Rutan Balige dan Pemkab Toba Perkuat Sinergi Layanan WBP hingga Ketahanan Pangan
BALIGE — Kamis 10 September 2026. Putrabhayangkara.id
Kepala Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Balige, Valen Sonar Rumbiak, bersama jajaran melakukan kunjungan silaturahmi sekaligus audiensi dengan Bupati Toba. Pertemuan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat sinergi antara jajaran pemasyarakatan dan Pemerintah Kabupaten Toba dalam mendukung pelayanan serta pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Audiensi berlangsung dalam suasana hangat dan produktif. Sejumlah agenda strategis menjadi pembahasan, mulai dari penguatan layanan kesehatan WBP, pemenuhan dokumen identitas kependudukan, program ketahanan pangan, hingga persoalan kapasitas hunian Rutan Balige.
Dalam bidang kesehatan, Rutan Balige mendorong penguatan koordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Toba. Sinergi tersebut diarahkan untuk mendukung pelayanan kesehatan secara rutin bagi WBP melalui Klinik Rutan.
Selain pelayanan kesehatan, pembahasan juga mencakup dukungan obat-obatan dasar serta sinkronisasi data kepesertaan BPJS Kesehatan bagi WBP. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan warga binaan memperoleh akses pelayanan kesehatan sesuai haknya selama menjalani masa pembinaan di Rutan.
Agenda lain yang turut menjadi perhatian adalah percepatan perekaman Kartu Tanda Penduduk elektronik (e-KTP) bagi WBP. Dalam hal ini, Rutan Balige mendorong sinergi dengan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Toba.
Pemenuhan dokumen identitas kependudukan memiliki arti penting dalam proses pembinaan dan persiapan reintegrasi sosial WBP. Kepemilikan identitas yang sah dapat membantu warga binaan ketika nantinya kembali menjalani kehidupan di tengah keluarga dan masyarakat.
Pembahasan kemudian berkembang pada program ketahanan pangan dan kemandirian pertanian. Salah satu kegiatan yang mendapat perhatian adalah pengembangan pertanian jagung sebagai bagian dari program asimilasi dan pembinaan kemandirian WBP.
Melalui kegiatan tersebut, WBP tidak hanya diarahkan untuk mengikuti pembinaan kepribadian, tetapi juga memperoleh keterampilan praktis yang dapat dikembangkan sebagai bekal setelah menyelesaikan masa pidana. Pengembangan keterampilan produktif diharapkan mampu meningkatkan kesiapan WBP untuk kembali berkontribusi di tengah masyarakat.
Persoalan kondisi overcapacity Rutan Balige juga menjadi salah satu isu penting dalam pertemuan tersebut. Kondisi Rutan yang berada di kawasan padat penduduk menjadi perhatian dalam upaya menciptakan lingkungan hunian dan pelayanan pemasyarakatan yang lebih representatif.
Pemerintah Kabupaten Toba menyampaikan dukungan untuk mengkaji opsi penyediaan lahan yang lebih representatif bagi Rutan Balige. Pembahasan mengenai lahan tersebut diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam mencari solusi jangka panjang terhadap persoalan kapasitas dan kebutuhan pengembangan fasilitas pemasyarakatan.
Di sela kegiatan audiensi, Kepala Rutan Balige juga menyerahkan seperangkat meja dan kursi berbahan kayu mahoni kepada Bupati Toba. Perabot tersebut merupakan hasil karya WBP dengan merek Bonajior.
Penyerahan hasil karya tersebut sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap kreativitas dan keterampilan warga binaan yang dikembangkan melalui program pembinaan kemandirian di Rutan Balige.
Produk berbahan kayu tersebut menunjukkan bahwa program pembinaan dapat diarahkan pada kegiatan yang menghasilkan keterampilan sekaligus memiliki nilai ekonomi. Dengan pembinaan yang berkelanjutan, WBP diharapkan mampu memperoleh kemampuan yang dapat dimanfaatkan secara produktif setelah kembali ke masyarakat.
Rutan Balige menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Toba atas dukungan dan sinergi yang telah terjalin. Kolaborasi lintas instansi tersebut dinilai penting dalam mendukung pelaksanaan tugas pemasyarakatan, terutama dalam aspek pelayanan dasar, pemenuhan hak WBP, pembinaan kemandirian serta persiapan reintegrasi sosial.
Sinergi antara Rutan Balige dan Pemkab Toba diharapkan terus diperkuat melalui koordinasi yang berkelanjutan. Dengan kerja sama tersebut, pelayanan kepada WBP dapat semakin inklusif, humanis dan berkelanjutan, sekaligus mendukung tujuan pemasyarakatan dalam mempersiapkan warga binaan kembali ke tengah masyarakat.
Frish. H. Silaban
