September 27, 2026

Bupati Humbahas Tinggalkan Temu Pers, Wartawan Nilai Hanya Seremonial

Frish H. Silaban | Media Putra Bhayangkara

Doloksanggul, 19 Juli 2025

Temu pers perdana yang digelar Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas) di Pendopo Bukit Inspirasi, Jumat (17/7), justru meninggalkan kesan mendalam yang penuh tanda tanya di kalangan jurnalis. Kegiatan yang seharusnya menjadi forum dialog terbuka antara Bupati dan insan pers, berubah menjadi ajang seremonial sepihak.

Bupati Humbahas Oloan Paniaran Nababan tercatat hanya berada di lokasi acara sekitar ± 1 jam. Dari pantauan awak media, waktu tersebut mencakup protokol pembukaan, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sesi salam-salaman, dan pidato Bupati yang berdurasi sekitar 20 menit. Setelah itu, Oloan langsung meninggalkan tempat dengan alasan harus menghadiri rapat persiapan HUT Kabupaten Humbahas ke-22.

Padahal, acara temu pers ini adalah yang pertama kali diselenggarakan sejak Oloan dan Junita Rebekka Marbun dilantik sebagai Bupati dan Wakil Bupati pada awal 2025 lalu. Momen penting ini diharapkan menjadi titik awal membangun kemitraan yang sehat antara pemerintah daerah dan pers di kawasan Tapanuli Raya.

Yang menarik, usai kepergian Oloan, Wakil Bupati Junita Rebekka Marbun bersama beberapa kepala OPD yang semula duduk di meja utama, justru berpindah ke kursi duduk sejajar bersama para wartawan. Gestur ini dinilai sebagai simbol keterbukaan dan kesediaan berdialog secara setara dengan insan pers.

Sementara itu, sesi acara tetap berlanjut dengan pemaparan Kepala Dinas Kominfo, Batara Siregar, dan sesi tanya jawab bersama peserta yang hadir dari berbagai kabupaten di wilayah Tapanuli Raya.

Pernyataan Oloan dalam pidatonya sebenarnya cukup menarik perhatian. Ia mengajak pers untuk tidak segan-segan mengkritik dirinya:
“Kritik saya sepedas-pedasnya. Tapi harus berdasarkan fakta. Saya tidak takut dikritik,” ujarnya.
Namun, ketidakhadiran Bupati dalam sesi tanya jawab justru mengundang pertanyaan serius dari kalangan media. Retorika keterbukaan yang disampaikan di podium tampak tidak sejalan dengan praktik yang terjadi.

Akibatnya, narasi soal “pidato kilat dan kepergian cepat” Bupati menjadi topik utama pembahasan hangat di Warung Kopi Partukkoan, pusat nongkrong para jurnalis Aliansi Pers Humbang Hasundutan, Sabtu (19/7). Sejumlah wartawan menyebut bahwa Bupati telah menyia-nyiakan momentum membangun relasi konstruktif dengan media.

“Kalau memang siap dikritik, kenapa tidak duduk bersama mendengarkan kami?” ucap salah satu jurnalis yang hadir.

Langkah Wakil Bupati yang memilih berbaur dengan jurnalis mendapat apresiasi. Kontras ini memperkuat kesan bahwa gaya komunikasi pimpinan Humbahas saat ini belum sepenuhnya sejalan.

Temu pers adalah forum untuk memperkuat transparansi dan komunikasi dua arah. Jika hanya dijadikan panggung seremonial tanpa ruang interaksi, maka itu bukan temu pers, melainkan sekadar mimbar sepihak.

Media Putra Bhayangkara – Independen, Kritis & Tegas
Redaksi Tapanuli Raya – Narasi dari Jantung Sumatera Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *