Forkopimda dan Kedua Pihak yang Bertikai Deklarasikan Damai, Simbol “Patah Panah” Teguhkan Komitmen Tolikara sebagai Tanah Injil dan Tanah Damai
Tolikara (Karubaga), Papua Pegunungan, MPB — Upaya pemulihan keamanan dan persaudaraan masyarakat pascapertikaian di Kabupaten Tolikara memasuki babak penting. Pemerintah Kabupaten Tolikara bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparat TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, serta perwakilan kedua pihak yang bertikai menggelar Konferensi Pers dan Deklarasi Damai di perempatan Tugu Salib, Jalan Irian, Distrik Karubaga, Sabtu (31/10/2026).
Kegiatan yang berlangsung hingga sore hari tersebut menjadi momentum bersama untuk mengakhiri pertikaian yang terjadi pada 24–29 Oktober 2026, menghentikan segala bentuk permusuhan dan aksi balas dendam, sekaligus membangun kembali hubungan persaudaraan antarkeluarga dan masyarakat.
Deklarasi damai ini dihadiri Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos., Wakil Bupati Yotam Wonda, S.H., M.Si., Dandim 1716/Tolikara Letkol Inf. Derek S. Rumbino, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H., Ketua DPR Kabupaten Tolikara Meinus Y. Wenda, S.IP., Sekda Tolikara Dr. Yosua Noak Douw, S.Sos., M.Si., M.A., serta jajaran Forkopimda lainnya.
Turut hadir Ketua LMA Kabupaten Tolikara Demi Kogoya, Ketua GIDI Wilayah Toli Pdt. Yeremias Wandik, S.Th., Sekretaris GIDI Wilayah Toli Tolikara Pdt. Aten Yikwa, S.Th., M.Th., kepala suku, tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh perempuan, tokoh pemuda, serta para pemimpin agama.
Kedua pihak yang bertikai juga hadir melalui perwakilan keluarga almarhum Daniel Kogoya dan perwakilan keluarga Oronius Yikwa alias Pepayangga Yikwa. Kehadiran kedua belah pihak menjadi bagian penting dalam proses penyelesaian dan pemulihan hubungan kekeluargaan.
Dalam sambutannya, Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. mengajak seluruh masyarakat untuk kembali mengingat ikatan persaudaraan dan nilai-nilai keimanan yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Tolikara.
“Kita ini satu tubuh di dalam Kristus dan kita semua adalah keluarga. Kejadian ini merupakan sesuatu yang tidak kita inginkan dan menjadi musibah bagi kita bersama. Karena itu, melalui deklarasi damai ini saya berharap seluruh pihak benar-benar berkomitmen menjaga situasi agar kembali normal seperti biasa. Jangan ada lagi aksi saling menyerang karena hanya akan menimbulkan kerugian, baik korban jiwa maupun materi,” ungkap Bupati.
Bupati juga mengajak perwakilan kedua pihak untuk menandatangani pernyataan sikap dan deklarasi damai sebagai bentuk komitmen bersama yang disaksikan langsung oleh seluruh unsur Forkopimda dan tokoh masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, Kapolres Tolikara Kompol Roberth Hitipeuw, S.H., M.H. bersama jajaran Forkopimda dan unsur pengamanan TNI-Polri turut mengambil peran dalam mengawal jalannya proses perdamaian. Kehadiran aparat keamanan tidak hanya untuk memastikan kegiatan berlangsung aman dan tertib, tetapi juga mendukung terciptanya suasana kondusif agar masyarakat dapat kembali menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kapolres Tolikara menegaskan bahwa deklarasi damai harus menjadi komitmen nyata yang dilaksanakan oleh seluruh pihak, bukan sekadar pernyataan yang disampaikan dalam kegiatan seremonial.
“Kami dari jajaran Polres Tolikara mengajak seluruh masyarakat, khususnya kedua keluarga yang bertikai, agar benar-benar menjaga komitmen perdamaian yang telah disepakati bersama. Tidak boleh ada lagi tindakan saling menyerang, provokasi maupun aksi balas dendam. Apabila di kemudian hari muncul persoalan, mari kita selesaikan melalui komunikasi, musyawarah bersama tokoh adat, tokoh agama, pemerintah daerah dan sesuai ketentuan hukum yang berlaku,” tegas Kapolres.
Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas kebenarannya, termasuk kabar provokatif yang berpotensi kembali memicu perselisihan. Seluruh elemen masyarakat diharapkan bersama-sama menjaga keamanan dan memberikan kesempatan bagi proses pemulihan sosial berlangsung dengan baik.
Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan Pernyataan Sikap dan Deklarasi Damai bertema “Memelihara Damai di Tanah Injil dan Merawat Warisan Penginjilan” oleh Bupati Tolikara Willem Wandik, S.Sos. Pernyataan tersebut memuat sepuluh komitmen bersama, mulai dari meneguhkan Tolikara sebagai Tanah Injil dan Tanah Damai, mengakhiri pertikaian dan balas dendam, memulihkan persaudaraan, memperkuat tanggung jawab adat dan keluarga, menghormati hak asasi manusia serta perbedaan keyakinan, hingga menjadikan perdamaian sebagai landasan pembangunan daerah.
Komitmen tersebut juga menekankan pentingnya pemulihan korban, penghormatan terhadap proses hukum, pencegahan penyebaran berita bohong dan provokasi, serta pembentukan forum komunikasi perdamaian yang melibatkan kedua pihak, pemerintah, aparat keamanan, tokoh adat, tokoh agama, pemuda dan perempuan.
Selanjutnya, pada pukul 16.22 WIT, perwakilan kedua pihak menandatangani pernyataan sikap dan deklarasi damai yang disaksikan langsung oleh Forkopimda dan seluruh unsur yang hadir.
Suasana penuh makna terlihat ketika Dimer Kogoya, perwakilan keluarga Oronius Yikwa alias Pepayangga Yikwa, menyampaikan pernyataan sekaligus melakukan prosesi simbolis patah anak panah sebagai tanda berakhirnya pertikaian.
“Hari ini saya membawa alat perang yang saya gunakan pada saat perang. Secara simbolis saya patahkan, yang berarti permasalahan ini sudah selesai. Apabila di kemudian hari ada pihak yang kembali memulai pertikaian hingga terjadi perang, maka harus diproses sesuai hukum yang berlaku,” ungkap Dimer.
Pernyataan serupa disampaikan Jundi Wanimbo, Kepala Dinas Dispora Kabupaten Tolikara sekaligus perwakilan keluarga almarhum Daniel Kogoya. Ia menegaskan bahwa penandatanganan deklarasi di bawah Salib merupakan bentuk kesadaran bersama untuk kembali mengingat Tuhan dan menjaga kesepakatan perdamaian.
“Kita menandatangani surat pernyataan sikap ini di bawah Salib, yang artinya kita semua masih takut akan Tuhan. Dalam waktu dekat, kami akan memulangkan massa agar masyarakat dapat kembali beraktivitas seperti biasa. Mari kita jadikan kejadian ini sebagai pembelajaran. Jika ke depan ada pihak yang kembali memulai pertikaian, serahkan kepada pihak Kepolisian untuk diproses sesuai hukum. Kita sudah menyatakan damai dan persoalan ini harus berhenti sampai di sini,” tegas Jundi.
Ketua LMA Kabupaten Tolikara Demi Kogoya yang membuka kegiatan turut mengambil peran dalam memfasilitasi pertemuan tersebut. Sementara itu, para pemimpin gereja dan tokoh agama memberikan penguatan melalui doa bersama, sebagai landasan spiritual untuk membangun kembali hubungan persaudaraan dan menghindari terulangnya konflik.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan doa oleh Pdt. Aten Yikwa, S.Th. Setelah konferensi pers selesai pada pukul 17.16 WIT, Bupati bersama rombongan Forkopimda dan unsur TNI-Polri melanjutkan kegiatan rapat konsolidasi di Guest House guna membahas langkah-langkah lanjutan dalam menjaga situasi keamanan dan mengawal pelaksanaan kesepakatan damai.
Sementara itu, Polres Tolikara bersama unsur TNI dan personel Brimob melaksanakan pengamanan secara terpadu. Sekitar 150 personel gabungan Polres Tolikara dan Polsek Karubaga, didukung personel Brimob serta TNI, disiagakan pada sejumlah titik pengamanan, mulai dari pertigaan Giling Batu, Desa Nanggulurik hingga kawasan Tugu Salib Jalan Irian. Seluruh rangkaian pengamanan kemudian ditutup dengan apel konsolidasi yang dipimpin Wakapolres Tolikara AKP Budiharjo Kadir.
Melalui deklarasi ini, seluruh pihak diharapkan tidak hanya berhenti pada penandatanganan kesepakatan, tetapi juga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pemerintah daerah, TNI-Polri, tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda dan perempuan memiliki tanggung jawab bersama untuk menjaga komunikasi, mencegah provokasi serta memastikan masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan aman.
Perdamaian yang telah disepakati di Tugu Salib Karubaga menjadi awal untuk memulihkan persaudaraan dan membangun kembali kehidupan masyarakat Tolikara yang rukun, aman dan harmonis. Dengan semangat Memelihara Damai di Tanah Injil dan Merawat Warisan Penginjilan, seluruh elemen masyarakat diajak bersatu menjaga Tolikara sebagai Tanah Leluhur, Tanah Injil dan Tanah Damai bagi generasi mendatang.
Humas Polres Tolikara
Polisi Bersama Masyarakat
Penulis : Adiyat
