November 5, 2026

Wabup Toba Audi Murphy: Gereja Harus Menjadi Teladan dan Mampu Menarik Hati Jemaat

IMG-20261027-WA0069

BALIGE, 27 Oktober 2026.

Putrabhayangkara.id

Kepemimpinan yang berlandaskan keteladanan, kerendahan hati, dan kemampuan menjawab kebutuhan jemaat menjadi kunci penting bagi gereja untuk tetap relevan di tengah perubahan zaman. Pemimpin gereja tidak cukup hanya piawai berkhotbah dari mimbar, tetapi juga harus mampu menunjukkan karakter Kristus melalui tindakan nyata di tengah jemaat dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O. Sitorus, saat menghadiri Seminar Kepemimpinan Gereja bertema
“Pemimpin yang Menjadi Teladan” di Aula Hotel Barita Land, Balige, Selasa (27/10/2026).

Dalam sambutannya, Audi Murphy menyoroti fenomena sejumlah gereja di Eropa yang mengalami penurunan kehadiran jemaat, bahkan sebagian bangunannya beralih fungsi. Menurutnya, kondisi tersebut menjadi bahan refleksi bagi gereja agar terus mengevaluasi peran, pendekatan pelayanan, serta kualitas kepemimpinannya.

Ia mengingatkan bahwa setiap orang pada dasarnya mengharapkan pemimpin yang mampu menjadi teladan, baik dalam lingkungan gereja maupun dalam kehidupan bermasyarakat.

“Kami pikir ini yang mau dibangun dalam kegiatan hari ini agar kita terbebas dari penilaian negatif oleh umat kita sendiri,” kata Audi Murphy.

Pemimpin Gereja Harus Mengandalkan Keteladanan

Wakil Bupati menjelaskan, kepemimpinan gereja memiliki karakteristik yang berbeda dengan kepemimpinan dalam lembaga pemerintahan. Pemerintah menjalankan kewenangannya berdasarkan peraturan dan mekanisme hukum, sedangkan gereja memiliki pendekatan pelayanan yang bertumpu pada iman, kesadaran, dan keteladanan.

“Gereja tidak punya alat untuk mengharuskan jemaat tunduk. Beda dengan lembaga negara. Pemerintah punya alat melalui peraturan. Maka apa yang dapat dilakukan oleh gereja agar jemaat tetap setia? Salah satunya adalah menjadi teladan di tengah jemaat dan masyarakat,” ujarnya.

Menurut Audi Murphy, keteladanan merupakan fondasi penting untuk membangun kepercayaan jemaat terhadap pemimpin rohani. Perkataan dan tindakan seorang pemimpin gereja harus berjalan seiring sehingga nilai-nilai iman tidak berhenti sebagai ajaran, tetapi diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

Ia juga menegaskan bahwa gereja perlu menghadirkan pelayanan yang menarik dan bermakna bagi jemaat.

“Selain menjadi teladan, pemimpin gereja juga diharapkan mampu memberi hal yang menarik bagi jemaat,” lanjutnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa gereja perlu terus membangun pelayanan yang menyentuh kehidupan umat, memperkuat persekutuan, serta memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat tanpa meninggalkan nilai-nilai iman yang menjadi dasar pelayanannya.

BKAG Toba Ingatkan Pemimpin Gereja Menjauhi Kesombongan

Senada dengan pesan Wakil Bupati, Ketua Badan Kerja Sama Antar Gereja (BKAG) Kabupaten Toba, Pdt. Marganda Lubis, mengingatkan para pemimpin dan gembala gereja agar senantiasa mengedepankan kerendahan hati dalam menjalankan pelayanan.

Ia menekankan bahwa seorang pelayan Tuhan tidak seharusnya membangun kebanggaan diri berdasarkan jabatan, kemampuan berbicara, atau pengetahuan teologis semata. Sebaliknya, seorang pemimpin rohani harus memperlihatkan sikap hidup yang mencerminkan nilai-nilai Kristiani.

“Jangan ada yang menyombongkan diri. Mari kita tundukkan hati kita yang melekat pada Kristus untuk keteladanan. Bukan hanya pintar berkhotbah, tetapi masyarakat harus melihat kerendahan hati kita,” ungkap Pdt. Marganda.

Pernyataan tersebut menegaskan bahwa integritas dan kerendahan hati merupakan bagian penting dari tanggung jawab seorang pemimpin gereja. Keteladanan yang terlihat dalam kehidupan sehari-hari diharapkan mampu memperkuat kepercayaan jemaat sekaligus membangun hubungan yang harmonis dengan masyarakat.

Keteladanan Harus Menyentuh Kehidupan Masyarakat

Sementara itu, Pdt. Mangaranap Sinaga, S.Th., M.Th., bersama jajaran panitia seminar, menyampaikan bahwa keteladanan seorang hamba Tuhan tidak boleh terbatas pada aktivitas pelayanan di mimbar gereja.

Menurutnya, nilai-nilai yang disampaikan melalui khotbah harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang dapat dirasakan oleh masyarakat. Dengan demikian, gereja tidak hanya berperan sebagai tempat peribadatan, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun kehidupan sosial yang lebih baik.

“Bagaimana agar Kabupaten Toba yang kita cintai ini maju dengan bergandengan tangan,” ujarnya.

Ia berharap seminar tersebut menjadi ruang pembelajaran dan refleksi bagi para pemimpin gereja untuk memperkuat kualitas kepemimpinan, meningkatkan kerja sama lintas denominasi, serta membangun sinergi dengan berbagai elemen masyarakat dalam mendukung kemajuan Kabupaten Toba.

Hadirkan Pemimpin Gereja Lintas Denominasi

Seminar Kepemimpinan Gereja ini menghadirkan Ketua Badan Musyawarah Antar Gereja Nasional (Bamagnas) Sumatera Utara, Pdt. Dr. Ruben Yonatan Silalahi, M.Th., sebagai pembicara.

Kegiatan tersebut diikuti para pemimpin gereja dari berbagai denominasi. Kehadiran mereka diharapkan memperluas wawasan mengenai kepemimpinan yang berintegritas, memperkuat persaudaraan antargereja, serta menumbuhkan komitmen bersama dalam menjalankan pelayanan yang berorientasi pada keteladanan.

Melalui seminar ini, pesan yang mengemuka bukan sekadar pentingnya kemampuan seorang pemimpin dalam menyampaikan firman, melainkan juga kesanggupannya menjalankan nilai-nilai yang diajarkan dalam kehidupan nyata.

Gereja yang kuat bukan hanya ditentukan oleh megahnya bangunan atau banyaknya kegiatan, tetapi juga oleh kualitas keteladanan para pemimpinnya, kedekatan pelayanan dengan jemaat, dan kontribusi nyata bagi masyarakat.

Ketika kerendahan hati, integritas, dan kepedulian menjadi bagian dari kehidupan para pelayan Tuhan, gereja diharapkan semakin dipercaya, semakin dirasakan kehadirannya, serta mampu mengambil peran strategis dalam membangun Kabupaten Toba yang harmonis dan berkemajuan.

Sumber: MC Toba

Penulis :Jonaer Silaban S.Pd.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *