September 25, 2026

Ketika Hak Jawab Tak Lagi Dihargai: Etika yang Tersesat di Ruang Redaksi

Tapanuli Raya Senin 27 Oktober 2015 Putrabhayangkara.id

Dalam dunia pers, hak jawab adalah ruang kehormatan bagi pihak yang diberitakan. Ketika seseorang menggunakan haknya untuk meluruskan informasi, dan pimpinan media menayangkannya, maka itu seharusnya menjadi penanda: kontroversi selesai, marwah pers terjaga.
Namun kini, ada media yang justru menodai kehormatan itu sendiri. Setelah menerbitkan hak jawab, mereka kembali menurunkan berita baru yang menyerang pihak yang sama, seolah ingin membatalkan keputusan pimpinannya sendiri. Publik pun bertanya, “Di mana etika kalian?”

Dari Klarifikasi Menjadi Bullying

Hak jawab bukan batu loncatan untuk serangan kedua. Ketika berita lanjutan kembali mengulang tuduhan lama, menambah narasi pendamping, dan bahkan menyindir media lain yang berbeda pandangan, maka itu bukan jurnalisme—itu balas dendam dengan gaya editorial.
Netizen pun menangkap aroma tidak sehat itu. Komentar mereka tajam tapi jujur: “Sudah diterbitkan hak jawab, kok malah muncul berita baru menyerang lagi? Di mana harga diri redaksinya?”

Kredibilitas yang Retak

Pers tidak diukur dari seberapa keras menyerang, tetapi seberapa adil memberi ruang. Saat redaksi tak menghormati hak jawab yang sudah mereka tayangkan sendiri, yang rusak bukan nama narasumber, tapi nama medianya.
Karena publik bisa lupa isi berita, tapi tidak akan lupa siapa yang tidak tahu batas.

Diterbitkan Media Putra Bhayangkara
Frish.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *