September 25, 2026

Turut Berduka Cinta Ibunda Bupati Asahan Pergi Untuk Selamanya

Asahan I (02/08/2025)

Di bawah langit mendung yang seolah ikut berduka, suasana rumah duka di Kota Tebing Tinggi dipenuhi oleh isak tangis, pelukan haru, dan untaian doa. Jumat siang, 1 Agustus 2025, menjadi hari yang berat bagi Taufik ZA Siregar, Bupati Asahan. Di hari yang suci itu, tepat pukul 12.30 WIB, ibunda tercintanya, Maryam binti Mateh, berpulang ke rahmatullah di usia 73 tahun setelah dua tahun berjuang melawan sakit akibat kecelakaan.

Sosok pria berbadan tegap itu, yang selama ini dikenal tegar, tenang, dan dihormati masyarakatnya, tak mampu membendung air mata. Di hadapan jasad sang ibu yang terbujur kaku, ia tertunduk. Bahunya bergetar pelan, menandakan pertempuran batin yang tak mampu disembunyikan. Kepedihan seorang anak yang kehilangan sosok paling berharga dalam hidupnya menembus batas protokol dan wibawa jabatan.

Maryam binti Mateh bukan sekadar ibu bagi keluarga besar Siregar. Ia adalah figur keibuan yang sederhana namun kuat, yang mengajarkan nilai keikhlasan dan keteguhan. Ia meninggalkan enam orang anak dan beberapa cucu yang mengiringi kepergiannya dengan linangan air mata. Namun lebih dari itu, ia meninggalkan jejak kasih yang tak lekang oleh waktu di hati mereka yang mengenalnya.

Ratusan pelayat memadati rumah duka. Datang dari berbagai penjuru Tebing Tinggi dan Asahan, dari kalangan masyarakat biasa hingga pejabat tinggi. Jalanan menuju rumah duka menjadi saksi bisu kerinduan terakhir orang-orang terhadap sosok Maryam. Di antara mereka, terlihat Wakil Gubernur Sumatera Utara, H. Surya BSc, hadir menyampaikan belasungkawa. Dengan penuh empati, ia menyampaikan kata-kata penghiburan kepada Taufik ZA Siregar, yang masih terbungkus kabut duka.

Menjelang senja, sesaat sebelum kumandang azan Maghrib menggema, jenazah almarhumah dimakamkan. Waktu pemakaman yang dipercepat itu dimaksudkan agar prosesi penguburan berjalan sesuai ajaran Islam, sebagaimana sabda Rasulullah saw. tentang menyegerakan pemakaman. Dengan langkah berat namun penuh takzim, iring-iringan pengantar jenazah mengantar ke tempat peristirahatan terakhir.

Ketika tanah merah mulai menutupi pusara, Taufik ZA Siregar berdiri diam. Matanya tak lepas menatap liang kubur sang ibu. Di sampingnya, sang istri menggenggam erat tangannya, sementara sang anak menyandarkan kepalanya di bahunya. Dalam diam yang penuh makna, kita menyaksikan cinta tanpa kata—sebuah duka yang menjelma doa.

Tangis Bupati Asahan di pusara ibunya bukan sekadar tangis pribadi. Itu adalah tangis seorang anak yang kembali menjadi bocah di hadapan kematiantak berdaya, kehilangan, dan dirundung rindu yang tak akan pernah bisa dituntaskan. Sosok pemimpin itu, yang biasanya tampil gagah dalam seragam dinas dan bicara lantang di forum-forum resmi, hari itu menjadi manusia biasa yang dihantam realitas paling purba: kehilangan.

Kepergian Maryam binti Mateh meninggalkan duka yang mendalam. Namun dalam duka itu pula, kita menyaksikan kemanusiaan seorang pemimpin. Kita diingatkan bahwa di balik jabatan dan panggung politik, Taufik ZA Siregar adalah seorang anak yang mencintai ibunya dengan seluruh jiwanya. Dan cinta seperti itu tak akan mati, meski maut telah memisahkan. Sebab cinta seorang anak kepada ibunya adalah satu-satunya cinta yang bahkan liang lahat pun tak mampu menguburkannya.
DukaBupatiAsahan.

Penulis .H.MPB

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *