RSUD Jombang Imbau Generasi Muda Waspadai Stroke di Usia Produktif
JOMBANG — Mitos bahwa stroke hanya mengintai kelompok lansia kini resmi terpatahkan seiring lonjakan kasus yang menyerang kelompok usia muda dan generasi produktif.
Bahkan, pasien stroke tidak jarang berasal dari kelompok usia 20-an hingga 30-an yang masih berada dalam masa produktif. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius para tenaga kesehatan karena stroke dapat berdampak signifikan terhadap fungsi tubuh dan kualitas hidup penderitanya.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter spesialis saraf RSUD Jombang, dr. Intan Nurswida, Sp.S, dalam program Humas RSUD Jombang Menyapa pada Rabu (7/10/2026).
Dr. Intan, lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) yang telah mengabdi sebagai dokter spesialis saraf sejak 2015, mengungkapkan adanya pergeseran tren usia pasien stroke yang ditemuinya dalam pelayanan kesehatan sehari-hari.
“Bila mendengar kata stroke, biasanya orang akan membayangkan yang datang itu orang tua. Ternyata sekarang ada pergeseran tren. Poli saraf mulai dikunjungi oleh pasien yang hitungannya masih remaja, usia dua puluhan, tiga puluhan. Tentu masih sangat muda,” ujarnya.
Menurutnya, stroke tidak lagi memandang usia. Penyakit ini juga dapat dialami seseorang yang berada di puncak usia produktif, termasuk mereka yang masih menempuh pendidikan tinggi maupun yang belum berkeluarga.
“Stroke itu tidak hanya menyerang lansia atau orang yang sudah sepuh, tetapi sekarang banyak fenomenanya bergeser dan mengenai orang yang relatif muda. Bahkan ada beberapa yang belum menikah, masih kuliah, masih membutuhkan energi yang sangat tinggi, tetapi sudah mengalami keadaan stroke,” jelasnya.
Dr. Intan menjelaskan bahwa stroke pada usia muda umumnya merujuk pada serangan stroke yang terjadi sebelum seseorang menginjak usia 40 tahun.
Faktor pemicunya pun dapat berbeda dari kasus stroke yang lazim ditemukan pada kelompok lansia.
Pada kelompok lansia, salah satu faktor utama stroke berkaitan erat dengan aterosklerosis, yaitu proses penyempitan atau pengerasan pembuluh darah akibat penumpukan plak yang berlangsung dalam jangka panjang.
“Pada stroke lansia, itu terjadi karena proses aterosklerosis murni, karena pengkakuan pembuluh darah. Bisa karena usia, bisa karena memang timbunan plak itu sejak lama. Tetapi pada usia muda ini ada beberapa hal yang harus kita perhatikan,” terangnya.
Salah satu faktor kritis yang perlu diperhatikan pada usia muda adalah gangguan jantung, termasuk gangguan irama jantung (aritmia). Kondisi ini dapat memicu terbentuknya bekuan darah yang kemudian terbawa aliran darah hingga menyumbat otak.
“Pertama, adanya gangguan jantung, misalnya gangguan irama jantung. Saat gangguan irama jantungnya kambuh, dia bisa muncul keadaan stroke,” kata dr. Intan.
Selain masalah jantung, gangguan pembekuan darah juga menjadi faktor risiko yang perlu diwaspadai. Kondisi medis ini kerap kali tidak terdeteksi sebelum seseorang mengalami masalah kesehatan yang fatal.
“Pada stroke usia muda yang tidak terdeteksi adalah adanya gangguan pembekuan darah. Jadi pasien itu sering kali perdarahannya sulit berhenti. Ada gangguan misalnya hemofilia,” jelasnya.
Menurut penjelasannya, seseorang dengan gangguan pembekuan darah dapat mengalami perdarahan otak yang serius meskipun pemicunya tergolong ringan.
Di sisi lain, stroke penyumbatan (iskemik) juga kian marak mengintai usia muda akibat munculnya faktor risiko metabolik yang dahulu lebih dominan pada kelompok lansia.
“Stroke penyumbatan yang seharusnya ini terjadi pada lansia, saat ini sering muncul pada remaja. Terjadi peningkatan koagulasi pada darahnya. Orang yang masih muda sering kali tidak terdeteksi adanya penyakit metabolik, misalnya diabetes, kolesterol, dan asam urat yang dulu identik dengan lansia, tetapi sekarang pada orang muda pun sudah banyak terdeteksi,” imbuhnya.
Di samping faktor bawaan dan kondisi medis tertentu, perubahan gaya hidup drastis menjadi salah satu pemicu utama yang sangat disayangkan. Kebiasaan begadang, kurang tidur, pola makan tidak seimbang, konsumsi makanan berminyak berlebihan, minim aktivitas fisik, hingga beban stres tinggi berkontribusi besar memicu faktor risiko penyakit ini.
“Penyebab usia muda terkena stroke karena memang ada gangguan bawaan, seperti gangguan jantung dan gangguan irama. Tetapi yang tersering juga pola hidup. Tidak bisa dipungkiri, pola hidup orang zaman sekarang berbeda dengan orang zaman dahulu, seperti begadang dan kurang istirahat,” tuturnya.
Oleh sebab itu, dr. Intan menegaskan bahwa langkah pencegahan stroke harus dimulai sejak dini. Masyarakat diimbau untuk tidak menunggu hingga timbul penyakit baru mulai peduli terhadap kesehatan.
Kenali Gejala Stroke dengan Metode FAST
Selain pencegahan, masyarakat juga dituntut untuk mengenali gejala awal stroke agar pasien dapat segera memperoleh pertolongan medis secara cepat dan tepat.
Metode acuan yang paling praktis digunakan adalah FAST (Face, Arm, Speech, Time):
F – Face (Wajah): Perhatikan apakah salah satu sisi wajah terlihat tidak simetris, miring, atau terkulai saat tersenyum.
A – Arm (Lengan): Perhatikan apakah salah satu lengan mengalami kelemahan, mati rasa, atau tidak bisa diangkat secara seimbang.
S – Speech (Bicara): Perhatikan apakah penderita mendadak berbicara pelo, tidak jelas, sulit mengeluarkan kata-kata, atau bingung memahami pembicaraan.
T – Time (Waktu): Jika menemukan salah satu gejala di atas, jangan menunda. Segera bawa penderita ke instalasi gawat darurat (IGD) atau rumah sakit terdekat.
“Kalau ada nyeri kepala disertai kelemahan tubuh sebelah kiri atau kanan, kita harus langsung berpikir bahwa itu stroke. Kalau ada gejala seperti itu, segera ke rumah sakit yang memiliki layanan stroke,” tegas dr. Intan.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak membuang waktu berharga hanya untuk menunggu keputusan keluarga atau berdiskusi terlalu lama.
Keterlambatan penanganan medis dapat berakibat fatal karena pasien kehilangan kesempatan emas untuk mendapatkan terapi penyelamatan fungsi otak (golden period).
“Jangan dibiarkan. Misalnya serangan pagi saat bangun tidur sudah terasa, tetapi menunggu keluarga datang, menunggu Pak RT, menunggu Pak RW, akhirnya setelah rapat baru berangkat malam. Itu akhirnya terlambat,” ujarnya.
Dr. Intan menyarankan agar pasien yang diduga mengalami stroke langsung dilarikan ke rumah sakit yang memiliki fasilitas penunjang lengkap seperti CT Scan, serta didukung tim medis yang siap melakukan penanganan darurat secara responsif.
Langkah ini sangat krusial, terutama bagi pasien yang membutuhkan penanganan khusus pada fase awal serangan (golden window).
“Kalau ada kasus stroke, mohon segera datang sebelum empat setengah jam dari saat onset serangan. Tidak usah menunggu rundingan dulu. Ini sering terjadi di masyarakat Jombang,” jelasnya.
Dr. Intan menambahkan, salah satu kendala utama keterlambatan penanganan stroke pada usia muda adalah adanya penyangkalan (denial) baik dari pasien maupun pihak keluarga.
Banyak anak muda merasa tubuhnya masih fit sehingga enggan percaya bahwa mereka bisa terkena serangan stroke.
“Stroke pada usia muda sering terlambat dikenali atau terlambat dibawa ke rumah sakit karena ada faktor denial. Merasa tidak mungkin stroke karena masih muda, masih sehat. Padahal secara ilmu mereka sudah tahu ini adalah stroke, bahkan ada riwayat keluarga yang sudah pernah merawat pasien stroke,” ungkapnya.
Keputusan keluarga yang berlama-lama mengambil tindakan atau terlalu banyak pertimbangan hanya akan merugikan pasien.
“Waktu itu sangat berharga. Kalau orang bilang time is money, bagi saya time is brain,” tegas dr. Intan.
Sebagai upaya preventif, dr. Intan mengajak seluruh masyarakat Jombang untuk konsisten menerapkan pola hidup sehat sejak usia muda.
Masyarakat disarankan untuk menjaga asupan gizi seimbang, mencukupi waktu istirahat, mengelola stres dengan baik, rutin berolahraga, serta menghindari kebiasaan begadang.
“Saya berharap masyarakat Jombang bisa melakukan preventif terhadap stroke. Yang jelas pola hidup sehat, makan yang sehat, tidur yang teratur, kurangi stres, olahraga yang teratur minimal seminggu dua kali. Itu untuk kita bisa mencegah jangan sampai stroke di usia muda,” pesannya.
Ia menambahkan, ancaman stroke di usia muda bukan lagi isu lokal di Jombang saja, melainkan masalah kesehatan yang perlu diwaspadai secara nasional.
“Kurangi begadang, karena angka kejadian stroke di usia muda di Jombang relatif meningkat sekarang. Mungkin tidak di Jombang saja, tetapi juga di bagian Indonesia yang lain,” pungkasnya.
Mengenali faktor risiko, menerapkan gaya hidup sehat, serta memahami tanda-tanda awal stroke melalui metode FAST merupakan langkah krusial dalam meningkatkan kewaspadaan bersama.
Terlebih, ketika gejala stroke muncul, kecepatan mendapatkan pertolongan medis sangat menentukan. Dalam penanganan stroke, setiap menit sangat berarti karena semakin cepat pasien mendapatkan pertolongan, semakin besar peluang untuk memperoleh penanganan yang optimal. (Beni)
