa Batak dengan menggunakan huruf Latin agar peserta dapat mengalihkannya ke dalam aksara tradisional.
“Jadi kita buat cerpen berbahasa Batak tetapi kita tulis dengan huruf Latin. Inilah yang kemudian disadur ulang oleh peserta ke dalam Aksara Batak dan akan dinilai oleh para juri yang berkompeten,” jelas Batara kepada awak media.
**Pelestarian Budaya Membutuhkan Regenerasi**
Kegiatan Lomba Menulis Aksara Batak dan Pagelaran Budaya ini menjadi pengingat bahwa pelestarian kebudayaan tidak cukup hanya melalui seremoni atau peringatan tertentu. Dibutuhkan pembelajaran berkelanjutan, ruang kreativitas, pembinaan, serta keterlibatan generasi muda secara langsung.
Sekolah, keluarga, komunitas budaya, sanggar seni, dan pemerintah daerah memiliki tanggung jawab bersama untuk memastikan pengetahuan tentang bahasa, aksara, seni, dan tradisi Batak tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Bahkan, perkembangan teknologi digital seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai sarana baru untuk memperkenalkan dan mempromosikan Aksara Batak melalui media pembelajaran, dokumentasi digital, serta konten kreatif yang mudah diakses generasi muda.
Dengan demikian, warisan leluhur tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi tetap dipelajari, digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada dunia.
Sebab, menjaga Aksara Batak bukan semata-mata mempertahankan bentuk tulisan masa lalu, melainkan menjaga identitas, pengetahuan, dan jati diri budaya agar tetap hidup dari generasi ke generasi.
Media Putra Bhayangkara
Jonaer Silaban S.Pd.
