September 26, 2026

Luhut Dorong Eksplorasi Kemenyan dan Inovasi Enceng Gondok: “Taput Harus Naik Kelas”

Tarutung, Senin 07 Juli 2025

Eksplorasi potensi kemenyan dan pemanfaatan limbah enceng gondok menjadi pupuk organik menjadi sorotan utama dalam Rapat Koordinasi yang dipimpin Ketua Dewan Energi Nasional (DEN) Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan, Senin (07/07/2025). Rapat virtual yang digelar melalui Zoom ini diikuti langsung oleh Bupati Tapanuli Utara Dr. Jonius Taripar Parsaoran Hutabarat, S.Si, M.Si dan Wakil Bupati Dr. Deni Parlindungan Lumbantoruan, M.Eng dari ruang kerja Bupati di Tarutung.

Turut hadir dalam rapat tersebut Dandim 0210/TU Letkol Kav. Ronald Tampubolon, S.H, M.Han, para kepala daerah kawasan Danau Toba seperti Bupati Toba Efendi Napitupulu, Bupati Humbang Hasundutan Oloan Nababan, Bupati Samosir Fandiko Gultom, Direktur Taman Sains Teknologi Herbal dan Hortikultura (TSTH2) Prof. Sri Fatmawati, serta para akademisi dari Universitas Padjadjaran.

Potensi Besar, Produksi Masih Rendah

Dalam paparannya, Bupati Taput mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 1,9 juta batang pohon kemenyan di wilayah Tapanuli Utara. Namun, sebagian besar masih berproduksi rendah, dengan rata-rata hanya 300 gram resin per batang per tahun, dan panen hanya dilakukan sekali dalam setahun.

> “Kami berharap dengan dukungan riset, teknologi, dan bibit unggul, produksi bisa ditingkatkan hingga 500–700 gram per batang dan panen dilakukan dua kali setahun,” ujar Bupati Jonius.

Upaya ini dinilai penting untuk mendorong peningkatan kesejahteraan petani dan memperkuat ekonomi daerah berbasis komoditas unggulan lokal.

Luhut: Harus Dikelola Secara Ilmiah dan Berkelanjutan

Menanggapi hal tersebut, Luhut menegaskan bahwa Indonesia tidak boleh terus-menerus bergantung pada ekspor bahan mentah tanpa nilai tambah.

> “Kemenyan adalah kekayaan lokal, tapi harus dikelola secara ilmiah, berkelanjutan, dan modern. Jangan hanya diskusi. Saya minta riset konkret, bibit unggul harus segera dihasilkan, kalau perlu gandeng lembaga internasional,” tegas Luhut.

Ia juga mendorong sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, dan petani agar program ini benar-benar berdampak langsung ke lapangan.

Kendala Riset, Peluang Budidaya

Perwakilan tim peneliti menyampaikan bahwa hingga kini belum tersedia bibit unggul kemenyan spesifik yang bisa diandalkan. Namun, peningkatan hasil produksi masih sangat mungkin dilakukan melalui perbaikan teknik budidaya, penyadapan, dan perlakuan pertanian yang memicu keluarnya resin secara optimal.

Solusi Enceng Gondok untuk Ekologi dan Ekonomi

Rapat ini juga membahas rencana pengolahan limbah enceng gondok menjadi pupuk organik. Tanaman air yang selama ini dianggap gulma dan merusak ekosistem perairan Danau Toba, akan diolah menjadi produk ramah lingkungan yang dapat meningkatkan nilai tambah ekonomi lokal.

Proyek ini dinilai strategis karena menyentuh dua isu utama sekaligus: pengelolaan lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Langkah Nyata untuk Masa Depan Tapanuli Raya

Sinergi lintas sektor ini diharapkan menjadi titik awal bagi transformasi pengelolaan sumber daya alam di wilayah Tapanuli Raya, dari yang sebelumnya konvensional dan eksploitatif, menuju model ekonomi yang berbasis sains, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Reporter: Frish H. Silaban
Editor: Redaksi MPB
Tanggal Terbit: Senin, 8 Juli 2025
Rubrik: Ekonomi Daerah | Inovasi & Lingkungan

Reporter: Frish. H. Silaban
Editor: Media Putra Bhayangkara (MPB)
Tanggal Publikasi: 07 Juli 2025

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *