Lapas Siborongborong Panen 350 Kg Sayur Kol: Wujud Nyata Program Ketahanan Pangan
Siborongborong, Tapanuli Utara – Jumat, 28 Februari 2025
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Siborongborong terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung program ketahanan pangan. Kali ini, Lapas Siborongborong berhasil melaksanakan panen perdana sayur kol tahap pertama dengan hasil mencapai 350 kilogram dari lahan seluas 300 m² yang dikelola di area luar tembok Lapas, Jumat (28/02/2025).
Kegiatan panen ini dipimpin langsung oleh Kalapas Siborongborong didampingi jajaran petugas, serta melibatkan warga binaan yang telah dilatih dalam bidang pertanian. Sebelum panen dimulai, acara diawali dengan doa bersama sebagai bentuk syukur atas hasil yang diperoleh.
Dalam keterangannya, Kalapas Siborongborong menyampaikan bahwa hasil panen akan didistribusikan untuk dua kebutuhan utama. Sebanyak 250 kg sayur kol dijual ke pasar lokal sebagai upaya mendukung ekonomi produktif di lingkungan Lapas, sementara 100 kg lainnya diserahkan ke Dapur Bama (Bahan Makanan) Lapas untuk memenuhi kebutuhan konsumsi warga binaan.
“Program ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam biasa, melainkan upaya nyata dalam membina kemandirian warga binaan melalui sektor pertanian. Kami berharap program ini memberikan manfaat berkelanjutan bagi Lapas dan masyarakat sekitar,” ujar Kalapas Siborongborong.
Program Ketahanan Pangan di Lapas Siborongborong merupakan bagian dari program prioritas nasional yang dicanangkan di seluruh lembaga pemasyarakatan di Indonesia. Program ini bertujuan untuk mengoptimalkan lahan yang tersedia menjadi area produktif, serta memberikan pelatihan bagi warga binaan agar memiliki keterampilan di bidang pertanian.
Dengan hasil panen yang memuaskan, Lapas Siborongborong berkomitmen untuk terus mengembangkan program ini. Dukungan dari berbagai pihak sangat diharapkan agar program ini berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif bagi pembinaan warga binaan serta ketahanan pangan di daerah tersebut.
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Oleh: Frish H. Silaban
