November 5, 2026

Pemkab Toba Peringati Hari Kesadaran Nasional dan Hari Ulos Nasional 2026, Wabup Ajak Masyarakat Lestarikan Warisan Budaya Batak

IMG-20261019-WA0063

TOBA – Senin ,19 Oktober 2026.

Putrabhayangkara.id

Pemerintah Kabupaten Toba memperkuat komitmen pelestarian warisan budaya Batak melalui apel peringatan Hari Kesadaran Nasional sekaligus Hari Ulos Nasional tingkat Kabupaten Toba tahun 2026. Kegiatan yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Toba, Senin (19/10/2026), menjadi momentum untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap ulos sebagai identitas budaya sekaligus mendorong pengembangannya sebagai potensi ekonomi daerah.

Wakil Bupati Toba, Audi Murphy O Sitorus, yang bertindak sebagai pimpinan apel, menyampaikan bahwa peringatan Hari Ulos Nasional yang jatuh setiap 17 Oktober bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan kesempatan untuk memperkuat kecintaan masyarakat terhadap salah satu warisan budaya kebanggaan masyarakat Batak.

Menurutnya, kebanggaan tersebut terlihat dari antusiasme peserta apel yang mengenakan pakaian bermotif ulos. Persiapan yang lebih maksimal dibandingkan biasanya juga mencerminkan meningkatnya kesadaran untuk menghargai karya budaya leluhur.

“Dari situ kita melihat ada kebanggaan bagi kita dengan penggunaan ulos ini. Persiapan kita pun lebih maksimal, tidak seperti biasanya. Ini menunjukkan kebanggaan kita atas karya besar budaya kita,” ujar Audi Murphy.

Ulos, Warisan Budaya dengan Nilai Filosofis dan Sejarah

Dalam amanatnya, Audi Murphy menjelaskan bahwa ulos telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia pada 17 Oktober 2014. Selanjutnya, Hari Ulos Nasional mulai diperingati pada 17 Oktober 2015 sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga keberlangsungan warisan budaya tersebut.

Bagi masyarakat Batak, ulos bukan sekadar kain tradisional yang memiliki nilai estetika. Ulos mengandung filosofi, nilai sejarah, serta makna sosial yang diwariskan secara turun-temurun.

Keberadaan ulos juga tidak terpisahkan dari berbagai tahapan kehidupan masyarakat Batak, mulai dari rangkaian adat yang berkaitan dengan kelahiran, perkawinan, hingga upacara kematian.

Nilai-nilai tersebut menjadikan ulos sebagai simbol identitas, penghormatan, kasih sayang, dan ikatan sosial dalam kehidupan masyarakat.

“Oleh karena itu, ulos harus kita lestarikan. Kalau tidak kita yang melestarikan, siapa lagi?” tegasnya.

Pelestarian Ulos Membutuhkan Peran Bersama

Audi Murphy juga menegaskan bahwa pengakuan ulos sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia merupakan hasil perjuangan dan kontribusi berbagai pihak yang memberikan pemikiran, tenaga, serta dukungan dalam proses pengajuan hingga memperoleh pengakuan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Karena itu, keberlanjutan pelestarian ulos membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat, mulai dari pemerintah daerah, tokoh adat, budayawan, perajin, pelaku usaha, lembaga pendidikan, hingga generasi muda.

Upaya pelestarian tidak cukup hanya melalui penggunaan ulos dalam kegiatan resmi atau upacara adat. Diperlukan pula langkah nyata untuk memperkenalkan filosofi, sejarah, teknik pembuatan, dan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya kepada generasi penerus.

Dengan demikian, ulos tidak hanya dikenal sebagai peninggalan masa lalu, tetapi tetap hidup, berkembang, dan relevan di tengah perubahan zaman.

Ulos Berpotensi Mendorong Ekonomi Kreatif Daerah

Selain memiliki nilai sosial dan budaya, pelestarian ulos juga menyimpan peluang ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Pengembangan produk ulos dan berbagai turunannya berpotensi membuka kesempatan usaha, memperluas pasar bagi perajin lokal, serta memperkuat sektor ekonomi kreatif di Kabupaten Toba.

Potensi tersebut dapat dikembangkan melalui inovasi desain, peningkatan kualitas produk, promosi digital, serta penguatan pemasaran yang menjangkau pasar nasional maupun internasional, tanpa menghilangkan nilai filosofis dan keaslian budaya yang melekat pada ulos.

Dalam konteks ini, pelestarian budaya dan pembangunan ekonomi dapat berjalan beriringan. Ketika produk ulos semakin dihargai, para perajin diharapkan memperoleh manfaat ekonomi yang lebih baik, sementara pengetahuan dan keterampilan tradisional tetap terjaga.

Masyarakat pun diharapkan semakin memahami bahwa mencintai ulos tidak cukup hanya dengan mengenakannya, tetapi juga dengan menghargai proses pembuatannya, mendukung para perajin, dan mewariskan nilai-nilai budayanya kepada generasi berikutnya.

Dunia Pendidikan Turut Mendukung Pelestarian Budaya

Apel gabungan tersebut turut dihadiri perwakilan Institut Teknologi Del (IT Del), di antaranya Indra Tambunan, Dekan Fakultas Informatika dan Teknik Elektro yang juga merupakan salah satu dosen pada Program Magister Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).

Kehadiran unsur perguruan tinggi menjadi bagian penting dalam membangun sinergi antara pemerintah daerah dan dunia pendidikan, termasuk dalam mendorong inovasi serta memperluas pengenalan kekayaan budaya lokal di tengah perkembangan teknologi.

Ke depan, penguatan literasi budaya yang didukung pemanfaatan teknologi dapat menjadi salah satu pendekatan untuk memperkenalkan ulos kepada generasi muda dan masyarakat yang lebih luas.

Peringatan Hari Kesadaran Nasional dan Hari Ulos Nasional 2026 di Kabupaten Toba diharapkan tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi menjadi pengingat bahwa pelestarian budaya merupakan tanggung jawab bersama.

Ulos adalah warisan leluhur, identitas masyarakat Batak, sekaligus peluang untuk membangun masa depan ekonomi kreatif yang berakar pada kekayaan budaya daerah.

Media Putra Bhayangkara
oleh : Jonaer Silaban

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *