Puluhan Siswa SMPN 3 Banjar Diduga Keracunan Makanan Program MBG, 70 Orang Dievakuasi ke Rumah Sakit
Banjar – Suasana belajar di SMP Negeri 3 Banjar mendadak berubah mencekam pada Rabu (1/10/2025) siang. Puluhan siswa dilaporkan mengalami gejala keracunan makanan setelah menyantap sajian Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan pada jam makan siang.
Awalnya, sejumlah siswa mulai mengeluhkan pusing, mual, hingga muntah sesaat setelah menyantap makanan tersebut. Kondisi itu sontak menimbulkan kepanikan di lingkungan sekolah. Pihak guru bersama tim medis sekolah segera mengambil langkah cepat dengan mengevakuasi para siswa yang terlihat lemah ke ruang UKS, sebelum kemudian dilarikan ke rumah sakit terdekat.
Plh. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Banjar, Adeng Hendrawan, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengatakan, berdasarkan laporan awal, sedikitnya 18 siswa telah dievakuasi ke RS PMC Banjar untuk mendapatkan perawatan intensif. Namun jumlah korban terus bertambah seiring waktu.
“Sudah 18 siswa yang kini diangkut ke RS PMC Banjar. Sekarang masih tahap evakuasi,” ujar Adeng saat dikonfirmasi awak media.
Beberapa jam setelah pernyataan tersebut, jumlah siswa yang mengalami gejala serupa ternyata terus meningkat. Hingga sore hari, tercatat sedikitnya 70 siswa mengalami gejala yang sama dan harus mendapatkan penanganan medis.
Pihak sekolah bersama Dinas Pendidikan dan pihak kesehatan setempat langsung berkoordinasi untuk memastikan penanganan korban berjalan cepat dan tepat. Ambulans terlihat hilir mudik mengangkut para siswa dari sekolah menuju rumah sakit.
Hingga berita ini diturunkan, penyebab pasti keracunan masih dalam tahap penyelidikan. Tim dari Dinas Kesehatan bersama pihak terkait tengah mengambil sampel makanan untuk dilakukan uji laboratorium. Pemerintah Kota Banjar juga berjanji akan mengusut tuntas kasus ini, mengingat program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu program unggulan yang diperuntukkan bagi para pelajar.
Sementara itu, orang tua siswa berbondong-bondong mendatangi rumah sakit dan sekolah untuk memastikan kondisi anak-anak mereka. Situasi ini menambah suasana haru dan kepanikan di sekitar lingkungan pendidikan tersebut.
(Red.ruli)
