CV Cahya Pratama Mandiri Kerjakan Proyek RKB-SMAN 1 Banyusari Bernilai Biaya Miliaran Rupiah, Diduga Abaikan Aturan dan Gunakan Material Tak Sesuai RAB
Putrabhayangkara id // Karawang- Proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) sekolah menengah atas negeri (SMAN) 1 Banyusari, yang berlokasi di Jalan Pengairan Desa Gempol Kecamatan Banyusari Kabupaten Karawang Provinsi Jawa barat, menjadi sorotan publik diduga abaikan peraturan dan gunakan material tak sesuai dengan rencana anggaran biaya (RAB)
Pasalnya; selain para pekerjanya tidak menggunakan alat pelindung diri (APD) dalam bekerja, kemudian bahan-bahan material yang dipergunakan dalam proyek pembangunan ruang kelas baru (RKB) sekolah tersebut, seperti pasir, batu bata, juga semen-nya, diduga menggunakan bahan-bahan material yang kurang berkualitas.
Selasa 02/09/2025 dari hasil pantauan awak media, kegiatan pelaksanaan pembangunan proyek RKB – SMAN 1 Banyusari yang diketahui melalui papan informasi proyek. Dikerjakan oleh pihak penyedia jasa CV Cahya Pratama Mandiri dan dibiayai menggunakan dana, Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Karawang tahun 2025, senilai Rp 1.034.178.245,- ( Satu Milyar Tiga Puluh Empat Juta Seratus Tujuh Puluh Delapan Ribu Dua Ratus Empat Puluh Lima Rupiah.) dengan masa kontrak waktu pengerjaan 90 hari kalender, terhitung dari tanggal 06 Agustus 2025.
Menurut seorang warga Gempol – Banyusari yang berinisial nama HB saat dikonfirmasi awak media mengatakan bahwa, Ia mengkhawatirkan kualitas kekuatan dari hasil pembangunan proyek RKB yang saat ini tengah dikerjakan oleh pihak CV Cahya Pratama Mandiri.
“Saya sangat mengkhawatirkan kualitas kekuatan dari hasil pembangunan proyek RKB -SMAN ini. Masalahnya, bahan-bahan material yang dipergunakan seperti pasir, batu bata, dan juga semennya, menggunakan bahan material bangunan yang sangat rendah kualitasnya.
“Masa untuk membangun pondasinya saja menggunakan, pasir jenis Ladon. Kita tau pasir Ladon itu tidak memiliki kekuatan,
apalagi diaduk dengan semen yang rendah kualitasnya seperti ini, (bukan semen tiga roda).
Kemudian batu bata-nya juga tidak menggunakan batu bata merah, melainkan menggunakan bata Hebel. Dan sepengetahuan saya, setiap proyek pembangunan gedung sekolah, biasanya menggunakan jenis batu bata merah, pasir sedot dan semen cap tiga roda karena sudah teruji kualitas kekuatannyai,” katanya
Masih kata warga.
“Kalau melihat nilai anggaran dipapan informasi proyek yang begitu besar hingga mencapai Milyaran rupiah, semestinya bahan-bahan material yang di pergunakan untuk pembangunan proyek ruang kelas baru (RKB) ini, harus maksimal, jangan menggunakan bahan-bahan material yang tidak berkualitas. Agar hasil pembangunannya kokoh, kuat dan bisa bertahan lama, karena demi menjaga keamanan, kenyamanan serta keselamatan Guru dan anak-anak sekolah. Mengingat bangunan gedung sekolah ini, sebagai sarana tempat kegiatan belajar dan mengajar,”imbuhnya
Demi berimbangnya pemberitaan awak media mencoba mengkonfirmasi salah seorang pekerja yang enggan disebutkan namanya.
-Kang sudah berapa lama proyek ini dikerjakan ?…
“Sekitar tiga mingguan pak.” Jawabnya
-kenapa tidak memakai alat pelindung diri (APD) dalam bekerja ?
“Pekerja diam, tidak menjawab.
-Menurut pengalaman dan sepengetahuan akang sebagai tukang bangunan. Apakah bahan-bahan material yang di pergunakan untuk pembangunan proyek ini, sesuai dengan RAB ?…
“Kalau masalah penggunaan material dan yang lain-lainnya mah tanya saja langsung ke pemborongnya pak, saya mah cuma kuli,” jawabnya
Demi transparansi publik serta demi menjaga keamanan, kenyamanan dan keselamatan dalam kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Banyusari ini. Warga Banyusari meminta kepada pihak Dinas terkait agar segera turun kelapangan untuk monitoring dan mengevaluasi hasil pekerjaan pembangunan proyek RKB- SMAN 1 Banyusari, serta memastikan penggunaan bahan- bahan material bangunan yang dipergunakan dalam proyek tersebut, sesuai dengan RAB. (Gun)
