Aktivis Banjar Soroti Krisis Ekonomi dan Pengelolaan Tempat Rekreasi yang Terabaikan
Kota Banjar,Putrabhayangkara.id tengah menghadapi tantangan besar dalam sektor ekonomi dan pengelolaan aset daerah. Tingkat pengangguran yang terus meningkat menjadi salah satu permasalahan utama, sementara ketersediaan lapangan pekerjaan masih sangat terbatas. Kondisi ini semakin memperburuk kesejahteraan masyarakat, terutama mereka yang bergantung pada sektor informal.
Dalam beberapa tahun terakhir, angka pengangguran di Kota Banjar terus mengalami kenaikan. Minimnya investasi dan kurangnya peluang usaha baru yang dapat menyerap tenaga kerja lokal memperparah situasi ini. Banyak lulusan sekolah dan perguruan tinggi di Banjar kesulitan mendapatkan pekerjaan, sementara sektor industri dan bisnis belum berkembang secara optimal.Di sisi lain, sektor pariwisata yang seharusnya menjadi salah satu pilar ekonomi daerah tampaknya kurang mendapat perhatian serius. Salah satu contohnya adalah Situ Leutik, destinasi wisata alam yang berlokasi di Desa Cibeureum, Kecamatan Banjar. Tempat ini memiliki potensi besar untuk menarik wisatawan lokal maupun luar daerah. Namun, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa fasilitas di tempat ini kurang terawat dan tidak dikelola secara optimal.
Sejumlah warga mengeluhkan minimnya upaya pemerintah dalam mempromosikan serta mengembangkan Situ Leutik agar dapat memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Padahal, anggaran daerah telah dialokasikan untuk pengelolaan tempat ini, tetapi hasilnya masih jauh dari harapan.
Kritik Aktivis terhadap Kebijakan Pemerintah
Aktivis Banjar, Bung San’d Mardiana Putra, menyoroti kondisi ini dan mengkritik kurangnya keseriusan pemerintah dalam mengelola sumber daya yang ada. Ia menilai bahwa pemerintah kota perlu lebih proaktif dalam membuka lapangan pekerjaan serta memastikan aset daerah dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
> “Kota Banjar memiliki banyak potensi, baik di sektor ekonomi maupun pariwisata. Namun, jika tidak dikelola dengan baik, potensi tersebut akan sia-sia. Kita butuh kebijakan yang lebih konkret dan berpihak pada kesejahteraan masyarakat,” tegasnya.
Bung San’d juga menyoroti pentingnya perencanaan yang matang dalam pengelolaan aset daerah agar anggaran yang telah dikeluarkan tidak terbuang percuma.
> “Jangan sampai tempat seperti Situ Leutik hanya menjadi proyek tanpa hasil yang jelas. Jika dikelola dengan baik, tempat ini bisa menjadi sumber ekonomi baru bagi warga sekitar serta meningkatkan pendapatan daerah,”Karna dulu pembuatan destinasi wisata situ leutik hampir menghabiskan anggaran 60miliar kini malah tidak terawat dan malah jadi tempat kenakalan anak yg beranjak dewasa dengan menggunakan tempat situ leutik untuk jadi tempat bolos sekolah ujarnya.
Selain itu, ia menekankan perlunya solusi konkret untuk masalah pengangguran di Banjar.
> “Tidak cukup hanya membuka pelatihan atau seminar, tapi juga harus ada kebijakan nyata yang benar-benar menciptakan lapangan pekerjaan,” tambahnya.karna angkat pengangguran sekarang mencapai 80% di Banjar itu di dominasi oleh lulusan SMA SMK
Harapan untuk Perubahan
Kritik dari aktivis ini menjadi catatan penting bagi pemerintah Kota Banjar untuk lebih fokus pada kebijakan yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat. Langkah-langkah konkret, seperti meningkatkan investasi, mendukung UMKM, serta mengoptimalkan sektor pariwisata, perlu segera dilakukan agar Banjar tidak terus terjebak dalam stagnasi ekonomi.
Dengan kebijakan yang lebih terarah dan pengelolaan yang lebih baik, diharapkan Kota Banjar dapat bangkit dari krisis ekonomi serta memaksimalkan potensi aset daerahnya demi kesejahteraan masyarakat,Senin,10/03/2024
Red.Bangdhietbzr
