September 27, 2026

Hidayah di Balik Jeruji: Kisah Perubahan di Lapas Siborongborong

Siborongborong – Rabu 16 Juli 2025

Di balik tembok tinggi dan jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Siborongborong, Tapanuli Utara, semangat untuk berubah masih menyala di hati para warga binaan. Dalam suasana yang penuh keterbatasan, sekelompok narapidana menemukan jalan baru menuju pemulihan batin melalui program penyuluhan agama Islam yang digagas Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Tapanuli Utara.

Bukan Sekadar Kajian: Ini Soal Harapan

Sejak awal tahun, sebanyak 100 orang narapidana telah aktif mengikuti bimbingan keagamaan yang dilakukan dua kali setiap bulan. Mereka dibagi ke dalam sembilan kelompok kecil, agar pembelajaran menjadi lebih fokus dan sesuai dengan tingkat pemahaman serta kebutuhan spiritual masing-masing.

Kegiatan yang difasilitasi oleh Penyuluh Agama Islam ini meliputi pembelajaran membaca Al-Qur’an, kajian nilai-nilai Islam, hingga layanan konseling keagamaan.

> “Program ini bukan sekadar mengajarkan teori agama. Kami ingin mereka memahami makna hidup, mengakui kesalahan, dan membangun niat untuk menjadi pribadi yang lebih baik,” ujar salah satu penyuluh agama, yang kami temui usai sesi bimbingan di aula lapas.

Konseling: Menyembuhkan Luka Batin

Tak semua luka di penjara bersumber dari hukuman. Banyak di antaranya yang membawa luka batin sejak sebelum dijatuhi vonis. Di sinilah pentingnya kehadiran konselor agama. Mereka membuka ruang dialog dan curahan hati bagi warga binaan yang mengalami tekanan psikologis, rasa bersalah mendalam, atau trauma keluarga.

Salah seorang narapidana, sebut saja R, mengaku bahwa dirinya baru menemukan ketenangan setelah beberapa bulan ikut program ini.

> “Dulu saya marah pada diri sendiri. Tapi setelah saya pelan-pelan belajar mengaji dan berdiskusi, saya jadi sadar masih ada harapan, dan saya ingin pulang sebagai orang yang baru,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Sinergi Spiritual dan Sosial

Kolaborasi antara petugas lapas dan penyuluh agama dianggap sebagai pendekatan yang efektif dalam program pemasyarakatan. Kepala Lapas Siborongborong, melalui Kepala Seksi Pembinaan Narapidana, menyampaikan bahwa pendekatan spiritual menjadi bagian dari strategi rehabilitasi menyeluruh.

> “Kami tidak hanya ingin membina dari sisi perilaku, tetapi juga dari sisi spiritual. Ini penting agar perubahan yang terjadi di dalam bisa bertahan ketika mereka kembali ke masyarakat,” jelasnya.

Masih Banyak PR: Keterbatasan dan Harapan

Meski berjalan baik, program ini tidak lepas dari tantangan. Jumlah penyuluh yang terbatas, frekuensi kegiatan yang hanya dua kali sebulan, serta keterbatasan fasilitas pendukung seperti ruang belajar dan buku keagamaan masih menjadi kendala.

Namun semangat para penyuluh dan warga binaan tetap menyala. Bahkan, sejumlah peserta sudah mulai menjadi mentor bagi teman-temannya yang baru bergabung.

Menuju Reintegrasi yang Bermakna

Penyuluh Agama Islam Kemenag Tapanuli Utara menyatakan, ke depan mereka berencana mengintegrasikan program ini dengan pelatihan keterampilan dan sertifikasi keagamaan agar bekal warga binaan lebih komprehensif saat bebas nanti.

> “Kami berharap ada dukungan lebih dari pusat dan Kanwil agar bimbingan spiritual ini bisa menjadi awal dari reintegrasi sosial yang sukses,” ujar seorang penyuluh senior.

Program penyuluhan agama Islam di Lapas Kelas IIB Siborongborong bukan hanya soal pembinaan rohani. Ini adalah jendela harapan bagi mereka yang sempat tersesat namun kini ingin kembali ke jalan yang benar.

Di balik pagar besi, ada cerita tentang tekad, pengampunan, dan transformasi. Sebab, setiap manusia layak diberi kesempatan kedua — terutama mereka yang benar-benar ingin berubah.

Reporter: Frish. H. Silaban
Editor: Media Putra Bhayangkara (MPB)
Tanggal Publikasi: 16 Juli 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *