Ulos dalam Doa dan Daya: Ketika Kain Menjadi Restu di Pesta Gotilon dan Peresmian Jalan Pendeta I.L. Nommensen
Parlilitan – Humbang Hasundutan Minggu 13 Juli 2025
Dalam budaya Batak, ulos bukan sekadar kain. Ia adalah doa yang ditenun, restu yang dililitkan, dan kasih yang diwariskan. Tradisi ini kembali mengemuka dalam perayaan Pesta Gotilon di HKBP Resort Parlilitan, Kecamatan Parlilitan, Minggu (13/7), saat Bupati Humbang Hasundutan Dr. Oloan P. Nababan dan Sekda Humbahas Christison R. Marbun menerima cenderamata berupa ulos dari para pemimpin gereja.
Momentum pemberian ulos berlangsung selepas ibadah Gotilon dan peresmian Jalan Pendeta I.L. Nommensen—dua agenda sakral yang mempertemukan spiritualitas Batak dan langkah pembangunan daerah. Ulos, dalam konteks ini, bukan hanya bentuk penghormatan kepada pejabat, melainkan perwujudan rasa syukur dan doa agar pemimpin daerah senantiasa diberkati dalam pelayanannya.
Ulos: Antara Simbol dan Spiritualitas
Dalam khazanah adat Batak, setiap ulos membawa makna berbeda. Ada ulos ragidup yang melambangkan kehidupan, bintang maratur sebagai lambang keteraturan dan keharmonisan, serta sibolang yang digunakan dalam seremoni kebesaran. Proses pemberian ulos, atau mangulosi, selalu dilandasi rasa hormat, kasih, dan harapan baik.
“Ulos bukan pemberian kosong. Di dalamnya ada restu orang tua, ada doa dari jemaat, dan ada kasih dari komunitas. Itu sebabnya ulos diberikan dengan upacara dan tidak sembarangan,” ujar seorang tokoh adat yang turut hadir dalam acara Gotilon.
Bagi Bupati Dr. Oloan P. Nababan, ulos yang diselempangkan padanya adalah tanda keterikatan batin antara pemerintah dan masyarakat. “Saya merasa diberkati, dan saya akan terus menjaga kepercayaan ini dalam bekerja untuk rakyat,” ungkapnya dalam sambutannya.
Jejak Ulos dalam Kehidupan Rohani
HKBP sebagai lembaga gereja terbesar di Tanah Batak memelihara nilai budaya dan teologis ulos secara seimbang. Dalam banyak perayaan rohani seperti Gotilon, Natal, maupun peresmian gereja, ulos tampil sebagai elemen pemersatu antara iman dan budaya. Ia menjembatani spiritualitas dengan identitas Batak yang kaya akan simbol dan makna.
Pdt. Salomo Pasaribu, M.Div, Pendeta Resort HKBP Parlilitan, menegaskan bahwa ulos menjadi simbol kehadiran berkat Tuhan di tengah-tengah umat. “Kita bukan hanya bersyukur lewat kata, tetapi juga lewat tindakan kasih dan budaya yang luhur. Ulos adalah salah satu bentuknya.”
Menjaga Warisan, Menata Masa Depan
Di tengah derasnya arus modernisasi, ulos tetap menjadi penanda jati diri Batak. Pemerintah daerah pun didorong untuk turut serta melestarikan industri tenun tradisional dan membuka ruang bagi pengrajin lokal agar terus berkarya. Dalam konteks ini, Pemkab Humbang Hasundutan bisa menjadikan momen seperti Gotilon sebagai wahana promosi budaya dan pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal.
Serial ini akan berlanjut dengan liputan tentang peran tradisi lelang hasil panen dalam dinamika sosial gereja dan masyarakat Batak.
Reporter: Frish H. Silaban
Editor: Tim Redaksi Media Putra Bhayangkara
Serial: Jejak Iman dan Tradisi di Tanah Batak
Tanggal Terbit: 14 Juli 2025
