September 25, 2026

SKANDAL BELLA 72 MEREMBET KE BIROKRASI, Nama Karo Kesra Asrul Gailea Terseret: Transfer Rp 5 Juta ke Korban, Uang Pribadi Sherly atau APBD Pertanian?

IMG-20260918-WA0038

TERNATE,MPB.ID — Pusaran kasus ledakan Speedboat Bella 72 kini menyeret nama pejabat di lingkaran inti Pemprov Maluku Utara.

Asrul Gailea, Kepala Biro Kesra Setda Provinsi Malut, disebut-sebut menjadi operator penyalur uang kompensasi kepada korban dan keluarga korban tragedi 12 Oktober 2024 di Pelabuhan Bobong, Pulau Taliabu.

Fakta ini terkuak dari testimoni langsung para korban.

Berdasarkan pengakuan mereka, pada awal tahun 2025, masing-masing korban menerima transferan langsung dari rekening Asrul Gailea, saat itu sebagai Plt.Kepala Dinas Pertanian Maluku Utara sebesar Rp 5.000.000 (lima juta rupiah).Uang itu diklaim sebagai kompensasi dari Gubernur Sherly Tjoanda.

Saat dikonfirmasi soal transferan tersebut, Asrul Gailea bungkam. Tidak menanggapi.

Peran mantan Plt. Kepala Dinas Pertanian Malut ini pun langsung menuai tanda tanya besar dan kecurigaan publik.

Tiga Sumber Uang yang Mencurigakan

Aktivis dan mantan Pimpinan DPRD Malut, AbduRahim Fabanyo, mempertanyakan keras asal-usul uang tersebut.

“Ada tiga pertanyaan penting yang harus dijawab. Apakah Rp 5 juta itu uang pribadi Sherly Tjoanda yang dititip via Asrul? Atau uang pribadi Asrul sendiri untuk membantu Sherly demi mengamankan jabatan? Atau yang lebih bahaya, ini uang APBD Pemprov lewat Dinas Pertanian?” tegas AbduRahim.

Jika benar uang itu dari APBD Pertanian, ini menjadi skandal baru.

“Rasionalnya kompensasi itu harusnya bersumber langsung dari Sherly Tjoanda, karena korban itu adalah korban ledakan speedboat milik Sherly dan mereka bekerja untuk kepentingan Sherly dan suaminya Benny Laos,” ujarnya.

“Atau jika bantuan Pemprov, sistematisnya harus melalui Dinas Sosial atau Biro Kesra. Tapi bagaimana ceritanya kompensasi korban ledakan speedboat melalui Dinas Pertanian? Memangnya mereka para korban ini petani yang gugur dan cedera karena berkebun? Kan bukan!” tukasnya dengan nada tinggi.

Jangan Sampai Jadi Suap Berkedok Donasi

AbduRahim mengingatkan, jika klaim bahwa ini uang pribadi Asrul untuk membantu Gubernur agar kasus Bella 72 reda itu benar, maka ini berbahaya.

“Jangan sampai kompensasi untuk korban ini bersumber dari uang pribadi Asrul Gailea untuk membantu Gubernur Sherly Tjoanda guna kepentingan jabatan. Jika klaim ini benar maka uang itu masuk kategori uang suap berkedok donasi atau kompensasi bagi korban Speedboat,” tandasnya.

Menurutnya, isu ini harus diperjelas segera agar tidak menimbulkan polemik dan dugaan penyalahgunaan wewenang.

Pasalnya, Rp 5 juta dibanding luka bakar, tangan patah pasang platina, dan biaya berobat hingga ke Luwuk dan Jakarta yang ditanggung sendiri oleh korban, sangat tidak sebanding.Apalagi jika dibandingkan dengan harta kekayaan Gubernur yang mencapai Rp 700 miliar lebih.

“Harus diperjelas itu! Publik butuh transparansi. Jangan bungkam,” pungkas AbduRahim.

Hingga berita ini diturunkan, Karo Kesra Asrul Gailea dan pihak Gubernur Sherly Tjoanda belum memberikan klarifikasi resmi terkait sumber dana dan status hukum transferan Rp 5 juta tersebut ke masing-masing korban.

(Rls/ZDE)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *