Jejak Mahakarya Sang Legenda: Dr. Eriko Silaban Serukan Pengakuan Negara untuk Friedrich Silaban Menjadi Pahlawan Nasional
Jakarta, Senin 25 Mei 2026.
Putrabhayangkara.id
Series 10: Dr. Eriko Silaban/Inisiator Friederich Silaban Menjadi Pahlawan Nasional
Dr. Eriko Silaban, terus menunjukkan komitmennya dalam memperjuangkan pengakuan negara terhadap jasa besar arsitek legendaris Indonesia, Friedrich Silaban, agar ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, Upaya tersebut lahir dari kesadaran bahwa karya dan pemikiran Friedrich Silaban telah menjadi bagian penting dari identitas kebangsaan Indonesia. modern. Melalui berbagai forum diskusi, kajian sejarah, hingga komunikasi dengan sejumlah tokoh nasional dan lembaga terkait, Dr. Eriko Silaban menilai bahwa kontribusi Friedrich Silaban tidak hanya berada pada ranah arsitektur semata, tetapi juga menyangkut perjuangan membangun karakter bangsa melalui simbol-simbol monumental negara.
Nama Friedrich Silaban dikenal luas sebagai arsitek besar Indonesia yang melahirkan karya-karya monumental pada masa Presiden Soekarno dan Soeharto. Karyanya yang paling fenomenal adalah Masjid Istiqlal, masjid terbesar di Asia Tenggara yang menjadi simbol kemerdekaan sekaligus simbol toleransi bangsa Indonesia. Selain itu, ia juga terlibat dalam pembangunan kawasan Gelora Bung Karno, termasuk Stadion Utama, Monumen Pembebasan Irian Barat, Gerbang Taman Makam Pahlawan Kalibata, hingga berbagai bangunan strategis nasional lainnya.
Menurut Dr. Eriko Silaban, jasa Friedrich Silaban layak ditempatkan sejajar dengan tokoh-tokoh besar bangsa lainnya karena karya-karyanya telah menjadi simbol perjalanan sejarah Indonesia. la menilai bahwa arsitektur bukan sekadar pembangunan fisik, melainkan juga bagian dari perjuangan kebangsaan dan peradaban. Dalam berbagai kesempatan, Dr. Eriko Silaban menegaskan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang menghargai para pemikir dan pencipta peradabannya. Oleh sebab itu, perjuangan mendorong Friedrich Silaban menjadi Pahlawan Nasional merupakan bentuk penghormatan negara terhadap karya monumental anak bangsa yang telah mengharumkan Indonesia di mata dunia.
Perjalanan hidup Friedrich Silaban sendiri penuh dengan dedikasi dan semangat nasionalisme. Lahir di Bonan Dolok, Sumatera Utara, pada 16 Desember 1912, ia berasal dari keluarga sederhana Batak Protestan. Meski hidup dalam keterbatasan, Silaban menunjukkan bakat luar biasa di bidang teknik dan arsitektur sejak muda, la menempuh pendidikan teknik di Koningin Wilhelmina School di Batavia dan.
kemudian memperdalam pengetahuan arsitekturnya hingga ke Belanda. Kemampuannya membuat Presiden Soekarno sangat mengaguminya dan kerap melibatkannya dalam proyek-proyek besar pembangunan nasional pada era awal kemerdekaan.
Salah satu kisah yang paling dikenang dari Friedrich Silaban adalah ketika ia memenangkan sayembara desain Masjid Istiqlal pada tahun 1955. Saat itu, Presiden Soekarno sendiri bertindak sebagai ketua dewan juri. Desain karya Silaban yang diberi judul “Ketuhanan” berhasil memikat para juri karena memadukan nilai spiritual, modernisme, dan simbol kebangsaan Indonesia. Ironisnya, sebagai seorang Kristen Protestan, Silaban sempat menghadapi keraguan dari sebagian pihak karena merancang masjid nasional. Namun justru di situlah letak kebesaran pemikiran Friedrich Silaban: ia mampu menunjukkan bahwa toleransi dan nasionalisme berada di atas sekat-sekat agama.
Dr. Eriko Silaban menilai bahwa semangat toleransi yang diwariskan Friedrich Silaban sangat relevan dengan kondisi Indonesia saat ini. la menyebut bahwa keberhasilan seorang arsitek Kristen merancang masjid terbesar di Asia Tenggara merupakan simbol nyata kebhinekaan Indonesia yang harus terus dirawat. Nilai-nilai inilah yang menurutnya menjadi salah satu alasan kuat mengapa Friedrich Silaban layak memperoleh gelar Pahlawan Nasional. Tidak hanya berjasa melalui karya fisik, tetapi juga melalui keteladanan hidup dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman.
Perjuangan Dr. Eriko Silaban juga mendapat perhatian dari berbagai kalangan masyarakat, akademisi, tokoh budaya, dan komunitas arsitektur nasional. Mereka menilai bahwa penghargaan terhadap Friedrich Silaban bukan hanya penghormatan kepada satu individu, melainkan penghormatan terhadap sejarah pembangunan Indonesia modern. Banyak pihak menilai bahwa karya-karya Silaban telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa. Setiap hari jutaan masyarakat Indonesia. menyaksikan dan menggunakan hasil karya arsitek besar tersebut, mulai dari Masjid Istiqlal hingga kawasan olahraga Gelora Bung Karno yang menjadi kebanggaan. nasional.
Meski telah menerima berbagai penghargaan semasa hidupnya, termasuk Bintang Jasa Utama dari pemerintah, banyak pihak merasa penghormatan terhadap Friedrich Silaban masih belum sebanding dengan kontribusinya bagi bangsa. Karena itu, Dr. Eriko Silaban terus menggalang dukungan moral dan akademik agar pemerintah memberikan penghargaan tertinggi berupa gelar Pahlawan Nasional. Baginya, pengakuan tersebut bukan hanya tentang nama keluarga, tetapi tentang keadilan sejarah bagi seorang tokoh besar yang telah membangun wajah Indonesia modern.
Upaya mendorong Friedrich Silaban menjadi Pahlawan Nasional juga menjadi momentum untuk memperkenalkan kembali sosoknya kepada generasi muda Indonesia. Dr. Eriko Silaban berharap generasi penerus bangsa dapat memahami bahwa kemerdekaan dan pembangunan Indonesia tidak hanya diperjuangkan melalui senjata dan politik, tetapi juga melalui karya intelektual, seni, budaya, dan arsitektur yang membentuk identitas bangsa. Dengan semangat itulah, perjuangan tersebut terus dilakukan agar nama Friedrich Silaban mendapatkan tempat
terhormat dalam sejarah nasional Indonesia.
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara ID
( Frish. H. Silaban )
