Dandim 0210/TU Tinjau Rutan Balige: Sinergi TNI–Pemasyarakatan dan Program Puyuh untuk Kemandirian WBP
Balige – Senin 25 Agustus 2025
Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas IIB Balige Kanwil Kementerian Hukum dan HAM Sumatera Utara menerima kunjungan silaturahmi Komandan Distrik Militer (Dandim) 0210/Tapanuli Utara, Letkol Kav Ronald Tampubolon, Senin (25/8/2025). Kehadiran perwira TNI AD ini disambut langsung Kepala Rutan Balige, David Nicolas, bersama jajaran pejabat struktural.
Kunjungan ini bukan sekadar seremoni. Di baliknya, ada upaya membangun sinergi nyata antara institusi Pemasyarakatan dengan TNI, baik dalam menjaga stabilitas keamanan di wilayah Toba maupun mendorong optimalisasi pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).
Menyusuri Blok Hingga Dapur Sehat
Didampingi Karutan, Dandim 0210/TU berkeliling meninjau sejumlah fasilitas. Mulai dari blok hunian, dapur sehat tempat makanan WBP disiapkan, hingga sarana pembinaan keterampilan. Di setiap titik, Karutan memaparkan kondisi terkini, tantangan, dan capaian yang sudah diperoleh.
David Nicolas menjelaskan, pihaknya terus berupaya menjaga keseimbangan antara keamanan dan pembinaan. “Rutan bukan hanya tempat menjalani pidana, tapi juga ruang pembelajaran kehidupan. WBP harus dibekali keterampilan agar siap kembali ke masyarakat setelah bebas,” ujarnya.
Program Unggulan: Budidaya Burung Puyuh
Salah satu program yang menarik perhatian Dandim adalah budidaya burung puyuh. Di lahan khusus yang dikelola WBP, ratusan ekor puyuh dipelihara dengan sistem sederhana namun teratur. Setiap hari, puluhan butir telur dihasilkan, menjadi bukti nyata keberhasilan program.
Karutan menuturkan, program ini memiliki banyak manfaat. “Selain melatih keterampilan baru, budidaya puyuh mengajarkan tanggung jawab, disiplin, dan rasa percaya diri. Hasil produksi juga bisa menopang kebutuhan tambahan dan memberi bekal keahlian bagi WBP setelah bebas nanti,” jelasnya.
Tidak sekadar hobi, program ini dirancang dengan orientasi ekonomi. Telur puyuh yang dihasilkan bisa dipasarkan, sementara dagingnya juga bernilai jual. Bila dikembangkan, program ini berpotensi menjadi model pemberdayaan WBP yang bisa diadopsi Rutan atau Lapas lain.
Apresiasi Dandim
Letkol Kav Ronald Tampubolon mengaku antusias melihat pembinaan tersebut. Baginya, pembinaan berbasis keterampilan menjadi kunci keberhasilan reintegrasi sosial. “Program seperti ini tidak hanya bermanfaat bagi WBP, tapi juga mendukung terciptanya situasi kondusif. Warga binaan yang produktif akan lebih tenang, tidak mudah terprovokasi, dan punya harapan baru ketika kembali ke masyarakat,” katanya.
Ronald juga menegaskan komitmen Kodim 0210/TU untuk bersinergi. Menurutnya, sinergi TNI dengan Pemasyarakatan bisa berbentuk pendampingan pelatihan, dukungan keamanan, hingga jejaring kemitraan bagi program ekonomi WBP. “Kodim siap berkolaborasi. Kami ingin WBP yang keluar dari Rutan tidak lagi kembali pada kesalahan lama, melainkan membawa keterampilan yang bermanfaat,” tegasnya.
Sinergi Lintas Instansi
Pertemuan ini menjadi ruang diskusi antara kedua lembaga untuk memperkuat koordinasi ke depan. Karutan menekankan, dukungan TNI sangat penting dalam menciptakan stabilitas. “Sinergi dengan Kodim 0210/TU menjadi modal besar. Tugas Pemasyarakatan tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan lintas sektor, termasuk TNI, akan membuat pembinaan berjalan lebih optimal,” jelasnya.
Rencananya, koordinasi ini akan ditindaklanjuti melalui beberapa langkah konkret, seperti pelatihan disiplin bagi WBP, kerja sama keamanan dalam mencegah potensi gangguan, serta penguatan program kemandirian.
Konteks Lebih Luas: Rutan dan Tantangan Pembinaan
Rutan Balige saat ini menampung ratusan WBP dari berbagai kasus pidana. Seperti banyak Rutan lain, tantangan overkapasitas masih ada. Meski begitu, pihak Rutan tetap berusaha menjalankan pembinaan produktif.
Program budidaya puyuh hanyalah salah satu contoh. Ada pula pelatihan pertukangan, keterampilan dasar pertanian, hingga kegiatan keagamaan. Seluruh program diarahkan untuk membentuk karakter, mental, dan keterampilan WBP.
Menurut catatan Ditjen Pemasyarakatan, pembinaan berbasis kemandirian menjadi fokus nasional, sejalan dengan program “Pemasyarakatan PASTI” (Profesional, Akuntabel, Sinergi, Transparan, dan Inovatif). Kunjungan Dandim 0210/TU memperlihatkan bahwa pembinaan WBP memang memerlukan dukungan multipihak.
Manfaat Ekonomi dan Sosial
Dampak ekonomi dari program puyuh juga menjanjikan. Satu ekor puyuh bisa menghasilkan rata-rata 250–300 butir telur per tahun. Dengan ratusan ekor, potensi produksi mencapai ribuan butir per bulan. Jika dipasarkan dengan harga pasar, hasilnya bisa membantu operasional program sekaligus memberi nilai tambah bagi WBP.
Lebih dari itu, manfaat sosialnya besar. WBP belajar bekerja dalam tim, memelihara makhluk hidup, serta menghargai proses kerja. Bagi sebagian WBP, ini adalah pengalaman pertama mengelola usaha produktif.
Kolaborasi untuk Masa Depan
Kunjungan Dandim 0210/TU ke Rutan Balige menegaskan bahwa pembinaan WBP bukan hanya urusan Pemasyarakatan, tetapi juga kepentingan bersama. Dengan dukungan TNI, program seperti budidaya puyuh bisa berkembang lebih luas dan berkelanjutan.
Karutan David Nicolas berharap kunjungan ini menjadi langkah awal kerja sama yang lebih erat. “Kami berterima kasih atas perhatian Bapak Dandim. Dengan sinergi, kami percaya pembinaan WBP bisa lebih terarah, bermanfaat, dan membawa dampak positif bagi masyarakat,” pungkasnya.
Kunjungan ini ditutup dengan pesan bersama: pembinaan WBP adalah investasi sosial. Keberhasilan program tidak hanya menentukan masa depan individu yang menjalani pidana, tetapi juga berkontribusi pada keamanan dan kesejahteraan masyarakat luas.
RUBAGE KERAS!
Rutan Balige Kolaboratif, Edukatif, Responsif, Amanah, dan Sinergi.
Tagar Rekomendasi:
#Kemenkumham #DitjenPAS #PASumateraUtara #RutanBalige #Kodim0210TU #Toba #Sinergi #PembinaanWBP #Kamtib
Diterbitkan Media Putra Bhayangkara.
Frish. H. Silaban
